Beranda Referensi

Membaca Pemikiran Alexandra Kollontai (3)

158
BERBAGI

BAGIAN III

PEMIKIRAN KOLLONTAI

Alexandra Kollontai 1919

Tentang Sejarah Gerakan Pekerja Perempuan di Russia

(On the History of the Movement of Women Workers in Russia)

Sumber: Alexandra Kollontai: Artikel-artikel dan pidato-pidato, Progress

Publishers, 1984;

Publikasi pertama: dalam A. Kollontai, tentang sejarah gerakan perempuan pekerja rusia, Kharkov 1920, p. 311;

Transkrip oleh: Sally Ryan untuk marxists.org, 2000;

Disetujui dan dikoreksi oleh: Chris Clayton 2006.

Di tahun apa yang dapat dikatakan sebagai tanda dimulainya gerakan perempuan pekerja rusia? Dalam esensinya, gerakan perempuan pekerja tidaklah dapat dipisahkan  dengan gerakan proletar secara keseluruhan.  Pekerja perempuan, sebagai anggota dari kelas proletar , sebagai seseorang yang menjual tenaganya, juga muncul dalam revolusi dengan  para pekerja setiap mereka menentang pelanggaran hak asasi mereka, dan dalam pijakan kaki yang sama dengan buruh lainnya di seluruh pabrik yang berevolusi penuh kebencian kepada tsar.

Awal mula gerakan perempuan pekerja Rusia terjadi bertepatan dengan permulaan tanda-tanda munculnya kebangkitan kesadaran untuk merdeka di kalangan kaum proletar Rusia, dimana gerakan ini, yang pada usaha pertamanya mengalamai berbagai tekanan, serangan dan aksi pemogokan, bertujuan untuk memperbaiki kondisi eksistensi manusia, tidak terhina dan tidak sengsara. Perempuan pekerja berperan aktif dalam pemberontakan pekerja yang terjadi di pabrik Krenholm tahun 1872 dan di pabrik tekstil Lazeryev, Moscow tahun 1874. Pada tahun 1878 mereka turut terlibat dalam aksi pemogokan di perkebunan New Cotton-Spinning di Petrograd dan memimpin aksi mogok buruh tenun pada demonstrasi serikat pekerja di Orekhovo-Zuyevo, dimana berdasarkan sejarah gerakan perempuan pekerja Rusia, demonstrasi yang terkenal ini mampu menghancurkan sejumlah pabrik di tahun 1919. Alhasil, pemerintahan Tsar tergesa-gesa menyusun undang-undang yang isinya melarang perempuan dan anak-anak bekerja di malam hari, dan mulai memberlakukan paksa undang-undang tersebut 3 Juni 1885.

Dapat diprediksi sebelumnya bahwa serangkaian aksi spontan mogok kerja kaum proletar Rusia pada tahun 1870 dan awal 1880 telah mempengaruhi kehidupan industri tekstil, dimana mayoritas pekerjanya adalah buruh murah perempuan. Kerusuhan di sepanjang tahun 1870 dan awal 1880 terjadi murni akibat krisis ekonomi, terpicu oleh tingginya tingkat pengangguran dan krisis industri kapas yang berkepanjangan. Namun, kenyataan bahwa buruh pabrik perempuan yang tertindas- tanpa hak, hidup keras ditempa kerja kasar melebihi batas kemampuan, tidak paham politik, dipandang rendah oleh kalangan perempuan borjuis, dan bahkan tidak disukai oleh petani perempuan yang berpegang teguh pada tradisi lama –  yang justru memimpin perjuangan hak-hak kelas pekerja, khususnya dalam memperjuangkan emansipasi wanita, patut diacungkan jempol. Kondisi hidup susah lah yang mendorong buruh wanita untuk secara terang-terangan melawan kekuasan para majikan dan perbudakan kapital. Akan tetapi, dalam usaha memperjuangkan hak-hak dan kepentingan-kepentingan kelasnya, perempuan pekerja tidak enggan untuk menempuh cara-cara yang kurang bijaksana demi mencapai emansipasi perempuan untuk melepaskan mereka dari belenggu yang memberatkan kaumnya, dan ketimpangan status antara perempuan dan laki-laki pekerja, maupun dalam kerangka kelas pekerja secara luas.

