Kongres Kedua

Ucapan Selamat untuk Kongres Kedua HAPSARI, dari Solidaritas Perempuan Deli Serdang.
Ucapan Selamat untuk Kongres Kedua HAPSARI, dari Solidaritas Perempuan Deli Serdang.

Menguatkan Akar, Merawat Demokrasi Gerakan

Kongres Kedua HAPSARI berlangsung pada 18-21 Desember 2004 di Desa Sukasari, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai. Tiga tahun setelah Kongres Pertama HAPSARI pada 2001 menetapkan bentuk federasi, Kongres Kedua menjadi ruang penting untuk memeriksa apakah bentuk organisasi baru itu benar-benar hidup di tangan anggota.

Bagi HAPSARI, Kongres Kedua bukan sekadar forum laporan pertanggungjawaban atau pergantian kepengurusan. Ia menjadi ruang untuk menguatkan akar gerakan, memperbaiki cara kerja organisasi, dan memastikan bahwa perempuan akar rumput tidak hanya menjadi peserta, tetapi menjadi pemimpin, pengambil keputusan, dan penjaga arah perjuangan.

Kongres ini juga menandai tahap baru dalam perjalanan HAPSARI: dari fase kelahiran federasi menuju fase penguatan organisasi. Jika Kongres Pertama adalah momen meleburkan pengalaman Yayasan HAPSARI dan Serikat Perempuan Independen (SPI) Sumatera Utara ke dalam satu rumah gerakan bersama, maka Kongres Kedua adalah saat untuk menguji apakah rumah itu cukup kuat, cukup demokratis, dan cukup dekat dengan kehidupan perempuan di komunitas.

Pulang ke Sukasari: Menguatkan Akar Gerakan

Pemilihan Desa Sukasari sebagai tempat Kongres Kedua memiliki makna historis yang kuat. Di desa inilah HAPSARI pertama kali berakar. Dari Sukasari pula perempuan-perempuan seperti Lely Zailani, Neni Dwiani, Sudartik, Salem dan Umiati memulai langkah pengorganisasian dengan mendirikan Sanggar Belajar Anak bernama “Harapan Desa Sukasari” yang kelak tumbuh menjadi gerakan perempuan akar rumput di Sumatera Utara.

Lely Zailani, dalam fase ketika harus jalan kaki dari rumah ke rumah anggota, sambil menenteng mesin tik yang dipinjam dari kantor Desa Sukasari.
Lely Zailani, dalam fase ketika harus jalan kaki dari rumah ke rumah anggota, sambil menenteng mesin tik yang dipinjam dari kantor Desa Sukasari.

Dengan kembali ke Sukasari, HAPSARI seperti pulang ke rumah asalnya. Kongres tidak ditempatkan di hotel, gedung besar, atau ruang pertemuan yang jauh dari kehidupan anggota. Kongres justru dilaksanakan di tengah desa, di tempat gerakan ini pertama kali belajar tumbuh, berbicara, dan menemukan keberanian.

Seluruh peserta tinggal di rumah-rumah penduduk desa. Mereka menyatu dengan kehidupan warga, berbagi ruang tidur, berbagi makanan, dan merasakan kembali bahwa organisasi ini lahir bukan dari kantor, melainkan dari rumah-rumah warga, dari percakapan sehari-hari, dari dapur, kebun, ladang, dan halaman rumah perempuan.

Arena Kongres berada di tanah lapang sepak bola Desa Sukasari. Tempat ini sederhana, tetapi penuh makna. Di lapangan terbuka itu, perempuan akar rumput berkumpul, bersidang, berdebat, menyusun keputusan, dan memperlihatkan bahwa demokrasi organisasi dapat tumbuh di ruang yang sangat dekat dengan kehidupan komunitas.

Makanan peserta disiapkan secara gotong royong. Warga dari berbagai dusun bergiliran menyediakan nasi bungkus untuk peserta Kongres. Kepala Desa waktu itu—Kartimin, yang menggerakkan dukungan dari warga. Praktik sederhana ini memperlihatkan bahwa Kongres bukan hanya urusan pengurus organisasi, tetapi juga menjadi peristiwa sosial yang dirawat oleh komunitas.

