Rekam Jejak Kemitraan & Program

HAPSARI memiliki pengalaman panjang bekerja bersama komunitas perempuan akar rumput yang menjadi basis keanggotaannya. Juga bersama pemerintah, jaringan masyarakat sipil, lembaga donor, perguruan tinggi, sektor swasta, dan mitra pembangunan. Kemitraan tersebut dibangun dalam berbagai isu: kepemimpinan perempuan, pendidikan kritis, pemberdayaan ekonomi, perlindungan perempuan dan anak, ketahanan iklim dan pangan, GESI, pengawasan publik, serta advokasi kebijakan.

Bagi HAPSARI, kemitraan bukan sekadar dukungan kegiatan. Kemitraan adalah cara memperluas dampak kerja komunitas, memperkuat pengetahuan dari lapangan, dan memastikan pengalaman perempuan akar rumput masuk ke ruang kebijakan, layanan publik, dan agenda pembangunan.

Rekam jejak ini menunjukkan bahwa HAPSARI mampu menghubungkan kerja akar rumput dengan agenda strategis pemerintah, donor, perguruan tinggi, organisasi masyarakat sipil, dan mitra pembangunan, tanpa kehilangan keberpihakan pada perempuan akar rumput.

Arah Kemitraan HAPSARI

Kemitraan HAPSARI dikembangkan dengan prinsip saling menghormati, berbasis pembelajaran, dan berorientasi pada perubahan yang dapat dirasakan komunitas. Dalam setiap kerja sama, HAPSARI berupaya menjaga tiga posisi penting: sebagai organisasi perempuan berbasis anggota, sebagai pengembang model pemberdayaan berbasis komunitas, dan sebagai penghubung antara pengalaman perempuan akar rumput dengan kebijakan publik.

  • Memperkuat kepemimpinan dan partisipasi perempuan akar rumput dalam keluarga, komunitas, desa/kelurahan, dan ruang kebijakan.
  • Mengembangkan model perubahan berbasis komunitas melalui pendidikan kritis, pengorganisasian, kaderisasi, dan pendampingan.
  • Membangun kolaborasi lintas pihak untuk perlindungan perempuan dan anak, ketahanan iklim dan pangan, pemberdayaan ekonomi, GESI, serta akuntabilitas publik.
  • Mendokumentasikan praktik baik dan pembelajaran lapangan sebagai kontribusi HAPSARI bagi produksi pengetahuan publik.

Kekuatan Utama Kemitraan HAPSARI

1. Berakar pada komunitas perempuan

HAPSARI bekerja dari pengalaman perempuan akar rumput. Karena itu, kerja sama yang dibangun tidak berhenti pada pelatihan atau kegiatan administratif, tetapi diarahkan untuk memperkuat kelompok, kader, fasilitator komunitas, dan kepemimpinan perempuan.

2. Mampu mengelola isu lintas sektor

Rekam jejak HAPSARI menunjukkan kemampuan bekerja pada isu yang saling terkait: kekerasan terhadap perempuan dan anak, ketahanan pangan, iklim, ekonomi perempuan, stunting, pengawasan publik, GESI, dan tata kelola desa/daerah.

3. Menjembatani komunitas dan kebijakan

HAPSARI memiliki pengalaman membangun dialog dengan pemerintah desa, kabupaten, provinsi, kementerian/lembaga, perguruan tinggi, jaringan masyarakat sipil, dan donor. Pengalaman ini penting untuk memastikan aspirasi perempuan akar rumput tidak berhenti di ruang komunitas, tetapi dapat masuk ke proses kebijakan dan layanan publik.

4.  Menghasilkan praktik baik dan pengetahuan

Setiap kemitraan tidak hanya menghasilkan kegiatan, tetapi juga pembelajaran: model, modul, kader, praktik baik, data pengalaman, cerita perubahan, dan rekomendasi kebijakan. Ini menjadi modal penting untuk replikasi kontekstual dan penguatan kerja ke depan.

Contoh Nilai Tambah Kemitraan

Dalam kerja ketahanan iklim dan pangan bersama Ford Foundation dan mitra lokal, HAPSARI mengembangkan Kampung NUSA dan Rumah NUSA sebagai model ketahanan pangan keluarga berbasis perempuan. Dalam laporan tahunan 2023, HAPSARI mencatat pengembangan Kampung NUSA di 27 desa pada 5 kabupaten, 150 Rumah NUSA, 7 Peraturan Desa, 150 kader perempuan penggerak Rumah NUSA, serta kolaborasi lintas sedikitnya 15 institusi/lembaga.

Dalam kerja KELAPA MUDA bersama DP3AKB Provinsi Sumatera Utara, HAPSARI memperkuat pendidikan kritis perempuan akar rumput melalui kelas belajar komunitas, fasilitator desa, dan dialog warga. Pengalaman ini menunjukkan bahwa konsep yang lahir dari HAPSARI dapat bekerja dalam kemitraan dengan pemerintah daerah, sekaligus tetap berakar pada kebutuhan komunitas.