Di saat semakin gencarnya aksi-aksi serikat pekerja di pertengahan dan akhir 1890, sekali lagi perempuan pekerja turut berpartisipasi dan berperan aktif dalam revolusi serikat pekerja. Tahun 1895 terjadi aksi pemberontak April di pabrik Yaroslavl, dan mendapat dukungan kuat dari buruh tenun perempuan. Mereka pun tak kalah aktif dengan para laki-laki pekerja dalam melakukan aksi unjuk rasa perekonomian di St. Petersburg tahun 1894-1895. Di musim panas 1896, St. Petersburg menjadi tonggak bersejarah bagi buruh tekstil, dimana buruh tenun perempuan bersama-sama dengan buruh laki-laki melakukan aksi mogok kerja. Mereka seakan tidak peduli dengan anak-anak mereka yang kelaparan menanti ibunya pulang bekerja, mereka pun tak peduli dengan ancaman seperti dibuang, dikucilkan maupun penjara; hukuman yang menanti mereka setelah aksi mogok selesai dilaksanakan. Bagi perempuan pekerja pada saat itu, kepentingan kelas rakyat lah yang utama, yang lebih suci, melebihi naluri keibuan maupun kepedulian atas kepentingan dan kesejahteraan keluarga!

Pada masa-masa serangan dan aksi-aksi mogok, perempuan pekerja yang awalnya tertekan, canggung dan tak memiliki hak, kini berdiri tegak dan mensetara   kan harkat dan martabatnya sejajar dengan para pejuang. Transformasi ini terjadi secara spontan dan tanpa disadari, namun memiliki dampak penting dan signifikan. Di sini lah awal dari keberangkatan gerakan pekerja memandu gerakan pekerja perempuan dalam usaha pembebasan diri mereka, tak hanya sebagai seseorang yang menjual jasanya, tetapi juga sebagai seorang perempuan, istri, ibu dan ibu rumah tangga.

Di akhir tahun 1890 dan awal abad 20, terjadi sejumlah serangan dan aksi mogok di pabrik yang dilakukan mayoritas oleh buruh perempuan: di pabrik pengolahan tembakau (Shanshai), di pabrik pintal dan tenun (Maxwell) di Petrograd, dan masih banyak lagi. Gerakan kelas pekerja Rusia terus menambah kekuatan dan memperbaiki diri. Hal serupa juga terjadi pada gerakan pemberontak di kalangan perempuan proletar.

Gerakan yang dilakukan sebelum Revolusi Rusia pertama bersifat minim. Slogan-slogan bertajuk politik harus dilakukan sembunyi-sembunyi, atau dikemas dalam bentuk tersembunyi. Insting sehat atas kebersamaan mendorong perempuan pekerja untuk mendukung aksi mogok, dan tak jarang mereka sendiri turut menjalankan aksi “pemberontakan pabrik“. Namun sangat disayangkan,  belum lagi sisa-sisa pengalaman pahit perjuangan hilang, baik menang maupun kalah, secepat itu pula lah para buruh kembali bekerja paska aksi mogok. Sekali lagi perempuan pekerja terisolasi satu sama lain, tidak sadar akan pentingnya organisasi dan kepemimpinan yang stabil. Pada tahun-tahun itu, keberadaan perempuan pekerja dalam partai organisasi ilegal merupakan hal yang luar biasa. Tujuan dan sasaran garis besar partai pekerja sosialis masih belum mampu menangkap perhatian para perempuan pekerja, dan mereka belum responsif terhadap seruan-seruan politik universal.  Kehidupan enam juta perempuan proletar Rusia di awal abad ke-20 masih terlalu gelap, terlalu tidak berarti, dimana eksistensi mereka terbelenggu oleh kelaparan, kemiskinan dan kehinaan. Bekerja sebelas hingga dua belas jam per hari, kelaparan akibat upah minim 12-15 rubel per bulan, tidur di barak-barak sempit, ketiadaan perhatian dan bantuan kesehatan, kehamilan dan pekerjaan dari pemerintah maupun masyarakat, minimnya kemungkinan untuk memperbaiki kualitas hidup melalui organisasi mengingat pemerintahan Tsar menindak kejam setiap usaha serikat pekerja untuk membentuk organisasi dalam bentuk apapun; hal-hal tersebut merupakan gambaran kehidupan sehari-hari perempuan pekerja Rusia. Punggung mereka bungkuk akibat tempaan kerja fisik, dan jiwa mereka pun terlanjur didera oleh kemiskanan dan kelaparan, sehingga menolak untuk percaya akan masa depan yang lebih baik dan kemungkinan untuk menang melawan penindasan kapital dan pemerintahan Tsar.

