Beranda Dinamika Gerakan

Inisiatif Lokal di Kulon Progo

300
BERBAGI
menerima delegasi-1
Lely Zailain, Ketua HAPSARI menyambut Helena Viau Political Counsellor Canada untuk Indonesia

Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) berlangsung sudah. Mau tak mau, suka tidak suka. Selain terus  mengkritisi, kitapun harus bertindak mempersiapkan diri. Inilah yang dilakukan HAPSARI bersama komunitas perempuan anggotanya di wilayah kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dalam kurun waktu empat (4) bulan sejak Nopember 2015 hingga Februari 2016, HAPSARI mendapat dukungan untuk programPenguatan kapasitas kelompok perempuan petani dalam meningkatkan daya saing dan nilai tambah produk lokal (kopi) di pasar globaldari Kedutaan Besar Kanada di Jakarta, untuk program Canada Fund Local Initiative (CFLI).

Program ini bertujuan memperkuat kapasitas kelompok perempuan petani dengan mengorganisir 30 orang perempuan petani kopi dari serikat perempuan anggota HAPSARI. Mengembangkan pengetahuan mereka tentang diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA 2015) dan memperkuat kelembagaan koperasi sebagai basis ekonomi untuk memenangkan persaingan bisnis perempuan petani kecil dalam era pasar bebas.

Ketua HAPSARI, Wakil Bupati Kulon Progo dan Duta Besar Kanada Menikmati Kopi Suroloyo
Ketua HAPSARI, Wakil Bupati Kulon Progo dan Duta Besar Kanada Menikmati Kopi Suroloyo

Proyek ini memberikan pelatihan untuk peningkatan daya saing dan nilai tambah produk pertanian (kopi) yang dikelola oleh kelompok, juga membangun dialog dan kerjasama dengan pemerintah daerah untuk akses kebijakan investasi,  peningkatan teknologi yang efisien, dan jaringan pemasaran global.

Beberapa kegiatan program yang dilakukan adalah :

  1. Serangkaian seminar dan lokakarya untuk sekelompok petani perempuan sebanyak 30 orang dengan topic :
    • Kebijakan dan agenda Pemerintah Indonesia dalam Memperkuat produktivitas kelembagaan dan Koperasi menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN;
    • Meningkatkan Produktivitas Produk (kopi) Pasca Panen;
    • Pelatihan aplikasi bisnis elektronik untuk usaha kecil dan menengah
      (UKM) dan koperasi; dan
    • Menyelenggarakanpameran, promosi danperluasan jaringanpemasaran.
  2. Pembelian peralatan untuk meningkatkan kualitas kopi lokal berkembang untuk ekspor pasar, seperti mesin kopi, penggiling kopi, aluminium foil, stiker dan kemasan.

Seluruh hasil proyek telah terpenuhi, yaitu :

  1. Peningkatan kapasitas petani perempuan untuk mengembangkan usaha produksi kopi  melalui Koperasi.
    • Sebagai contoh, saat ini kelompok perempuan petani kopi di Suroloyo sedang mengembangkan demplot perkebunan kopi dengan sistim penanaman dan perawatan yang kebih baik dari sebelumnya (mengatur jarak tanam, mengatur jenis tanaman pelindung yang baik, memupuk dengan pupuk kandang dan pada waktu panen, hanya memetik biji kopi yang telah matang).

      IMG_3377
      Produk Kopi dan Teh yang dikelola Perempuan Anggota Koperasi HAPSARI
  2. Peningkatan pengetahuan tentang tantangan, iklim usaha, infrastruktur/konektivitas,
    dan pemasaran untuk memfasilitasi pembangunan pertanian kopi lebih kompetitif ;

    • Pasca pelatihan peningkatan produktifitas pengolahan kopi yang dilakukan dalam kegiatan ini telah membuat anggota kelompok menerapkan sistim “petik merah” ketika panen kopi (mereka tidak lagi memetik biji-biji kopi yang belum cukup matang, seperti sebelumnya), mereka melakukan penyortiran biji-biji kopi untuk mendapatkan kualitas green beans dengan harga yang baik, melakukan penyangraian dan mengemas dalam kemasan yang berkualitas dan menarik.
  3. Daya saing yang lebih besar dari kelompok-kelompok petani kecil untuk memasarkan dan menjual produk mereka di pasar domestik dan global.
    • Dengan sistim panen petik merah, Koperasi Hapsari bersedia membeli hasil panen kopi dari kelompok sebesar Rp.50.000/kg dibanding harga pasar yang hanya Rp.15.000,- untuk jenis kopi yang dipanen dengan petik sembarangan.
    • Saat ini, Koperasi Hapsari telah bekerjasama dengan pemerintah daerah (Dinas Koperasi) untuk menjual produk kopi di lima (5) Mini Market di kabupaten Kulon Progo.
    • Koperasi Hapsari juga sedang mengurus merek produk (paten) dan label halal, agar produk kopi dan teh segera dapat dipasarkan lebih luas.
  1. Manfaat tambahan dari proyek yang tidak direncanakan, adalah :
    • Kunjungan tim CFLI pada 09 Januari 2016 terutama Duta Besar Kanada untuk Indonesia (Mr.Donald Bobiash) yang melakukan pertemuan dan dialog langsung dengan anggota Hapsari, serta melihat langsung kebun kopi petani anggota Koperasi, telah memberi semangat baru bagi kelompok-kelompok petani kecil untuk lebih mengembangkan usaha produksi kopi mereka, karena merasa yakin bahwa “dunia memperhatikan kopi”.

      Duta Besar Kanada dan Rombongan menyempatkan melihat Kebun Kopi
      Duta Besar Kanada dan Rombongan menyempatkan melihat Kebun Kopi
    • Dampak dari kunjungan Duta Besar Kanada tersebut, lebih “mendekatkan” HAPSARI dengan pememerintah daerah di kabupaten Kulon Progo. Saat ini, Koperasi telah dibantu mengurus merek dagang produk kopi (paten) dan label halal, supaya produk kopi tersebut dapat memasuki pasar domestic dan global.
    • Terdapat potensi jaringan pemasaran yang baru, yaitu sebuah perusahaan kopi swasta di Medan yang berminat untuk membeli produk kopi dari Koperasi Hapsari.

Bekerjaasama dengan Mitra :

Mitra lain yang terlibat dalam proyek ini, adalah organisasi local, yaitu : Serikat Petani (SerTANI) Kulon Progo. Ini adalah organisasi komunitas petani yang anggotanya berada di wilayah proyek dan beberapa diantara mereka menjadi peserta proyek. Para pimpinannya juga terlibat sebagai tenaga ahli dalam kegiatan proyek ini, misalnya menjadi guru, narasumber dan fasilitator.***

Komentar Via Facebook

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here