Beranda Dinamika Gerakan

Laporan dari Pesisir (2)

159
BERBAGI

Kegiatan-kegiatan

Proyek Ketahanan Pangan di Wilayah Pantai2012 – 2013

HAPSARI – ICCO Kerk in Actie

 

1.     Workshop Strategi Implementasi Program, diikuti oleh 33 partisipan terdiri dari; 30 peserta, 1 fasilitator, 1 narasumber, 1 notulen.

Capaian output/keluaran :

Profile Rumah di Pesisir
Profile Rumah di Pesisir


1.1.   Menghasilkan satu dokumen panduan pelaksanaan program yang ditetapkan melalui Surat Keputusan Pelaksana Harian HAPSARI Nomor : 124/SK/PH-HAPSARI/Sept/2012 tanggal 10 September 2012.

2.   Pelatihan melakukan Survey Ketahanan Pangan Rumah Tangga menggunakan metoda HFIAS, diikuti oleh 20 peserta dari perempuan basis anggota HAPSARI.

Capaian output/keluaran :

2.1.  Sebanyak 20 orang kader perempuan basis dari serikat anggota HAPSARI telah dilatih melakukan survey tentang status ketahanan pangan masyarakat (rumah tangga nelayan di pesisir) dengan metoda HFIAS.

2.2.  Sebanyak 20 orang kader perempuan basis anggota HAPSARI mampu menjadi petugas survey menggunakan metode HFIAS tersebut dan menemukan data-data mengenai status ketahanan pangan rumah tangga nelayan dan rumah tangganya sendiri.

3.  Survey Ketahanan Pangan Rumah Tangga di kabupaten Serdang Bedagai menggunakan metoda HFIAS.

Capaian output/keluaran :

3.1.  Satu dokumen hasil survey tentang Kondisi Ekonomi (tingkat pendapatan) dan Ketahanan Pangan Rumah Tangga Nelayan di kabupaten Serdang Bedagai yang dihasilkan HAPSARI bersama komuniatas perempuan nelayan miskin peserta program, yang mempunyai legitimasi dan dapat dijadikan rujukan untuk intervensi program ini.

3.2.  Sebanyak 118 responden (118 Rumah Tangga) nelayan dari Serikat Perempuan Petani dan Nelayan (SPPN) Serdang Bedagai (serikat perempuan anggota HAPSARI) telah menjadi responden survey menggunakan metoda HFIAS dengan hitungan dan defenisi berdasarkan metode proporsional sample random.

3.3.Telah diperoleh data-data hasil survey dan analisa data hasil survey yang penulisannya dibantu oleh tenaga ahli dari akademisi (Universitas Nomensen) Medan.

3.4.Sebanyak 114 Rumah Tangga ditemukan mengalami ancaman ke(tidak)tahanan pangan berdasarkan survey dengan metode HFIAS.

3.5.Berdasarkan indikator HFIAS yang mengkategorikan rumah tangga dalam 4 level dari ketidak amanan pangan (acces) yaitu  kategori 1 (aman pangan), kategori 2 (sedikit rawan pangan), kategori 3 (rawang pangan  tingkat sedang) dan kategori 4 (sangat rawan pangan);  

  •  Hasil survey menunjukan bahwa mayoritas  (68,6%) anggota SPPN di Desa Bogak Besar dan Desa Kota Pari masuk ke dalam kategori 3, yaitu rawan pangan tingkat sedang.  Sementara itu keseluruhan anggota SPPN dapat digolongkan antara kategori II dan III (dengan rata-rata 2,83), dan semakin dekat dengan ketidak amanan pangan.

3.a. Tiga (3) kali FGD hasil survey kondisi ketahanan pangan,

3.b. Dua (2) kali Sosialisasi Hasil survey kondisi ketahanan,

Capaian Output/Keluaran :

a.  Hasil-hasil survey telah dibahas bersama 30 peserta dari berbagai unsur yaitu : perwakilan responden survey, pengurus serikat anggota HAPSARI lainnya dan mitra.

b.Hasil-hasil survey telah disosialisasikan kepada  105 peserta dari responden survey, masyarakat dan pemerintahan kecamatan

c.  Tema tentang ketahanan dan ke(tidak)tahanan pangan rumah tangga menjadi pengetahuan baru yang penting diperhatikan baik bagi pengurus HAPSARI maupun kalangan perempuan basis anggota HAPSARI.

d.   Terbangunnya jaringan untuk advokasi hak atas pangan dan ketahanan pangan pada tingkat wilayah, dengan ;

1)      Satu organisasi massa nelayan nasional yaitu Federasi Serikat Nelayan Nusantara (FSNN) yang berkantor di Bandung.