Dalam kerja antikorupsi bersama Transparency International Indonesia, HAPSARI memperluas pendekatan pendidikan warga melalui pemantauan pengadaan barang/jasa dan audit sosial. Isu transparansi dibaca tidak hanya sebagai persoalan prosedur, tetapi juga sebagai jalan memastikan layanan publik lebih adil bagi perempuan, anak, dan kelompok rentan.

Arah Kemitraan ke Depan

Ke depan, HAPSARI terbuka membangun kemitraan yang memperkuat kerja-kerja strategis organisasi, terutama pada empat payung program: Pendidikan Kritis Perempuan, Perlindungan Perempuan dan Anak, Ketahanan Iklim dan Pangan, serta Pemberdayaan Ekonomi Perempuan.

  • Pemerintah daerah dan kementerian/lembaga untuk penguatan kebijakan, layanan, D/KRPPA, RBI, stunting, perlindungan perempuan dan anak, serta tata kelola yang inklusif.
  • Perguruan tinggi untuk riset aksi, pengabdian masyarakat, pengembangan modul, dokumentasi praktik baik, dan produksi pengetahuan berbasis komunitas.
  • Donor dan mitra pembangunan untuk memperkuat model pemberdayaan perempuan akar rumput, collective care, ketahanan iklim-pangan, dan akuntabilitas publik.
  • CSR dan sektor swasta untuk pemberdayaan ekonomi perempuan, literasi ekonomi, penguatan produk komunitas, legalitas usaha, dan akses pasar.
  • Jaringan masyarakat sipil dan media untuk advokasi, kampanye publik, perlindungan pembela HAM perempuan, serta perluasan suara perempuan akar rumput.

Berikut catatan Rekam Jejak Kemitraan dan Program HAPSARI dalam beberapa tahun terakhir:

2025–2026 — Yayasan HUMANIS Jakarta
Kampung NUSA: Collective Care, Kepemimpinan Perempuan, dan Advokasi Perubahan Struktural Berbasis Komunitas di Sumatera Utara.

2025 — Stichting SNV Netherlands Development Organisation
Penyedia jasa layanan pelatihan Kesetaraan Gender, Inklusi Sosial, dan Pemberdayaan Ekonomi Perempuan Kepada 2000 Petani Sawit Swadaya dalam proyek HORAS Smallholder Hub di Sumatera Utara.

2024 — Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI
Bimbingan teknis pemberdayaan ekonomi bagi perempuan rentan melalui kewirausahaan berperspektif gender.

2023–2024 — Transparency International Indonesia (TII)
Pemantauan audit sosial dalam pengadaan barang dan jasa publik, termasuk penguatan partisipasi warga dan kaum muda dalam pengawasan layanan publik.

2023–2024 — USAID ERAT – LP3ES Jakarta
Dukungan percepatan penurunan stunting di Provinsi Sumatera Utara, Kabupaten Mandailing Natal, dan Kabupaten Samosir.

2022–2023 — Ford Foundation
Pembangunan strategi ketahanan iklim dan pangan keluarga melalui pengembangan Kampung NUSA dan Rumah NUSA di Sumatera Utara.

2021–2024 — Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana Provinsi Sumatera Utara
Program KELAPA MUDA: pemberdayaan perempuan akar rumput melalui pendidikan kritis di bidang sosial, budaya, ekonomi, politik, dan hukum.

2020–2024 — MAMPU–DFAT dan Forum Pengada Layanan (FPL)
Pemulihan transformatif bagi perempuan korban kekerasan: dari inisiatif komunitas menjadi tanggung jawab negara.

2020 — Ford Foundation melalui INFID
Panduan kesehatan mental, edukasi pencegahan COVID-19, dan pencegahan kekerasan berbasis gender untuk kelompok rentan.

2019–2020 — Pundi Perempuan – Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa)
Advokasi penanganan kasus pelecehan seksual oleh dosen FISIP USU Medan.

2018–2019 — Ford Foundation
Peningkatan kapasitas perempuan akar rumput dalam kepemimpinan, komunikasi, partisipasi, dan akses terhadap sumber daya alam serta anggaran pemerintah.

Penutup

Bagi HAPSARI, kemitraan yang baik adalah kemitraan yang memperkuat komunitas, menjaga martabat perempuan, membuka ruang belajar bersama, dan menghasilkan perubahan yang dapat dirasakan warga. HAPSARI percaya bahwa kerja kolaboratif yang berakar pada pengalaman perempuan akar rumput dapat menjadi jalan penting untuk membangun kebijakan, layanan, dan pembangunan yang lebih adil.***