Peserta dan Representasi Anggota

Sebanyak 45 peserta hadir dalam Kongres Kedua HAPSARI. Mereka mewakili serikat-serikat anggota dan organisasi perempuan yang menjadi bagian dari federasi. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa HAPSARI sedang membangun organisasi berbasis anggota, bukan organisasi yang bergerak hanya dari sekretariat pusat.

Peserta Kongres Kedua mewakili:

  • SPI Deli Serdang dan Serdang Bedagai (dalam satu kepengurusan);
  • Serikat Perempuan Petani dan Nelayan (SPPN) Serdang Bedagai;
  • SPI Labuhanbatu;
  • SPI Simalungun;
  • Komunitas Solidaritas Perempuan (SP) Deli Serdang;
  • Perserikatan OWA Palembang.

Komposisi peserta ini penting dicatat karena memperlihatkan bahwa HAPSARI sedang mempraktikkan bentuk federasi: ada serikat-serikat perempuan di wilayah, ada komunitas perempuan, dan ada organisasi anggota yang membawa pengalaman masing-masing ke dalam ruang pengambilan keputusan bersama.

Kongres sebagai Sekolah Kepemimpinan

Riani, dari SPI Deli Serdang (anggota) HAPSARI untuk pertama kali menjadi pimpinan sidang dalam rapat formal; Kongres HAPSARI.
Riani, dari SPI Deli Serdang dan Sutini dari SPI Labuhanbatu (anggota) HAPSARI untuk pertama kali menjadi pimpinan sidang dalam rapat formal; Kongres HAPSARI.

Salah satu hal penting dalam Kongres Kedua adalah proses belajar memimpin sidang. Untuk pertama kalinya, tujuh kader perempuan bergantian memimpin sidang pleno. Mereka tidak semuanya sudah terbiasa dengan tata tertib persidangan, bahasa organisasi, atau prosedur pengambilan keputusan.

Ada yang masih canggung. Ada yang mengetuk palu sebelum keputusan diambil. Ada yang lupa membuka atau menutup sidang dengan benar. Namun, bagi HAPSARI, justru di situlah letak pembelajarannya. Kongres menjadi sekolah kepemimpinan yang nyata: perempuan belajar memimpin bukan setelah sempurna, tetapi dengan diberi ruang untuk mencoba, salah, diperbaiki, dan terus dipercaya.

Pengalaman ini menjadi bagian penting dari cara HAPSARI membangun kepemimpinan perempuan akar rumput. Kepemimpinan tidak hanya diajarkan melalui pelatihan, tetapi dipraktikkan langsung dalam forum organisasi. Perempuan belajar memimpin rapat, mengatur giliran bicara, mendengar perbedaan pendapat, mengambil keputusan, dan menjaga agar forum tetap berjalan.

Di Kongres Kedua, demokrasi internal tidak berhenti pada hak hadir atau hak memilih. Demokrasi mulai dipraktikkan sebagai kesempatan bagi perempuan untuk memimpin proses, mengelola forum, dan memegang tanggung jawab organisasi di hadapan anggota.

Refleksi dan Pertanggungjawaban Organisasi

Siti Ansyura (kiri) memoimpin sidang dalam Kongres HAPSARI, didampingi oleh Doris Pandjaitan, sahabat (kakak) dari Jakarta.
Siti Ansyura (kiri) memoimpin sidang dalam Kongres HAPSARI, didampingi oleh Doris Pandjaitan, sahabat (kakak) dari Jakarta.

Kongres Kedua juga menjadi ruang refleksi yang serius. Laporan Pertanggungjawaban Program dan Keuangan dari Ketua Dewan Eksekutif HAPSARI dibahas secara terbuka. Setiap serikat menggelar Rapat Komisi untuk mempelajari laporan tersebut, mendiskusikannya, lalu menyampaikan tanggapan secara resmi di forum Kongres.

Proses ini menjadi penanda penting dalam budaya organisasi HAPSARI. Pertanggungjawaban tidak hanya dibacakan dari pengurus kepada peserta. Ia dibahas, dipertanyakan, ditanggapi, dan diterima melalui mekanisme anggota. Dengan cara ini, HAPSARI sedang membangun tradisi bahwa organisasi harus dapat dipertanggungjawabkan kepada perempuan yang menjadi dasar gerakannya.