2)        Satu universitas swasta di Medan (Universitas Nomensen).

3)        Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD).

4.      Diskusi Tematik : “Potensi Sumberdaya Lingkungan dan Ketahanan Pangan”

4.1.        Diskusi Komunitas :

4.2.        Diskusi Publik Peringatan Hari Pangan :

a.  Enam (6) kali diskusi tingkat komunitas telah dilaksanakan, diikuti 203 partisipan yang terdiri dari : 185 orang peserta, 12 orang narasumber, 6 orang moderator/fasilitator.

b.     Satu kali dengar pendapat umum dilaksanakan melalui “Seminar dan Dialog Publik : Peringatan Hari Pangan Seduania”, diikuti 242 partisipan yang terdiri dari : 224 orang peserta dari kalangan perempuan basis anggota HAPSARI, 4 orang Narasumber dari kalangan pemda (Wakil Bupati, Badan P2KP, Universitas dan organisasi jaringan HAPSARI), 10 orang dari kalangan pemerintahan daerah (Kepala Desa Sialang Buah, Camat Teluk Mengkudu, Dinsosnakerkop, Diskanla, BPPAKB, Kesbang Pol & Linmas dan TKPKD), 1 orang Moderator, 2 orang Notulen, 1 orang perekam proses.

Capaian output/keluaran :

1.  Sebanyak 185 orang perempuan nelayan miskin dari dua kecamatan di kabupaten Serdang Bedagai , (dari 100 orang yang direncanakan) hadir dalam kegiatan diskusi-diskusi yang dilakukan,  mendapatkan pengetahuan dan kesadaran baru bahwa potensi sumberdaya alam yang tersedia di lingkungannya dapat dikembangkan sebagai sumber pendapatan rumah tangga dan sumber pangan keluarganya.

2.  Kepala Dusun, Kepala Desa, Camat, Dinas/Instansi (SKPD) terkait, hadir dalam pertemuan dan bersedia memberikan komitmen dengan tindakan nyata untuk mendukung upaya-upaya yang dilakukan masyarakat dalam membangun unit-unit usaha untuk meningkatkan pendapatan, berupa akes terhadap sumberdaya yang diperlukan; kebijakan, akses terhadap modal,tekhnologi, dan sebagainya.

3.      Berbagai pihak (masyarakat, pemerintahan, legislative, perguruan tinggi dan swasta) hadir dalam Peringatan Hari Pangan yang akan dijadikan event untuk menggerakkan komitmen bersama mendukung upaya-upaya membangun dan memperkuat ketahanan pangan masyarakat.

4.  Terjadinya pertemuan dan dialog langsung antara HAPSARI, peserta program, komunitas perempuan basis anggota HAPSARI lainnya dan warga masyarakat, dengan pemerintahan kabupaten Sergai (Kepala Desa, Camat, Dinas/instansi terkait) tentang pentingnya ketahanan pangan.

5.  Adanya pernyataan komitmen dari kalangan pemerintahan (Kepala Desa, Camat, Dinas/Instansi terkait) untuk mendukung program HAPSARI dan serikat anggotanya untuk isu ketahanan pangan, dalam bentuk kesediaan menjadi narasumber kegiatan, meminjamkan fasilitas pemda (berupa gedung pertemuan untuk dijadikan tempat kegiatan) dan mengundang HAPSARI untuk mengadakan pameran produk-produk non beras sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan masyarakat.

6.   Penguatan Komunitas Perempuan Mandiri Pangan :

6.1.        Pelatihan Pengelolaan Lahan Pesisir

6.2.        Pelatihan Budidaya Tanaman di Lahan Pesisir

a.Empat (4) kali Pelatihan Pengelolaan Lahan Pesisir, diikuti oleh 136 partisipan; 114 orang peserta, 8 orang narasumber, 8 orang Fasilitator, 4 orang notulen dan 2 pelaksana program.

Salah seorang Responden Survey HFIAS
Salah seorang Responden Survey HFIAS

b.Empat (4) kali Pelatihan Budidaya Tanaman di Lahan Pesisir telah dilaksanakan, diikuti oleh; 120 orang peserta, 8 orang narasumber, 8 orang Fasilitator, 4 orang notulen dan 2 pelaksana program.

