Beranda Tulisan

90 % Khawatir tak Cukup Makan

191
BERBAGI

Rangkuman Hasil Survey

Ketidak Tahanan Pangan (akses) Keluarga Nelayan di Kabupaten Serdang Bedagai

Bekerjasama dengan Universitas HKBP Nomensen Medan, dan dukungan pendanaan dari ICCO Kerk In Actie, HAPSARI mengadakan survey tentang kondisi ketidak tahanan pangan (akses) keluarga nelayan di kecamatan Teluk Mengkudu dan kecamatan Pantai Cermin kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara – Indonesia.

Survey ini mengambil sample dari rumah tangga anggota Serikat Perempuan Petani dan Nelayan (SPPN) di desa Bogak Besar kecamatan Teluk Mengkudu dan Desa Kotapari kecamatan Pantai Cermin, dengan hitungan dan defenisi berdasarkan metode proporsional sample random.

Menggunakan pertanyaan yang diadaptasi dari methode HFIAS (USAID,2007) dan dibuat pada sesi training, data dikumpulkan oleh peserta training. Data dikirim secara langsung ke sistem Akvo Flow dengan memback up data, dalam bentuk lembar quistionare yang disimpan HAPSARI.

Survey data telah dianalisa berdasarkan formula HFIAS, dan hasil yang dipresentasikan sebagai berikut:

  1. Persentasi anggota SPPN di Desa Bogak Besar dan Desa Kotapari yang mengalami ke(tidak)tahanan pangan berhubungan dengan kondisi (ada 9 kondisi) ditunjukkan pada gambar di bawah ini :1

Kira-kira 90 % anggota SPPN di Desa Bogak Besar dan Kota Pari khawatir rumah tangga mereka tidak cukup makanan untuk mendukung kesehatan dan hidup aktive (P1), tidak dapat makan makanan yang mereka inginkan (P2), tidak bisa makan makanan yang bervariasi (P3), memakan makanan yang tidak diinginkan  untuk dimakan (P4) semuanya kekurangan sumber makanan. Sedangkan yang lainnya, hanya 50% rumah tangga yang mengurangi porsi makan dari porsi makan normal  baik makan pagi maupun makan malam (P5), berikutnya 30 % yang harus mengurangi frekwensi makan dalam sehari (P6). Rumah tangga yang pernah tidak mempunyai makanan dan tidak dapat makan (P7) kurang dari 10%. Persentasi rumah tangga yang mengalami ada anggota rumah tangga mereka yang harus pergi tidur dalam keadaan lapar (P8) hanya 1 %. Tidak ada rumah tangga yang sampai mengalami anggota rumah tangga mereka tidak makan sepanjang 1 hari 1 malam karena  tidak ada makanan (P9).

2. Frekwensi kejadian yang dialami anggota SPPN yang mengalami ketidak amanan pangan (akses) yang berhubungan dengan kondisi secara umum hanya tiga sampai sepuluh kali dalam 4 minggu yang dikategorikan dalam “kadang-kadang”. Seberapa sering kejadian ini dialami oleh rumah tangga di tunjukkan dalam drafik di bawah ini.2

3. Ada 3 domain  dimana keamanan pangan yang dikelompokan dalam kondisi  yaitu  (1) ketidak pastian dan kehawatiran, (2) kualitas makanan, dan (3) makan yang tidak cukup dan reaksinya terhadap fisik. Persentase domain anggota SPPN berdasarkan ketidak amanan (Akses)  menunjukkan kira-kira 94,1 % dari rumah tangga SPPN yang mengalami kehawatiran dan ketidak pastian bahwa mereka tidak mempunyai cukup makanan untuk anggota rumah tangga mereka. Sementara itu 89,3 % rumah tangga  mengalami kekurangan kualitas makanan.  Meskipunn, hanya 17,5%  yang  pernah mengalami tidak mempunyai makanan  yang cukup sehingga  mereka harus melakukan sesuatu  seperti konsekwensi phisik.3

4. HFIA S skore (range dari 0 sampai 27) anggota SPPN di Desa Bogak Besar dan Desa Kota Pari ada di 8,36 dengan score terendah 0 dan skore tertinggi 16. Masing-masing rumah tangga  mempunyai Skore HFIAS dimana bisa digunakan sebagai perbandingan untuk kondisi ketidak amanan pangan yang relative berbeda dengan yang lain.

5. Indikator HFIAS mengkategorikan rumah tangga dalam 4 level dari ketidak amanan pangan (Acces). Yaitu  kategori 1 (aman pangan), kategori 2 (sedikit rawan pangan), kategori 3 (rawan pangan  tingkat sedang) dan kategori 4 (sangat rawan pangan). Hasil survey menunjukan bahwa mayoritas  (68,6%) anggota SPPN di Desa Bogak Besar dan Desa Kota Pari masuk ke dalam kategori 3, yaitu rawan pangan tingkat sedang.  Persentase kategori rumah tangga  dalam ketidak amanan pangan  (Acces)  di tunjukan dalam gambar dibawah ini. Sementara itu keseluruhan anggota SPPN dapat digolongkan antara kategori II dan III (dengan rata-rata 2,83), dan semakin dekat dengan ketidak amanan pangan.4

***

Komentar Via Facebook

2 KOMENTAR

  1. Halo, saya tertarik untuk membaca laporannya.Bagaimana agar saya bisa mendapatkannya ya?Terima kasih banyak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here