Di awal abad ke-20, perempuan pekerja cenderung menghindar dari perjuangan politik dan revolusi. Gerakan sosialis Rusia dapat berbangga diri  atas melimpah ruahnya jumlah perempuan mempesona namun perkasa, yang dengan semangat dan tanpa pamrih turut membantu konsolidasi gerakan bawah tanah dan menyiapkan jalan untuk ledakan revolusi yang terjadi pada tahun-tahun mendatang. Namun, diantara perempuan-perempuan tersebut, mulai dari perempuan sosialis angkatan pertama seperti Sofia Bardina atau adik-kakak Leshern yang baik hati dan menawan, sampai Sofia Perovskaya yang berkemauan besi, tak seorang pun mewakili kalangan proletar perempuan Rusia. Mereka adalah perempuan-perempuan muda yang membuat Turgenev mendedikasikan karyanya berjudul “The Treshold“ untuk mereka, merupakan perempuan yang berasal dari keluarga aristrokat kaya, yang kabur dari rumah, meninggalkan asal muasal masa lalunya yang makmur untuk kemudian terjun membantu rakyat, menyebarkan propaganda revolusi dan melawan ketidakadilan sosial, demi menebus ’dosa’ ayah-ayah mereka. Bahkan jauh setelah itu, di tahun 1890an dan di awal abad ke-20 ketika paham Marxis telah mengakar kuat dalam gerakan pekerja Rusia, jumlah perempuan pekerja yang terlibat dalam gerakan tersebut terbilang sangat kecil. Anggota perempuan yang berperan aktif dalam organisasi bawah tanah pada masa-masa tersebut bukanlah perempuan pekerja, tetapi justru perempuan intelek seperti pelajar, guru, asisten medis dan  penulis. Keberadaan “perempuan pabrik“ di pertemuan-pertemuan ilegal adalah hal yang tidak lazim. Mereka pun tak pernah menghadiri misa Minggu malam yang digelar tak jauh di luar perbatasan kota Petrogard, dimana metode terebut merupakan satu-satunya cara legal-karena terletak di daerah aman secara geografis- untuk menyebarluaskan ide-ide Marxis dan paham sosialis di kalangan pekerja secara luas. Perempuan pekerja pada saat itu masih malu-malu berjuang untuk kehidupan layak, memilih untuk menghindari konflik….mereka masih percaya bahwa hak mereka hanyalah sebatas kompor, cucian dan tempat tidur bayi.***

1905 – REVOLUSI PERTAMA

Keadaan berubah drastis begitu tanda-tanda revolusi menghantui Rusia dengan cengkraman mautnya. Tahun revolusi 1905 memberikan terapi syok bagi Sejarah Gerakan Perempuan Pekerja Rusia 1919 lewat volume massa pekerjanya. Untuk pertama kalinya pekerja Rusia baru menyadari bahwa selama ini nasib kekayaan nasional berada di pundak mereka. Perempuan pekerja proletar Rusia, yang merupakan kolaborator utama dalam setiap demonstrasi politik proletar pada masa-masa revolusi tahun 1905-1906, juga seakan baru terbangun dari tidur panjangnya. Jika kita ingin menghubungkan fakta-fakta partisipasi massa perempuan dalam gerakan pada masa itu, mencatat seluruh manifestasi protes dan perjuangan oleh perempuan pekerja, mengingat kembali serangkaian aksi tanpa pamrih para perempuan proletar, kesetiaan mereka terhadap idealisme paham sosialis, maka kita harus merangkai satu adegan per satu adegan dari seluruh kejadian bersejarah revolusi Rusia tahun 1905.

Banyak orang masih mengenang masa-masa revolusi tersebut penuh dengan romantisme. Citra perempuan pekerja, walau belum sempurna, tapi mulai menyatu dengan kehidupan sehari-hari, dengan mata penuh harapan mereka berpidato di pertemuan-pertemuan yang selalu ramai menyebarkan antusiasme tinggi. Wajah mereka penuh dengan energi dan semangat resolusi yang tak tergoyahkan, sering dijumpai dalam barisan prosesi pekerja pada peringatan kejadian bersejarah 9 Januari, Minggu berdarah. Pada Minggu itu, sinar matahari bersinar sangat terang untuk ukuran St. Petersburg, meringankan jalannya prosesi yang muram dan sunyi, menyinari wajah perempuan-perempuan dalam barisan prosesi. Mereka baru menyadari ganjaran yang mereka terima sebagai akibat terlalu naïf dan percaya terhadap sistem yang berlaku selama ini; perempuan pekerja, gadis muda, dan istri pekerja, merupakan sosok umum dari banyaknya korban yg turut serta dalam barisan prosesi pada hari di bulan Januari itu. Perempuan-perempuan ini mengibarkan bendera berslogan “Aksi Mogok Bersama” dari satu pabrik ke pabrik lainnya, apabila hari kemarin mereka belum memiliki kesadaran akan kelas, kini mereka berlomba untuk menjadi orang pertama yang melakukan aksi mogok kerja.

