PEMBERDAYAAN EKONOMI PEREMPUAN

Memperkuat kemandirian ekonomi perempuan akar rumput melalui literasi ekonomi, pengembangan usaha, legalitas, produk komunitas, dan akses pasar.

Mengapa Program Ini Penting?

Bagi HAPSARI, pemberdayaan ekonomi perempuan tidak hanya berarti meningkatkan pendapatan. Pemberdayaan ekonomi juga menyangkut posisi tawar perempuan dalam keluarga, komunitas, kelompok usaha, dan ruang pengambilan keputusan.

Dalam banyak keluarga, perempuan terlibat dalam mengelola ekonomi rumah tangga, tetapi keputusan penting terkait aset, modal, usaha, penggunaan hasil usaha, dan arah pengembangan ekonomi keluarga masih sering tidak sepenuhnya berada di tangan perempuan. Karena itu, HAPSARI mengembangkan pemberdayaan ekonomi dengan perspektif gender: memperkuat kapasitas usaha sekaligus memperkuat keberanian, pengetahuan, kepemimpinan, dan posisi tawar perempuan.

Di komunitas akar rumput, ekonomi perempuan juga tidak dapat dilepaskan dari kerja perawatan, ketahanan pangan keluarga, akses terhadap sumber daya, perubahan iklim, dan layanan publik. Perempuan tidak hanya membutuhkan keterampilan produksi, tetapi juga kemampuan membaca peluang, menghitung risiko, menyusun rencana usaha, mengelola keuangan, bernegosiasi, dan membangun jejaring dukungan.

Pendekatan HAPSARI

HAPSARI memperkuat ekonomi perempuan melalui pelatihan literasi ekonomi berperspektif gender, pengembangan kelompok usaha, pendampingan UMKM, penguatan kelembagaan ekonomi komunitas, dan fasilitasi akses terhadap legalitas serta pasar.

Materi yang dikembangkan mencakup pengelolaan keuangan keluarga, konsep menabung, pembedaan kebutuhan dan keinginan, perencanaan usaha dengan Business Model Canvas (BMC), analisis usaha sederhana melalui SWOT, pengembangan strategi produk, pemasaran, dan digitalisasi usaha. Pendekatan BMC dipelajari dan dikembangkan HAPSARI pertama kali tahun 2021 melalui kerja sama dengan Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara, termasuk dengan Guru Besar Prof. Ritha Dalimunte.

HAPSARI juga memfasilitasi pengurusan legalitas usaha, seperti Nomor Induk Berusaha (NIB), PIRT, dan sertifikasi halal melalui kerja sama dengan dinas terkait, perguruan tinggi, dan jaringan pendukung lainnya. Legalitas dipahami bukan sekadar syarat administratif, tetapi jalan untuk memperluas kepercayaan pasar, akses kemitraan, dan perlindungan bagi usaha perempuan.

Dari Literasi Ekonomi ke Kepemimpinan Perempuan

Dalam kerja HAPSARI, literasi ekonomi tidak berhenti pada kemampuan mencatat uang masuk dan uang keluar. Literasi ekonomi juga membantu perempuan memahami nilai kerja mereka, membaca ketimpangan dalam pembagian beban rumah tangga, mengenali potensi sumber daya lokal, dan mengambil keputusan ekonomi secara lebih percaya diri.

Salah satu praktik baik yang penting untuk dicatat adalah pelatihan literasi ekonomi dan perencanaan pengembangan bisnis bagi 300 perempuan petani sawit. Melalui proses ini, perempuan tidak hanya belajar tentang perencanaan usaha, tetapi juga membaca posisi mereka dalam ekonomi keluarga, kelompok, dan rantai nilai komoditas. Pengalaman ini menunjukkan bahwa pemberdayaan ekonomi perempuan dapat masuk ke sektor-sektor yang selama ini dianggap lebih dekat dengan kerja laki-laki, seperti perkebunan dan produksi pertanian.

Bagi HAPSARI, penguatan ekonomi perempuan petani sawit menjadi penting karena perempuan sering terlibat dalam kerja kebun, pengelolaan rumah tangga, dan keberlangsungan ekonomi keluarga, tetapi jarang diakui sebagai pengambil keputusan ekonomi. Pelatihan literasi ekonomi membantu mereka menyusun rencana, menghitung potensi, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta membangun keberanian untuk terlibat dalam keputusan usaha dan kelompok.

Produk Komunitas dan Akses Pasar

Beberapa produk komunitas mulai dikembangkan sebagai bagian dari pemberdayaan ekonomi perempuan. Salah satunya adalah REMPAH NUSA – Rempah Seduh Nusantara, minuman rempah hasil hilirisasi dari praktik Rumah NUSA. Produk ini menunjukkan bahwa tanaman pangan, obat keluarga, dan rempah yang tumbuh di sekitar rumah dapat dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi tanpa melepaskan akar komunitasnya.

HAPSARI juga mengembangkan gagasan Warung NUSA bersama Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara sebagai ruang ekonomi komunitas yang ke depan diharapkan dapat menggunakan bahan baku dari Rumah NUSA dan produk lokal warga. Selain itu, HAPSARI memfasilitasi pelatihan keterampilan berbasis sumber daya lokal, seperti ecoenzyme, ecobrick, pengolahan rempah, serta pengembangan produk bernilai ekonomi lainnya.