Bagi gerakan perempuan akar rumput, praktik seperti ini penting. Ia melatih anggota untuk membaca laporan, memahami penggunaan sumber daya, menilai arah program, dan menyampaikan sikap secara kolektif. Dari proses seperti inilah akuntabilitas organisasi tumbuh, bukan sebagai istilah administratif, tetapi sebagai kebiasaan politik di dalam gerakan.

Arah Strategis HAPSARI Periode 2005-2007

Dari hasil evaluasi Kongres Kedua, HAPSARI menetapkan tujuan strategis dan program pokok untuk periode 2005-2007. Periode kepengurusan kedua disepakati berlangsung selama tiga tahun, yaitu 2005-2007.

Tujuan strategis yang ditetapkan Kongres Kedua adalah:

  1. Mendidik perempuan anggota agar memahami politik dengan perspektif perempuan sebagai sarana untuk perubahan sosial, ekonomi, politik, dan hukum yang adil.
  2. Memperkuat serikat-serikat anggota agar lebih mandiri dan independen.
  3. Memberdayakan anggota untuk menyelesaikan persoalan ketidakadilan sosial dalam keluarga dan masyarakat.
  4. Meningkatkan ekonomi anggota serikat agar lebih mandiri.
  5. Melestarikan lingkungan hidup sesuai dengan kepentingan perempuan.
  6. Mensosialisasikan politik perspektif perempuan kepada masyarakat luas.

Tujuan strategis ini menunjukkan bahwa HAPSARI tidak memisahkan kerja politik, ekonomi, hukum, keluarga, lingkungan hidup, dan pendidikan anggota. Semua isu itu dibaca dari pengalaman perempuan akar rumput: dari kehidupan rumah tangga, kerja produksi, relasi sosial, sumber daya alam, hingga ruang kebijakan.

Program pokok HAPSARI untuk periode 2005-2007 adalah:

  1. Pemberdayaan Politik Perempuan.
  2. Penguatan Pengurus Organisasi Perempuan.
  3. Pemberdayaan Anggota.
  4. Peningkatan Ekonomi Anggota.
  5. Pelestarian Lingkungan Hidup.
  6. Sosialisasi Hak Asasi Perempuan dan Anti Kekerasan Berbasis Gender.

Rangkaian program ini memperlihatkan arah gerakan HAPSARI pada masa itu: memperkuat perempuan sebagai warga politik, memperkuat organisasi anggota, membangun kemandirian ekonomi, menjaga lingkungan hidup, serta melawan kekerasan berbasis gender. Arah ini menjadi fondasi penting bagi perkembangan HAPSARI pada periode-periode berikutnya.

Kepemimpinan dan Pelaksana Harian

Kongres Kedua juga menetapkan kepemimpinan untuk periode 2005-2007. Dalam periode ini, HAPSARI menetapkan seorang Ketua Pelaksana Harian, yaitu Zulfa Suja, yang selama ini aktif dalam keanggotaan SPI Deli Serdang-Serdang Bedagai.

Penetapan Pelaksana Harian menunjukkan kebutuhan organisasi untuk memperkuat kerja harian federasi. Setelah bentuk federasi ditetapkan pada Kongres Pertama, HAPSARI membutuhkan mekanisme kerja yang lebih jelas agar keputusan Kongres, program organisasi, dan kebutuhan anggota dapat dijalankan secara lebih teratur.

Kehadiran Zulfa Suja dalam posisi ini juga penting secara historis. Ia berasal dari pengalaman organisasi anggota HAPSARI dan menjadi bagian dari proses panjang kaderisasi perempuan akar rumput. Dengan demikian, kepemimpinan HAPSARI terus bergerak dari pengalaman komunitas menuju tanggung jawab organisasi yang lebih luas.

Kongres sebagai Peristiwa Komunitas

Pementasan Teater Perempuan oleh SPI (anggota HAPSARI) sebagai cara 'bersuara kritis' bagi perempuan akar rumput di HAPSARI.
Pementasan Teater Perempuan oleh SPI (anggota HAPSARI) sebagai cara ‘bersuara kritis’ bagi perempuan akar rumput di HAPSARI.