Perempuan pekerja di provinsi-provinsi tidak mau ketinggalan oleh pemimpin mereka di ibu kota. Pada Oktober 1905, letih tiada tara akibat kerja keras dan menahan derita lapar, perempuan-perempuan tersebut meninggalkan pabrik tempat mereka bekerja, dan dengan mengatasnamakan kepentingan bersama membuang sisa roti terakhir milik mereka walau itu berarti anak mereka harus kelaparan…..dan dengan kata-kata yang sederhana namun menyentuh, mereka meminta bos-bos laki-laki mereka untuk ikut meninggalkan pabrik dan mogok bekerja. Inisiatif ini mampu menggenjot semangat para pelaku aksi mogok dan menghembuskan energi positif bagi mereka yang ragu-ragu untuk bertindak. Para perempuan pekerja tersebut bekerja tiada henti, memprotes penuh semangat, mengorbankan kepentingan pribadi mereka tanpa pamrih demi kepentingan dan tujuan bersama, dimana semakin aktifnya mereka, semakin cepat pula proses kesadaran diri mereka terbentuk.

Perempuan pekerja mulai peduli atas apa yang terjadi di dunia sekelilingnya, khususnya mengenai ketidakadilan yang bersumber dari sistem kapitalis. Mereka menjadi semakin sadar akan pahitnya penderitaan dan kepedihan yang mereka alami. Seiring adanya tuntutan-tuntutan umum kelas proletar, terdengar juga kebutuhan-kebutuhan perempuan pekerja yang diserukan nyaring oleh para perempuan pekerja. Sejak masa pemilihan umum sampai periode komisi Shidlovsky bulan Maret 1905, penolakan untuk mengakui perempuan pekerja sebagai delegasi pekerja memancing bisikan-bisikan kesal di antara perempuan, padahal, penderitaan dan pengorbanan yang mereka lakukan telah berhasil menyatukan perempuan dan laki-laki pekerja, menempatkan mereka pada posisi sejajar. Hal tersebut merupakan hasil yang luar biasa mengingat pada masa itu perempuan, baik pejuang maupun rakyat biasa, tidak dapat disamaratakan hak asasinya dengan laki-laki. Ketika komisi Shidlovsky menolak untuk mengakui delegasi perempuan terpilih sebagai satu dari tujuh delegasi perwakilan perusahaan tekstil Sampsoniyevsky, perempuan-perempuan pekerja yang mewakili beberapa perusahaan tekstil lainnya dengan murka mengeluarkan deklarasi sebagai berikut:

“Kami memandang bahwa keputusan untuk tidak memperbolehkan perempuan yang mewakili perempuan pekerja untuk bergabung dalam komisi di bawah kepemimpinan anda (Shidlovsky) adalah tidak adil. Perempuan pekerja mendominasi jumlah pekerja di pabrik penggilingan dan pabrik industri di St. Petersburg. Jumlah perempuan pekerja di parbrik pemintalan dan tenun terus bertambah setiap tahunnya karena para lelaki pindah ke pabrik lain yang menawarkan upah lebih baik. Kami, perempuan pekerja, memikul beban kerja yang lebih berat dan karena ketidakberdayaan dan minimnya hak asasi, kami ditindas dan diupah rendah oleh pimpinan. Ketika komisi baru ini diumumkan, hati kami dipenuhi oleh beribu harapan; akhirnya waktunya telah tiba – kami pikir – dimana perempuan pekerja St. Petersburg atas nama seluruh perempuan pekerja, akhirnya dapat menyuarakan opini dan pendapatnya kepada seluruh Rusia tentang penindasan, kesewenangan dan penghinaan yang selama ini tak pernah dialami laki-laki. Dan kini, ketika kami telah memilih perwakilan komisi, kami diberitahukan bahwa yang dapat menjadi anggota perwakilan komisi hanyalah laki-laki. Kami berharap ini bukanlah keputusan final komisi Shidlovsky……”

