Beranda Dinamika Gerakan

Daun Teh yang Menggerakkan

196
BERBAGI

Mbok Sar sedang menggongseng tehFederasiHapsari: Mbok Sartimah (55 tahun), tinggal di Dusun Keceme Desa Gerbosari kecamatan Samigaluh. Sejak Koperasi Serba Usaha HAPSARI di Kalibawang Kulon Progo, didirikan dan dilounching awal bulan Desember 2012, mbok Sar (begitu ia biasa dipanggil) menjadi pemasok bahan baku teh gongseng (sangrai) untuk Koperas HAPSARI.

Perempuan basis akar rumput ini, awalnya membuat usaha sendiri: menggongseng daun teh lalu dijual ke koperasi dengan harga Rp.30.000,-/kg. Pekerjaan menggongseng teh sudah ia lakukan sejak kecil dulu bersam almarhum ibunya. Setelah koperasi HAPSARI mendapatkan Sertifikat Produk Pangan Industri Rumah Tangga (SPP-PIRT) Nomor: 5103401010025-18 dari Dinas Kesehatan kabupaten Kulon Progo, kini Koperasi menerima rata-rata 200 kg teh sangrai per bulan dari mbok Sartimah. Sekarang dia tidak sanggup lagi mengerjakannya sendiri.

“Sekarang saya dak sanggup mengerjakan sendiri, saya dibantu sembilan orang tenaga kerja. Ada lima penggongseng teh, dua orang pengiris daun, dua orang pemisah daun dari gagangnya. Masih ada lagi empat orang penyedia bahan baku (daun teh segar), semuanya warga dari dusun ini. Tanggungjawab saya menjaga kualitas, agar hasil gorengan teh sesuai dengan pesanan: bersih, sehat, dari bahan baku pilihan dan diolah secara tradisional,” begitu penjelasan mbok Sar. Black Tea

Mbok Sar yang awalnya bekerja sebagai tukang pijit tradisional berkeliling kampung, kini lebih banyak di rumah, mengawasi usaha pengolahan teh tradisional itu. Mbok Sar awalnya juga bukan anggota SPI. Tapi kini dengan sukarela mendaftarkan diri menjadi anggota SPI di dusun Keceme dan menggerakkan ibu-ibu melalui dauh teh. “Wong kegiatannya berguna untuk menambah ekonomi kok, bermanfaat untuk membantu orang-orang miskin di sini,” tegasnya.

Dari hanya seorang mbok Sartimah, pembelian teh gongseng tradisional oleh Koperasi HAPSARI ternyata telah menggerakkan komunitas untuk membangun unit usaha bersama yang melibatkan sedikitnya 13 rumah tangga miskin di dusun Keceme. Mulai dari penjual bahan baku, penjual kayu bakar, tenaga pengiris daun, tenaga pemisah daun sampai tenaga penggongsen teh. Petani teh yang hasilnya hanya dua atau tiga kilo sekali petik, dijual kepada mbok Sar dengan harga yang layak.

Teh tradisional inilah yang dikelola oleh Koperasi HAPSARI menjadi teh celup dan teh seduh. Dan melalui trading house yang baru didirikan bulan Januari 2013 melalui program kerjasama dengan PNPM Peduli, kini promosi dan pemasaran teh tradisional dari SPI Kulon Progo semakin luas. teh kotak (600 x 417)

“Konsep HAPSARI untuk program penguatan ekonomi perempuan pelaku gerakan, berhasil menggerakkan komunitas mengembangkan unit usaha dan menambah penghasilan keluarga”. Ujar Ari Purjantati, Koordinator Program SPI Kulon Progo.***

Komentar Via Facebook

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here