Kongres Kedua tidak hanya berlangsung dalam ruang sidang. Di sekelilingnya, berbagai kegiatan pendukung digelar dan melibatkan warga desa. Ada perlombaan kebersihan dan keindahan antar dusun, pawai peserta Kongres mengelilingi jalan-jalan utama desa, pameran organisasi dan bunga, serta pementasan Teater Perempuan SPI.

Kegiatan-kegiatan ini memperlihatkan cara HAPSARI membangun organisasi yang dekat dengan komunitas. Kongres tidak dibuat tertutup dan jauh dari warga. Ia menjadi peristiwa bersama, tempat masyarakat melihat bahwa perempuan dapat berkumpul, memimpin sidang, berpawai, berpentas, dan menyampaikan pesan perubahan di ruang publik.

Pementasan Teater Perempuan oleh SPI juga menjadi bagian penting dari tradisi HAPSARI. Melalui teater, pengalaman perempuan tidak hanya dibicarakan dalam laporan atau pidato, tetapi dihadirkan melalui tubuh, cerita, suara, dan keberanian tampil. Teater menjadi bahasa gerakan yang dapat menjangkau warga secara langsung.

Jejaring dan Solidaritas

Pelantikan Pengurus baru HAPSARI periode 2005 - 2007, di Wisma Juang Perbaungan
Pelantikan Pengurus baru HAPSARI periode 2005 – 2007, di Wisma Juang Perbaungan

Di sela-sela kesibukan Kongres, HAPSARI kedatangan tamu dari Jakarta, yaitu Doris Pandjaitan. Saat Pelantikan Kepengurusan baru yang dilaksanakan tanggal 22 Desember 2014 di Gedung Wisma Juang milik pemerintah kecamatan Perbaungan, hadir pula Arimbi Heroepoetri, S.H, aktifis lingkungan dari Jakarta. Arimbi menjadi salah satu Narasumber dalam seminar sebelum pelantikan, yang bicara tentang Hak Perempuan Berorganisasi.

Bagi HAPSARI, jejaring bukan sekadar hubungan antarorganisasi. Jejaring adalah ruang saling belajar, saling menguatkan, dan saling menjaga agar gerakan perempuan akar rumput tidak berjalan sendirian. Dukungan seperti ini memperlihatkan bahwa perjuangan di desa-desa Sumatera Utara terhubung dengan percakapan dan solidaritas yang lebih luas.

Makna Kongres Kedua bagi HAPSARI

Kongres Kedua HAPSARI menjadi tonggak penting dalam fase penguatan organisasi. Jika Kongres Pertama menandai kelahiran federasi, maka Kongres Kedua memperlihatkan bagaimana federasi itu mulai dipraktikkan: melalui pertanggungjawaban anggota, sidang pleno, rapat komisi, kepemimpinan kader, kerja gotong royong, dan keterlibatan komunitas.

Di Desa Sukasari, HAPSARI belajar bahwa akar gerakan tidak boleh ditinggalkan. Organisasi boleh berkembang, menjangkau wilayah yang lebih luas, dan membangun jejaring yang lebih besar. Namun kekuatan utamanya tetap berada pada perempuan-perempuan di komunitas yang berani belajar, memimpin, merawat solidaritas, dan menuntut perubahan.

Kongres Kedua juga memperlihatkan bahwa kepemimpinan perempuan akar rumput dibangun melalui proses yang sabar. Ia tidak lahir dari penunjukan semata, tetapi dari latihan memimpin sidang, membaca laporan, menyampaikan pendapat, menghadapi rasa canggung, dan tetap diberi ruang untuk tumbuh.

Melalui Kongres Kedua, HAPSARI menegaskan kembali bahwa gerakan perempuan akar rumput tidak hanya berbicara tentang perubahan di luar organisasi. Ia juga membangun perubahan di dalam dirinya sendiri: memperkuat akuntabilitas, membagi ruang kepemimpinan, menghidupkan partisipasi anggota, dan memastikan bahwa organisasi tetap kembali kepada akar yang melahirkannya.

Dari Sukasari, HAPSARI memperbarui komitmen untuk terus bergerak bersama perempuan akar rumput: memperkuat organisasi, membangun kemandirian, melawan kekerasan, membaca politik dari pengalaman perempuan, merawat lingkungan hidup, dan menggalang perubahan yang tumbuh dari bawah.***