Peraturan yang tidak memberikan hak bagi perempuan pekerja untuk menjadi perwakilan komisi serta pengusiran mereka dari kancah politik terang-terangan membuktikan ketidakadilan atas perjuangan yang selama ini dilakukan perempuan pekerja untuk pembebasan kaumnya. Selama periode kampanye, berulangkali mereka menghadiri rapat pra-pemilihan dan dengan gaduh memprotes semua undang-undang yang intinya mencabut hak suara mereka dari keputusan-keputusan penting dalam pemiihan perwakilan parlemen Rusia. Ada saatnya, seperti kejadian di Moscow, dimana perempuan pekerja mendatangi rapat pemilihan, memberhentikan rapat dan memprotes cara dijalankannya proses pemilihan.

Bahwa perempuan pekerja tidak lagi tidak peduli terhadap minimnya hak suara mereka dapat terlihat dari 40,000 orang menandatangani petisi yang dialamatkan kepada First/Second State Duma[1], menuntut agar hak pilih juga diberikan kepada wanita, dimana sebagian besar ditandatangani oleh perempuan pekerja. Pengumpulan tandatangan petisi tersebut diprakarsai oleh Aliansi untuk Kesetaraan Perempuan (Alliance for Female Equality) dan organisasi-organisasi perempuan borjuis lainnya, yang dilakukan di sejumlah pabrik dan perkebunan. Kenyataan bahwa pekerja perempuan bersedia menandatangani petisi yang digagasi oleh kalangan perempuan borjuis menandakan bangkitnya kesadaran untuk memperjuangkan hak-hak mereka, walau pada langkah pertama ini mereka masih harus belajar berjalan tertatih-tatih. Perempuan pekerja memang semakin menyadari minimnya hak politiknya, namun mereka masih tidak mampu menghubungkan fakta tersebut dengan perjuangan yang mereka jalani sehari-hari, tak mampu menemukan jalan terbaik yang dapat membawa mereka menuju kebebasan dan emansipasi dalam bentuk nyata. Perempuan pekerja masih dengan naïf-nya menerima uluran bantuan dari kalangan feminis borjuis. Pencari suara (suffragette) feminis borjuis berusaha memenangkan hati perempuan pekerja dengan harapan mereka akan berpihak padanya, mendapatkan dukungan dan mengarahkan mereka untuk menjadi feminis idealis dan tidak memihak kelas manapun, yang inti sebenarnya adalah menjadikan mereka pendukung aliansi feminis. Namun, insting kelas yang sehat dan rasa tidak percaya yang kuat kepada ’perempuan cantik’ menyelamatkan perempuan pekerja dari godaan untuk tertarik pada feminisme dan mencegah terjalinnya persahabatan erat dengan kalangan pencari suara untuk kaum borjuis.

Tahun 1905 dan 1906 ditandai oleh banyaknya jumlah pekerja perempuan yang semangat menghadiri berbagai pertemuan perempuan. Mereka mendengarkan dengan hati-hati ide-ide pencari suara borjuis, tetapi apa yang ditawarkan tidak memuaskan bagi mereka yang sudah terbiasa diperbudak oleh kapital, maupun mendapatkan tanggapan berarti. Para perempuan kelas pekerja terlanjur letih oleh kondisi kerja yang berlebihan, kelaparan, dan rasa tidak aman secara materi; tuntutan utama mereka adalah: jam kerja yang lebih pendek, upah lebih baik, perlakuan yang lebih humanis dari sisi administrasi pabrik, pengurangan pantauan oleh polisi dan kebebasan lebih untuk beraksi. Semua tuntutan tersebut dirasa asing oleh kalangan borjuis. Para pencari suara melakukan pendekatan kepada perempuan pekerja dengan paham dan aspirasi feminis yang sempit, dan tak dapat memahami tabiat perilaku kebangkitan pergerakan perempuan pekerja. Mereka luar biasa kecewa terhadap kalangan pekeja rumah tangga. Memprakarsai rapat pertama pekerja rumah tangga di St. Petersburg dan Moscow tahun 1905, pencari suara borjouis mendapat tanggapan baik dimana sejumlah besar pekerja rumah tangga menghadiri undangan ini. Namun, ketika Aliansi untuk Kesetaraan Perempuan mencoba untuk mengkoordinir mereka sesuai dengan selera dan kebiasaan kaum borjuis – seperti membentuk aliansi ideal yakni membentuk aliansi gabungan antara nyonya rumah tangga dan pembantu rumah tangga – para pekerja rumah tangga berpaling dan tergesa-gesa bergabung dengan partai kelasnya untuk kemudian membentuk serikat dagang mereka sendiri. Hal ini terjadi di beberapa kota seperti Moscow, Vladimir, Penza, Kharkov dan beberapa kota penting lainnya. Kejadian serupa dialami oleh organisasi politik perempuan lain yang lebih ’kanan’, Partai Progresif Perempuan (The Women’s Progressive Party), yang berusaha mengatur pelayan rumah tangga untuk berada di bawah pengawasan penuh majikannya. Aksi pergerakan perempuan pekerja tak terbendung,  jauh melebihi batasan dan perkiraan kalangan feminis. Sejak 1905, berita mengenai aksi para pekerja rumah tangga berlimpah ruah diliput berbagai surat kabar, bahkan aksi terjun langsung di daerah bagian Rusia yang paling terpencil sekalipun. Aksi-aksi ini dapat berbentuk aksi mogok massa atau demonstrasi di jalan-jalan. Aksi mogok diikuti oleh tukang masak, tukang cuci baju dan pembantu; dimana aksi mogok bisa terbagi berdasarkan profesi maupun aksi yang menyatukan seluruh pekerja rumah tangga. Aksi protes pekerja rumah tangga ini menyebar bagaikan virus infeksi dari satu lokasi ke lokasi lainnya.