Dalam kerja sama dengan Universitas Negeri Medan pada 2023, HAPSARI terlibat dalam kegiatan pemberdayaan perempuan dalam pemanfaatan tanaman rempah menjadi minuman tradisional di Desa Sei Buluh, Kecamatan Teluk Mengkudu, Kabupaten Serdang Bedagai. Kegiatan ini melatih 20 perempuan dari komunitas perempuan anggota HAPSARI dan PKK Desa Sei Buluh untuk mengolah tanaman rempah menjadi produk minuman tradisional yang berpotensi dikembangkan sebagai inovasi lokal.

Untuk memperluas akses pasar, HAPSARI mendorong digitalisasi UMKM dan pemasaran produk komunitas, termasuk melalui kerja sama dengan perguruan tinggi dan jejaring akademisi. Digitalisasi dipahami sebagai alat untuk memperluas pasar, tetapi tetap perlu disertai pendampingan agar perempuan memahami kualitas produk, kemasan, pencatatan, harga, dan komunikasi pasar.

Ekonomi, Pemulihan, dan Ketahanan Keluarga

Pemberdayaan ekonomi juga menjadi bagian dari pemulihan perempuan korban dan penyintas kekerasan. Dalam kerja sama dengan Forum Pengada Layanan (FPL), HAPSARI pernah mendukung perempuan korban/penyintas KDRT melalui pendampingan, konseling, bantuan modal usaha, pelatihan UMKM, dan penguatan Rumah NUSA sebagai bagian dari ketahanan pangan keluarga.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa pemulihan korban tidak dapat dilepaskan dari dukungan ekonomi, rasa aman, dan keberlanjutan hidup sehari-hari. Ketika perempuan penyintas memiliki dukungan psikologis, keterampilan, modal awal, dan sumber pangan keluarga, mereka memiliki peluang lebih besar untuk membangun kembali kehidupan secara lebih mandiri dan bermartabat.

Dengan demikian, pemberdayaan ekonomi HAPSARI tidak berdiri terpisah dari agenda perlindungan perempuan, collective care, ketahanan pangan, dan kepemimpinan perempuan. Ia menjadi bagian dari ekosistem kerja HAPSARI untuk memperkuat perempuan akar rumput secara utuh.

Praktik Baik yang Dapat Dipelajari

  • Pemberdayaan ekonomi perlu dimulai dari literasi ekonomi yang dekat dengan pengalaman perempuan, bukan hanya dari pelatihan produksi.
  • Perencanaan usaha perlu dikaitkan dengan posisi tawar perempuan dalam keluarga, kelompok, dan komunitas.
  • Produk lokal seperti rempah, pangan keluarga, dan hasil Rumah NUSA dapat menjadi pintu masuk ekonomi komunitas yang berakar pada sumber daya lokal.
  • Legalitas usaha, kemasan, pemasaran, dan digitalisasi penting, tetapi harus didampingi agar tidak menjadi beban administratif baru bagi perempuan.
  • Pemberdayaan ekonomi bagi perempuan korban/penyintas perlu dikaitkan dengan pemulihan, rasa aman, dukungan komunitas, dan keberlanjutan hidup.
  • Kemitraan dengan perguruan tinggi, dinas terkait, CSR, sektor swasta, dan mitra pembangunan dapat memperkuat kapasitas teknis, akses pasar, dan keberlanjutan program.

Nilai Strategis bagi Kemitraan

Bagi pemerintah daerah, program ini dapat mendukung pemberdayaan ekonomi perempuan, penguatan UMKM komunitas, ketahanan pangan keluarga, dan peningkatan partisipasi perempuan dalam pembangunan ekonomi lokal. Bagi perguruan tinggi, program ini dapat menjadi ruang pengabdian masyarakat, riset aksi, dan pengembangan inovasi sosial berbasis komunitas.

Bagi CSR, sektor swasta, dan mitra pembangunan, pemberdayaan ekonomi perempuan bersama HAPSARI menawarkan model yang tidak hanya mengejar peningkatan pendapatan, tetapi juga memperkuat kepemimpinan, literasi ekonomi, legalitas usaha, akses pasar, dan kemandirian komunitas. Model ini dapat dikembangkan secara kontekstual sesuai potensi lokal dan kebutuhan perempuan di masing-masing wilayah.

Arah Pengembangan

Ke depan, HAPSARI ingin memperkuat pemberdayaan ekonomi perempuan melalui literasi ekonomi berperspektif gender, penguatan kelompok usaha, pendampingan legalitas produk, digitalisasi pemasaran, pengembangan produk lokal, dan kemitraan dengan pemerintah, perguruan tinggi, sektor swasta, CSR, serta mitra pembangunan.

HAPSARI juga akan terus menghubungkan pemberdayaan ekonomi dengan Rumah NUSA, ketahanan pangan keluarga, perlindungan perempuan, dan pendidikan kritis perempuan akar rumput. Dengan cara ini, ekonomi perempuan tidak berhenti sebagai kerja produksi, tetapi menjadi jalan untuk memperkuat kemandirian, kepemimpinan, dan kemampuan perempuan akar rumput mengambil keputusan atas hidup, keluarga, dan komunitasnya.***

Pelajari juga kerja HAPSARI terkait pemberdayaan ekonomi: