Kongres Pertama

Foto bersama peserta Kongres Pertama HAPSARI (Balai Benih Deli Serdang)
Foto bersama peserta Kongres Pertama HAPSARI (Balai Benih Deli Serdang)

Kongres Pertama HAPSARI bukan sekadar peristiwa administratif dalam perjalanan organisasi. Kongres ini menjadi titik penting ketika perempuan akar rumput di Sumatera Utara menata ulang rumah gerakannya sendiri.

Setelah fase lahir dan berjalannya Serikat Perempuan Independen (SPI) Sumatera Utara, HAPSARI memasuki proses evaluasi organisasi yang mendalam. Pengalaman SPI memperlihatkan bahwa perempuan akar rumput memiliki keberanian dan kemampuan untuk berorganisasi, memimpin, merespons persoalan anggota, dan mengambil keputusan. Namun, pengalaman itu juga menunjukkan bahwa gerakan membutuhkan bentuk kelembagaan yang lebih kuat, lebih demokratis, dan lebih mampu menghubungkan berbagai energi perempuan di komunitas.

Dalam sejarah HAPSARI, Kongres Pertama menjadi penanda lahirnya organisasi perempuan akar rumput yang lebih berbasis anggota. Perempuan tidak lagi ditempatkan sebagai penerima manfaat atau “kelompok dampingan”, melainkan sebagai pemilik organisasi, pengurus, pengambil keputusan, dan penentu arah gerakan.

Jalan Menuju Kongres Pertama

Sebelum Kongres Pertama, HAPSARI telah melewati beberapa fase penting: membangun kelompok-kelompok perempuan akar rumput, melahirkan SPI Sumatera Utara sebagai organisasi perempuan akar rumput, lalu mendampingi perjalanan awal SPI selama dua tahun.

Fase SPI Sumatera Utara menjadi dasar sejarah yang sangat penting. Dari sana HAPSARI belajar bahwa organisasi perempuan akar rumput tidak cukup hanya dibangun dengan semangat. Ia membutuhkan struktur, mekanisme, pembagian peran, ruang pertanggungjawaban, serta kepemimpinan yang tumbuh dari anggota sendiri.

Pengalaman itu membawa HAPSARI pada satu kesadaran: bentuk organisasi lama perlu ditinjau ulang. Yayasan HAPSARI dan SPI Sumatera Utara memiliki sejarah dan peran yang saling terhubung, tetapi secara kelembagaan berjalan dalam struktur yang terpisah. Sementara itu, persoalan perempuan akar rumput—kekerasan, diskriminasi, beban ekonomi, stigma terhadap perempuan yang berorganisasi, dan kebutuhan pendampingan anggota—menuntut respons yang cepat, jelas, dan bertanggung jawab.

Dari sinilah kebutuhan untuk mengevaluasi bentuk organisasi menjadi semakin mendesak.

Ketegangan Pertumbuhan: Gerakan Belajar Membagi Kuasa

Perjalanan SPI menjadi masa belajar yang penting bagi HAPSARI. Pada fase ini, perempuan akar rumput mulai mengurus organisasi sendiri, mengambil keputusan, merespons persoalan anggota, dan membangun kepemimpinan di wilayah masing-masing. Namun, proses itu tidak berlangsung tanpa ketegangan.

Sebagai organisasi baru, SPI masih membutuhkan dukungan kapasitas, pendampingan, dan sumber daya. Pada saat yang sama, Yayasan HAPSARI juga sedang belajar melepaskan posisi sebagai pusat pengorganisasian, agar perempuan akar rumput benar-benar memiliki ruang untuk memimpin organisasinya sendiri.

Di titik inilah muncul dinamika yang tidak sederhana: antara kebutuhan merespons cepat persoalan anggota, kebutuhan memperkuat kepemimpinan serikat, dan kebutuhan membangun mekanisme kerja yang lebih jelas antara Yayasan HAPSARI dan SPI.

Pada fase yang sama, dinamika juga muncul di antara kader-kader muda HAPSARI dan kader-kader SPI yang tumbuh dari komunitas perempuan desa. Sebagian kader muda HAPSARI yang selama ini bekerja dalam koordinasi yayasan mulai mengalami perubahan posisi. Mereka telah tumbuh dengan kesadaran kritis, mulai berjejaring dengan aktivis perempuan di tingkat Sumatera Utara bahkan nasional, dan terbiasa mengambil peran dalam kerja-kerja pengorganisasian.

Namun, ketika SPI mulai mengambil ruang sebagai organisasi perempuan akar rumput, para kader muda itu juga harus berhadapan dengan kenyataan baru: ruang kepemimpinan tidak lagi sepenuhnya berada dalam koordinasi yayasan. Perempuan-perempuan desa yang sebelumnya mereka organisir kini mulai tampil sebagai pengurus, pengambil keputusan, dan pemilik mandat organisasi.

Dinamika ini tentu tidak selalu mudah. Ada rasa kehilangan peran, ada ketegangan dalam membagi ruang, dan ada proses belajar yang tidak sederhana antara kader muda HAPSARI dan kader SPI. Tetapi bagi HAPSARI, ketegangan itu bukan semata-mata persoalan personal. Ia adalah bagian dari pertumbuhan gerakan: ketika kesadaran kritis, kepemimpinan perempuan akar rumput, dan kebutuhan membangun organisasi yang demokratis bertemu dalam satu proses yang sama.

Dari pengalaman itulah HAPSARI belajar bahwa gerakan perempuan akar rumput tidak cukup hanya melahirkan kader yang berani bicara. Gerakan juga harus membangun mekanisme agar kuasa tidak berhenti pada segelintir orang, agar kader muda tidak menggantikan posisi elite lama, dan agar perempuan akar rumput benar-benar memperoleh ruang untuk memimpin organisasinya sendiri.

Karena itu, evaluasi organisasi menjadi penting. Evaluasi tidak dilakukan untuk mencari siapa yang salah, tetapi untuk membaca ulang hubungan kuasa di dalam gerakan, memperjelas mandat, dan menemukan bentuk kelembagaan yang memungkinkan semua energi gerakan bertemu dalam satu rumah bersama.

Lokakarya Evaluasi Pembangunan Desain Organisasi

Kesadaran bahwa bentuk organisasi perlu ditinjau ulang membawa HAPSARI pada proses penting: Lokakarya Evaluasi Pembangunan Desain Organisasi. Proses ini difasilitasi oleh Mira Diarsi, aktivis perempuan senior dari Jakarta, dan Ayi Bunyamin, aktivis pergerakan senior dari Jakarta.

Keduanya memandu proses dengan kesabaran dan pemahaman yang kuat terhadap dinamika perempuan akar rumput. Lokakarya ini tidak hanya membahas struktur organisasi, tetapi juga membaca ulang hubungan antara Yayasan HAPSARI, SPI Sumatera Utara, kader muda, pengurus serikat, anggota komunitas, dan mandat gerakan yang sedang tumbuh.

Lokakarya ini semula dirancang berlangsung tiga hari. Namun, pembahasan tentang masa depan organisasi ternyata membutuhkan waktu lebih panjang. Fasilitator menyampaikan bahwa proses belum cukup matang untuk ditutup. Peserta pun menyepakati penambahan waktu dua hari. Dengan demikian, lokakarya yang dirancang tiga hari akhirnya menjadi lima hari.

Ujian Pertama: Negosiasi dari Rumah ke Ruang Gerakan

Ketika Lokakarya Evaluasi Pembangunan Desain Organisasi harus diperpanjang dari tiga hari menjadi lima hari, keputusan itu menjadi ujian penting bagi para perempuan akar rumput yang terlibat di dalamnya.

Bagi peserta, menambah dua hari bukan sekadar urusan teknis agenda. Sebagian besar dari mereka adalah ibu yang datang dari desa, meninggalkan anak-anak, rumah, pekerjaan domestik, dan keluarga dengan izin awal hanya tiga hari. Dalam diskusi itu, para peserta menyadari bahwa proses membangun organisasi perempuan tidak boleh dimulai dengan meninggalkan luka baru di rumah. Mereka tidak ingin keluarga merasa ditinggalkan, dizalimi, atau diposisikan sebagai pihak yang dikalahkan. Namun, mereka juga tidak ingin mundur dari ruang belajar dan pengambilan keputusan yang sedang mereka bangun sendiri.

Karena itu, keputusan untuk pulang sebentar, menemui anak-anak, berbicara dengan suami dan keluarga, lalu kembali lagi ke lokakarya, menjadi ujian pertama gerakan perempuan akar rumput HAPSARI: apakah perempuan mampu melakukan negosiasi yang tidak menundukkan dirinya, tetapi juga tidak menjadikan keluarga sebagai musuh.

Prinsip yang dijaga saat itu adalah menang-menang. Keluarga tetap dihormati, tetapi perempuan juga memenangkan haknya untuk belajar, berorganisasi, dan menentukan masa depan gerakannya.

Bagi HAPSARI, malam menunggu apakah para peserta akan kembali menjadi saat yang sangat mendebarkan. Rasanya seperti menunggu kabar dari dukun beranak: apakah bayi yang sedang dilahirkan akan selamat. Dan keesokan harinya, satu per satu peserta kembali datang. Mereka kembali bukan karena dipaksa, tetapi karena telah berhasil memenangkan negosiasi pertamanya. Ketika semua peserta akhirnya kembali, mereka saling berpelukan.