Tuntutan para pekerja rumah tangga ini biasanya terbatas pada jam kerja (8 jam per hari), upah minimun, tempat tinggal layak (kamar terpisah), perlakuan sopan dari majikan, dan masih banyak lagi. Kebangkitan perempuan untuk berpolitik ini tidak terbatas di kalangan miskin kota saja. Utuk pertama kalinya di Rusia, petani perempuan Rusia dengan teguh dan persisten menyuarakan pendapatnya. Akhir tahun 1904 dan sepanjang 1905 merupakan periode berlangsungnya ’perlawanan rok dalam’ atau ’petticote rebellions’, dan terhenti oleh meletusnya perang melawan Jepang. Seluruh kejadian mengerikan dan ketidakberdayaan yang dialami, seluruh kepahitan ekonomi dan  sosial yang berakar dari perang terkutuk tersebut memberatkan hidup para petani perempuan, para istri dan para ibu. Peran sebagai pemain cadangan memberikan beban ganda (kerja dan rasa khawatir) pada pundak mereka yang sudah kelebihan beban, dan memaksa mereka – yang hingga kini selalu tergantung dan takut akan segala sesuatu di luar lingkup kepentingan domestiknya – untuk berhadapan langsung dengan kekerasan dan untuk selalu sadar atas penghinaan dan ketidakberdayaannya, hingga titik darah penghabisan menderita dan disalahgunakan haknya… Buta huruf dan teraniaya, petani perempuan meninggalkan rumah dan desa mereka untuk pertama kali dalam hidupnya, bergegas menuju kantor pemerintahan demi mencari informasi atas keberadaan suami, anak atau ayah mereka, untuk mencari pertolongan finansial sekaligus membela kepentingan mereka…. Tak adanya hak hidup layak, kebohongan dan ketidakadilan sistem sosial yang berlaku, terlihat jelas di wajah para petani perempuan yang kebingungan…Mereka kembali dari pusat kota sadar, terluka dan keras hati, dengan memikul pahit, benci dan amarah di hati mereka….

Di musim panas 1905, serangkaian ’petticoat rebellions’ pecah di Rusia utara. Dengan penuh rasa marah dan keberanian yang mengejutkan, perempuan petani menyerang kantor pusat militer dan kantor pusat polisi untuk kemudian menculik kerabat laki-laki mereka dan membawa mereka pulang. Dengan bersenjatakan sekop, sapu dan pacul, petani perempuan berhasil mengusir tentara bersenjata dari kampung mereka. Mereka memprotes keadaan perang yang menyakitkan dengan cara mereka sendiri. Petani-petani perempuan tersebut tentu saja kemudian ditahan, diganjar hukuman berat, namun aksi ’petticoat rebellions’ terus berlanjut. Pada aksi protes ini, kepentingan petani dan kepentingan ’keperempuanan’ saling bersentuhan karena memang tak ada dasar untuk memisahkan satu sama lainnya, dan mengkelaskan ’petticoat rebellions’ sebagai bagian dari gerakan feminis.