Capaian Output/Keluaran :

a.      Dua Komunitas Perempua

n nelayan miskin di kabupatan Serdang Bedagai telah mengikuti pelatihandan berhasil mengembangkan demplot (percontohan) untuk program/kegiatan ketahanan pangan rumah tangga;

menambah sumber-sumber penghasilan dan sumber pangan keluarga, melalui pemanfaatan sumberdaya lingkungan (halaman rumah) dengan tanaman sayuran dan buah-buahan yang dapat tumbuh di pesisir.

1.1.Sebanyak 114 orang perempuan  telah mendapat pelatihan pengolahan lahan pesisir dan memiliki pengetahuan dasar tentang jenis/komposisi tanah di wilayah pesisir.

1.2.    Sebanyak 120 orang perempuan pesisir di dua desa (Bogak Besar dan Kota Pari) telah mempraktekkan pembuatan pupuk organic dari limbah rumah tangga untuk memupuk sayuran yang mereka tanam.

b.      Sebanyak 20 Rumah Tangga Nelayan peserta proyek ini (20 % dari 100 orang peserta proyek) mendapat tambahan penghasilan dari menjual hasil panen tananam di halaman rumah mereka, atau sudah tidak membeli sayuran lagi untuk makanan keluarga.

6.3.       Konservasi dan Rehabilitasi Lahan Mangrove untuk Pengayaan Sumber Penghasilan

Capaian output/keluaran :

    50 hektar lahan mangrove di pesisir pantai kecamatan Teluk Mengkudu kabupaten Serdang Bedagai berhasil dikembangkan dengan konservasi dan rehabilitasi bakau, sebagai hutan kemasyarakatan untuk memenuhi kebutuhan sumber pangan masyarakat (nelayan) di sekitarnya, dengan dukungan social (masyarakat) regulasi/kebijakan dari pemerintah daerah dan legislative.

6.3.1.        Training Loby, Audiensi dan Hearing;

6.3.2.        Audiensi dan Lobi ke Pemerintah Daerah dan Legislative;

a.   Traini Lobby, Audiensi dan Heraing diikuti oleh 39 partisipan terdiri dari; 34 peserta, 2 narasumber, 2 fasilitator dan 1 notulen.

b.    Audiensi dan Lobi dilakukan sebanyak empat (4) kali, dengan : Wakil Bupati Kabupaten Serdang Bedagai dan Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD), Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Pasar (Disperindagsar) dan  dinas Kehutanan dan Perkebunan.

c.     Peserta audiensi dan lobby sebanyak 65 partisipan terdiri dari :

          40 orang dari komunitas perempuan anggota HAPSARI, 

          5 orang dari BAPPEDA,

          3 orang dari Dewan Perwakilan Daerah (DPRD) Serdang Bedagai

   16 orang dari kalangan pemerintah daerah yaitu : Dinas Pendidikan Nasional, Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Koperasi, Badan Penyelenggara Penyuluhan Ketahanan Pangan (BP2KP), Dinas Pengelolaan Sumberdaya Air, Badan Pemberdayaan Perempuan, Anak dan Keluarga Berencana, Dinas Kehutanan dan Perkebunan, Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Pasar (Disperindagsar) dan Dinas Tata Ruang Kota dan Taman,

       1 orang dari SAPA, sebuah organisasi non pemerintah yang merupakan anggota TKPKD.

Capaian output/keluaran :

a.      Sebanyak 34 peserta dari kalangan perempuan basis anggota HAPSARI telah mempunyai pengetahuan dasar tentang cara atau prosedur melakukan audiensi, metode/tekhnik melakukan lobby dan hearing.

b.  Ditetapkan strategi lobby dan audiensi dengan target “membangun relasi yang berkomitmen” untuk saling mendukung pelaksanaan program antara komunitas perempuan basis (serikat perempuan anggota HAPSARI), dengan kalangan pemerintah dan dewan perwakilan.

c.    Lobby yang dilakukan dengan Kepala Desa menghasilkan kebijakan yang mendukung komunitas mengelola lahan pesisir untuk penanaman hutan mangrove, melalui Surat Keterangan dan izin kepada komunitas untuk mengolah 50 hektar (1.250.000 M2) untuk penanaman hutan mangrove di Desa Bogak Besar kecamatan Teluk Mengkudu,  melalui surat dengan nomor : 18.49.10/522/450/2012 tertanggal 20 Juni 2012 yang ditandatangani Bapak Mahyaruddin (Kepala Desa).

d.        Dikeluarkannya surat rekomendasi dari wakil bupati selaku ketua Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD) sebagai bentuk dukungan terhadap program pengelolaan Sumberdaya Lingkungan dan Penguatan Komunitas Perempuan untuk Ketahanan Pangan.

e.     Terbangunnya jaringan untuk memperkuat advokasi hak atas pangan dan ketahanan pangan pada tingkat wilayah, dengan Tim Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Daerah (TKPKD) Kabupaten Serdang Bedagai yang dipimpin oleh Wakil Bupati.