Di situlah HAPSARI belajar bahwa gerakan perempuan akar rumput tidak lahir dari teori besar semata. Ia lahir dari keberanian perempuan melewati ambang rumahnya sendiri, bernegosiasi dengan orang-orang terdekat, lalu kembali ke ruang bersama untuk membangun masa depan organisasi.

Dari Pengalaman SPI Menuju Gagasan Federasi

Pengalaman SPI menjadi sekolah organisasi bagi perempuan akar rumput. Di dalamnya, perempuan belajar bahwa gerakan tidak cukup hanya memiliki keberanian. Gerakan membutuhkan struktur, mekanisme, pembagian peran, ruang pertanggungjawaban, dan kepemimpinan yang tumbuh dari anggota sendiri.

Dari pengalaman itu, HAPSARI memahami bahwa bentuk organisasi harus mampu menjaga dua hal sekaligus: kemandirian serikat-serikat perempuan di wilayahnya dan keterhubungan dalam satu rumah gerakan bersama. Dari pelajaran inilah gagasan federasi menemukan pijakannya.

Evaluasi tidak dilakukan untuk menilai bahwa kelahiran SPI adalah kesalahan. Sebaliknya, evaluasi dilakukan karena pengalaman SPI telah membuka pelajaran penting: perempuan akar rumput mampu berorganisasi, tetapi gerakan membutuhkan bentuk kelembagaan yang lebih kuat, lebih demokratis, dan lebih terhubung.

Melalui analisis bersama tentang kekuatan dan kelemahan bentuk organisasi yang ada, HAPSARI menyadari bahwa bentuk unitaris tidak lagi cukup. Yayasan HAPSARI dan SPI Sumatera Utara memiliki struktur, mekanisme, dan mandat yang terpisah. Dalam praktiknya, pemisahan ini membuat koordinasi menjadi panjang, sementara persoalan anggota menuntut respons cepat.

Di sisi lain, serikat-serikat perempuan membutuhkan ruang kepemimpinan yang mandiri, bukan kembali menjadi kelompok yang dikendalikan dari pusat. Karena itu, pilihan federasi menjadi jalan yang paling sesuai.

Dengan bentuk federasi, serikat-serikat perempuan tingkat kabupaten dapat menjadi anggota organisasi, tetap memiliki ruang kemandirian, tetapi juga terhubung dalam satu rumah bersama. Sumber daya, pengalaman, jaringan, dan kapasitas yang dimiliki HAPSARI dapat menjadi sumber daya bersama, bukan milik satu struktur yang berdiri di atas struktur lain.

Pilihan federasi juga menunjukkan posisi politik organisasi: HAPSARI tidak ingin menjadi lembaga yang mendampingi perempuan akar rumput dari luar. HAPSARI ingin menjadi organisasi yang dimiliki, dijalankan, dan dipimpin oleh perempuan akar rumput melalui serikat-serikat anggotanya.

Kongres Pertama: Melebur Menjadi Federasi

Kongres Pertama HAPSARI dilaksanakan pada 8-10 November 2001 di Balai Benih Lubuk Pakam, Deli Serdang. Melalui kongres ini, Yayasan HAPSARI dan Serikat Perempuan Independen (SPI) Sumatera Utara melebur menjadi organisasi baru berbentuk federasi.

Nama yang disepakati saat itu adalah HAPSARI — Federasi Himpunan Serikat Perempuan Merdeka, disingkat HAPSARI-FSPM.

Melalui Kongres Pertama, keanggotaan federasi ditetapkan berasal dari serikat-serikat perempuan tingkat kabupaten dan organisasi perempuan yang menjadi bagian dari proses pembentukan. Anggota awal HAPSARI-FSPM antara lain SPI Deli Serdang, SPI Labuhanbatu, SPI Simalungun, Komunitas Solidaritas Perempuan Deli Serdang, dan Perserikatan OWA Palembang.

Kongres Pertama juga memilih dan menetapkan Dewan Eksekutif Federasi untuk periode 2001-2004. Lely Zailani terpilih sebagai Ketua, Mardiana dari SPI Deli Serdang sebagai Sekretaris, dan Rusmiani Saragih dari SPI Simalungun sebagai Bendahara.

Selain itu, dibentuk Dewan Perwakilan Anggota yang merupakan utusan dari serikat-serikat anggota HAPSARI-FSPM. Kehadiran Dewan Perwakilan Anggota menjadi penting karena federasi tidak hanya membutuhkan kepengurusan harian, tetapi juga ruang representasi anggota dari berbagai wilayah.