Setelah demonstrasi politik yang dilakukan oleh para petani perempuan, kemudian muncul serangkaian ‘perlawanan rok dalam’ atau ’petticoat rebellions’ yang tergerak oleh alasan ekonomi. Perode itu merupakan masa-masa resah petani seluruh sedunia dan aksi demo di bidang agrikultur. Perlawanan ’rok dalam’ sering menggagasi kericuhan ini, menarik para lelaki untuk turut bergabubg dengan mereka. Apabila mereka gagal menarik para lelaki, tak jarang gerakan perlawanan perempuan ini berjalan sendiri menuju rumah-rumah bangsawan borjuis untuk menyuarakan tuntutan dan memberikan ultimatum. Mensenjatai diri dengan barang apapun yang tersedia, mereka mendahului para lelaki untuk memutuskan diri dari hukuman hidup. Petani perempuan yang teraniaya, ditekan ratusan tahun, tiba-tiba menjadi pemeran utama dalam drama politik Rusia.

Selama revolusi berlangsung, petani perempuan selalu bersanding bersama-sama dengan kerabat pria mereka dalam menjaga dan membela kepentingan-kepentingan petani, dan dengan luar biasa bijaksana dan sensitif hanya menyuarakan kebutuhan eksklusif perempuan apabila tidak membahayakan kepentingan petani secara keseluruhan. Hal ini tidak berarti petani perempuan mengabaikan atau tidak peduli akan kebutuhannya sebagai perempuan. Malah sebaliknya, kehadiran petani perempuan di arena politik dan partisipasi mereka dalam jumlah besar dalam perjuangan proletar, justru membangkitkan dan mengembangkan kesadaran atas sisi feminine mereka. Pada bulan November 1905, petani perempuan propinsi Voronezh mengirimkan dua dari perwakilannya untuk hadir di kongres petani dengan instruksi khusus agar mereka menuntut hak-hak politik dan kebebasan perempuan dalam basis yang setara dengan laki-laki.[2]

Populasi petani perempuan Caucasus membela hak-hak mereka dengan teguh. Petani Perempuan Guria pada pertemuan di propinsi Kutaisi menuntut resolusi persamaan hak politik antara perempuan dengan laki-laki. Pada pertemuan di kota-kota besar maupun di pinggiran kota, para delegasi yang mewakili warga lokal, termasuk perempuan Georgia, menuntut hak-hak mereka sebagai perempuan.

Sembari menuntut kesetaraan hak politik, petani perempuan secara alami selalu menyuarakan pendapat mengenai kepentingan-kepentingan ekonomi mereka; seperti permasalahan pembagian tanah yang sangat dikhawatirkan oleh baik petani perempuan maupun petani laki-laki. Di beberapa daerah, petani perempuan yang pada awalnya mendukung keputusan pemerintah untuk menyita kepemilikan tanah pribadi, mulai menyurutkan dukungan ketika muncul pertanyaan apakah perempuan akan dilibatkan dalam menentukan besarnya pembagian tanah.

“Jika kepemilikan tanah pribadi akan diambil alih dan disita dari pemilik tanah dan hanya akan diberikan kepada laki-laki, maka perempuan benar-benar sudah diperbudak” para perempuan berargumentasi kesal. “Saat ini setidaknya kami dapat menghasilkan sedikit uang hasil jerih payah kami sendiri dari bertani, dan jika pemerintah hanya akan memberikan tanah kepada laki-laki, hal ini berarti perempuan memperkerjakan dirinya untuk laki-laki”. Namun ketakutan para petani perempuan tersebut tidak terwujud, dimana kalkulasi sederhana ekonomi  mengharuskan perserikatan petani menutut pemerintah untuk juga memberikan tanah kepada perempuan. Kepentingan antara petani laki dan perempuan saling berkaitan erat dimana para lelaki, dalam usahanya memperkuat perjanjian-perjanjian pertanian untuk kepentingannya sendiri, secara otomatis turut memperjuangkan kepentingan ekonomi rekan petani perempuan mereka.