6.3.3.        Pengembangan Unit Usaha Pengolahan Lahan;

          Empat (4) kali diskusi tematik untuk memotivasi pengembangan unit usaha pengolahan lahan pesisir telah dilakukan, diikuti 143 partisipan yang terdiri dari : 135 orang peserta, 4 orang narasumber, 4 orang moderator/fasilitator.

 Capaian Output/Keluaran :

Mulai Menanam Benih
Mulai Menanam Benih

a.  Sebanyak 135 orang perempuan miskin dari keluarga nelayan di pesisir telah mendapat informasi untuk membangun unit-unit usaha untuk peningkatan ekonomi rumah tangga, dengan memanfaatkan sumberdaya lingkungan halaman rumah mereka.

b.        100 orang perempuan dari 100 Rumah Tangga telah memanfaat lahan pekarangan rumah mereka dengan menanami beberapa jenis sayuran, sehingga tidak lagi membeli.

c.     Ada 4 jenis usaha yang dikembangkan oleh perempuan basis yaitu : pembuatan kerupuk jeruju yang berasal dari buah bakau, penanaman jeruk kasturi, pembuatan pupuk dari limbah ternak/limbah rumah tangga dan pembuatan sapu hias dari lidi kelapa/kelapa sawit.

7.     Monitoring dan Evaluasi

7.1.             Pemantauan Rutin

7.1.1.        Kunjungan Lapangan

7.1.2.        Diskusi dengan Masyarakat dan Penerima Manfaat

  Monitoring dilakukan melalui metode pemantauan rutin pada waktu kegiatan dilaksanakan dan kunjungan langsung ke lapangan serta diskusi dengan masyarakat dan penerima manfaat langsung program ini.

     Selain monitoring internal yang dilakukan oleh HAPSARI sendiri, pihak ICCO juga pernah melakukan monitoring dengan melakukan kunjungan lapangan dan diskusi dengan penerima manfaat program, pada saat program sudah berjalan selama enam bulan.

Capaian output/keluaran :

a.      Seluruh kegiatan yang dilaksanakan telah berkontribusi pada pencapaian tingkat output dan tonggak pencapaian yang direncanakan dalam proposal.

b.      Catatan hasil monitoring telah digunakan sebagai bahan/referensi untuk melakukan evaluasi akhir program.

7.1.3.        Lokakarya Evaluasi Akhir Program

        Lokakarya evaluasi akhir program dilaksanakan selama tiga (3) hari, diikuti oleh 54 orang partisipan terdiri dari :35 orang dari komunitas perempuan anggota HAPSARI (peserta proyek),  6 orang dari kalangan pemerintahan (Dinas Kehutanan dan Perkebunan, Disperindagsar, Dinas Perikanan dan Kelautan, BP2KP dan Balai Pengelolaan Mangrove), 1orang dari DPRD Serdag Bedagai, 2 orang dari Universitas HKBP Nomensen, 1 orang Dewan Pengurus Nasional  HAPSARI, 2 orang dari organisasi mitra (PESADA Sidikalang), 1 orang Notulen, 4 orang Pelaksana Program dan 2 orang Fasilitator.

Capaian Output/Keluaran :

1.  Adanya sebuah dokumen hasil evaluasi yang dapat dijadikan bahan pembuatan laporan, temuan hasil pembelajaran dan bahan masukan untuk menyusun strategi keberlanjutan program ini :

1.1.      Menguatkan komitmen dukungan kerjasama antara organisasi perempuan anggota HAPSARI dengan pemerintah daerah, DPRD  dan jaringan untuk mendukung  program pengelolaan lahan pesisir.

1.2.       Catatan hasil-hasil evaluasi, berupa cerita pencapaian kualitas dan kuantitas hasil program melalui pertukaran pengetahuan dan pengalaman serta merumuskan pelajaran penting yang diperoleh selama proyek.

1.3.       Rekomendasi dan bahan-bahan untuk menyusun Rencana Tindak Lanjut program memperkuat kapasitas perempuan basis dalam mengelola sumberdaya lingkungan untuk peningkatan ekonomi.

1.4.    Mengembangkan strategi advokasi melalui aksi –aksi kolektif perempuan bersama jaringan untuk memperoleh izin mengelola Hutan Kemasyarakatan (HKM).***

 

Komentar Via Facebook

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here