Dengan keputusan ini, Kongres Pertama menjadi titik penting dalam sejarah HAPSARI. Ia bukan hanya menetapkan nama dan struktur baru, tetapi juga mengukuhkan bahwa perempuan akar rumput adalah pemilik organisasi. Kongres menjadi ruang resmi untuk menegaskan bentuk demokrasi internal, kepemimpinan bersama, dan mandat membangun gerakan perempuan akar rumput di Sumatera Utara.

Deklarasi di Pendopo USU: Perempuan Akar Rumput Mengambil Panggung

Setelah Kongres Pertama di Lubuk Pakam, HAPSARI-FSPM dideklarasikan pada 11 November 2001 di Pendopo Universitas Sumatera Utara, Medan. Pemilihan Pendopo USU atas dukungan seorang akademisi—Asimayanti Siahaan—memiliki makna tersendiri. HAPSARI ingin menyampaikan keberadaan perempuan akar rumput di ruang yang selama ini identik dengan dunia intelektual, kampus, dan orang-orang berpendidikan. Perempuan akar rumput datang bukan sebagai objek yang dibicarakan, tetapi sebagai subjek yang berbicara dari pengalaman hidupnya sendiri.

Deklarasi tersebut dihadiri sekitar 200 peserta, termasuk anggota SPI Deli Serdang, SPI Labuhanbatu, SPI Simalungun, dan SPI Langkat. Hadir pula undangan dari berbagai organisasi massa di Sumatera Utara, kelompok buruh, nelayan, pelajar, mahasiswa, organisasi non-pemerintah, seniman, kalangan pers, serta 12 orang peninjau dari Jakarta, Lombok, dan Aceh.

Pendopo USU dipilih juga karena adanya dukungan dari Ibu Asima Yanti Siahaan, dosen Universitas Sumatera Utara, yang membantu mengurus izin penggunaan tempat deklarasi.

Acara deklarasi diisi dengan diskusi bertema “Membangun Organisasi Perempuan yang Demokratis dan Mandiri.” Diskusi ini menghadirkan Zohra Andi Baso dari Makassar dan Lena Simanjuntak Mertes dari Forum Köln-Jerman sebagai narasumber, dengan Ade Indriani dari OWA Palembang sebagai moderator.

Pada acara yang sama, Teater Perempuan HAPSARI mementaskan pertunjukan berjudul “Jalanku.” Pementasan ini menjadi bagian dari cara HAPSARI menyuarakan pengalaman perempuan akar rumput melalui seni, tubuh, cerita, dan keberanian tampil di ruang publik.

Bagi HAPSARI, teater bukan sekadar pertunjukan. Ia adalah cara perempuan membaca hidupnya sendiri, menyusun bahasa bersama, dan menyampaikan pesan perubahan kepada publik.

Makna Kongres Pertama bagi HAPSARI

Kongres Pertama HAPSARI adalah salah satu tonggak terpenting dalam sejarah organisasi. Melalui Kongres ini, HAPSARI menemukan bentuk yang lebih sesuai dengan pengalaman dan kebutuhan perempuan akar rumput: bentuk federasi yang memberi ruang bagi serikat-serikat perempuan untuk mandiri, tetapi tetap terhubung dalam satu gerakan bersama.

Makna Kongres Pertama tidak berhenti pada perubahan struktur. Ia menunjukkan bahwa gerakan perempuan akar rumput HAPSARI tidak lahir dari slogan besar, tetapi dari praktik yang sangat konkret. Perempuan belajar mengenali ketidakadilan, membentuk kelompok, melahirkan serikat, menghadapi stigma, mengurus kasus, bernegosiasi dengan keluarga, mengevaluasi organisasi, memilih bentuk kelembagaan, dan menetapkan kepemimpinan.

Dari proses itulah HAPSARI membangun demokrasi internalnya. Demokrasi bukan hanya prosedur memilih pengurus, tetapi proses panjang berbagi kuasa, mendengar suara anggota, memperbaiki mekanisme kerja, dan menjaga agar organisasi tetap berakar pada perempuan yang menjadi dasar gerakannya.

Kongres Pertama juga mengajarkan bahwa gerakan perempuan akar rumput membutuhkan keberanian ganda: keberanian menghadapi ketidakadilan di luar rumah, dan keberanian mengubah relasi kuasa di dalam kehidupan terdekat.

Gerakan itu lahir dari dapur, rumah, kebun, ladang, jalan desa, ruang rapat sederhana, dan pelukan perempuan-perempuan yang kembali setelah memenangkan negosiasi pertamanya.

Dari Kongres Pertama inilah HAPSARI mulai menegaskan dirinya sebagai organisasi perempuan akar rumput yang tidak hanya bergerak untuk perempuan, tetapi dibangun, dimiliki, dan dipimpin oleh perempuan akar rumput sendiri.***