Seiring usaha mereka memperjuangkan kepentingan politik dan ekonominya, petani perempuan juga belajar untuk membela hak dan kepentingan mereka sebagai seorang perempuan. Hal serupa terjadi pada pekerja perempuan; partisipasi mereka dalam keseluruhan gerakan kebebasan bahkan melebihi perjuangan petani perempuan, yakni menyiapkan dan mengatur opini publik agar setuju dan mendukung ide persamaan hak perempuan. Gagasan atas persamaan hak asasi perempuan yang kini sudah diterapkan di Rusia, disebarkan ke masyarakat bukan oleh usaha heroik perempuan secara individu, bukan juga oleh perjuangan kaum borjuis feminis, tetapi lebih dikarenakan oleh banyaknya jumlah massa petani dan pekerja perempuan yang merebak pada revolusi Rusia pertama tahun 1905.

Di tahun 1909, sebuah buku berjudul “The Social Basis of The Women’s Question” menyerukan dukungannya kepada petani perempuan dan menegaskan ketidaksepakatannya terhadap kaum feminis borjuis: “Jika petani perempuan berhasil memperbaiki keadaan domestik, ekonomi dan posisi hukumnya dalam waktu dekat ini, maka keberhasilan itu semata-mata merupakan  buah dari rasa kesatuan demokrasi para petani yang bertujuan untuk memenuhi tuntutan-tuntutan kepentingan petani, yang satu sama lain akan terus terdengar dalam lingkungan pergaulan petani”. “Jika petani perempuan berhasil membebaskan kaumnya dari kungkungan organisasi agraris yang berkuasa saat ini, maka mereka akan mencapai keberhasilan jauh melebihi apa yang seluruh organisasi kaum feminis borjuis mampu berikan”.

Kalimat-kalimat tersebut ditulis puluhan tahun yang lalu, namun kini telah terbukti kebenarannya. Revolusi Besar Oktober tak hanya mampu memenuhi kebutuhan dasar seluruh petani (perempuan dan laki-laki) dimana pemerintah mengembalikan kepemilikan tanah kepada mereka yang mengolahnya, tetapi juga menempatkan petani perempuan pada posisi terhormat sebagai warna negara yang bebas, sederajat harkat dan martabatnya di seluruh aspek kehidupan, walau hingga kini masih diperbudak oleh metode bertani kuno dan tekanan sosial seperti tradisi dan adat istiadat keluarga.

Apa yang hanya merupakan mimpi bagi petani dan pekerja perempuan di awal revolusi Rusia pertama tahun 1905, kini telah terealisasi dalam kehidupan nyata oleh Revolusi Besar Oktober tahun 1917. Perempuan Rusia berhasil mendapatkan persamaan hak politiknya. Namun mereka tak boleh lupa, bahwa keberhasilan ini dapat tercapai bukan dihasilkan oleh kerjasama dengan pencari suara borjuis, melainkan oleh rasa persatuan dan kesatuan saat berjuang bersama dengan pemimpin kelas pekerja mereka.***


[1] State Duma adalah parlemen terendah dalam jenjang pemerintahan Rusia. Berdasarkan Konstitusi Rusia tahun  1993 terdapat 450 perwakilan di dalamnya (Pasal 95), dimana masing-masing terpilih untuk masa kerja empat tahun (Pasal 96). Usia minimum bagi warga Negara Rusia untuk dapat menjadi perwakilan di State Duma adalah 21 tahun (Pasal 97). Sumber www.economicexpert.com (keterangan, ditambahkan oleh penyunting)

[2] Tuntutan diminta oleh petani perempuan dari propinsi Voronezh dan Tver kepada First State Duma dan juga oleh petani perempuan dari desa Nogatkino yang dikirimkan melalui telegram kepada wakil Aladyn. Bunyi tuntutan tersebut adalah sebagai berikut: “Pada kesempatan yang indah …, kami, petani perempuan dari desa Nogatkino, menyambut baik wakil-wakil terpilih yang telah menyuarakan ketidakyakinan mereka atas pemerintahan, dan kami menuntut agar pemerintahan ini mundur. Kami berharap para wakil rakyat yang didukung oleh rakyat untuk memberikan kebebasan dan hak tanah kepada rakyat, membuka pintu penjara dan membebaskan rakyat yang telah berjuang untuk kebebasan dan kesejahteraannya, dan agar mereka dapat memperjuangkan hak sipil dan hak politik baik untuk mereka sendiri maupun untuk kami, perempuan Rusia, yang tidak memiliki hak bahkan di dalam keluarga kami sekalipun. Ingatlah bahwa budak perempuan tidak dapat menjadi ibu dari seorang warga Negara ‘bebas’”. (Tertanda, juru bicara perempuan untuk 75 perempuan Nogatkino).***

Komentar Via Facebook

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here