
Kaderisasi yang Berbuah Kepemimpinan
Kongres VI HAPSARI dilaksanakan pada 24–26 Agustus 2023 di Pantai Cermin, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara. Kongres ini menjadi ruang penting bagi HAPSARI untuk melakukan refleksi organisasi, menegaskan kembali mandat gerakan perempuan akar rumput, serta menetapkan arah kerja organisasi untuk periode 2023–2028.

Bagi HAPSARI, kongres bukan sekadar forum pergantian kepengurusan. Kongres adalah ruang pertanggungjawaban, evaluasi, pembelajaran, dan penegasan arah gerakan. Dari kongres ke kongres, HAPSARI menjaga agar organisasi tetap berakar pada pengalaman perempuan akar rumput, sekaligus terus menyesuaikan diri dengan perubahan sosial, ekonomi, politik, dan ekologis yang dihadapi komunitas.
Kongres VI menjadi penting karena memperlihatkan dua hal sekaligus: kesinambungan dan regenerasi. Kesinambungan tampak dari tetap kuatnya komitmen HAPSARI pada kepemimpinan perempuan akar rumput, perlindungan perempuan dan anak, pengorganisasian komunitas, serta advokasi keadilan sosial. Regenerasi tampak dari munculnya kader-kader muda yang telah melewati proses belajar panjang di dalam organisasi dan kemudian dipercaya memegang mandat kepemimpinan.

Pada Kongres VI, HAPSARI menetapkan kepengurusan periode 2023–2028. Asriyanti dipercaya sebagai Ketua Dewan Pengurus, Sri Rahayu sebagai Ketua Pelaksana Harian, dan Erwita Poetri Annisa sebagai Sekretaris Pelaksana Harian. Komposisi kepengurusan ini menunjukkan bahwa kaderisasi HAPSARI bukan hanya agenda pelatihan, tetapi proses panjang membangun keberanian, keterampilan, tanggung jawab, dan kepercayaan.
Salah satu makna penting Kongres VI adalah tampilnya kader-kader muda generasi kedua HAPSARI. Mereka tidak tiba-tiba hadir sebagai pemimpin. Mereka tumbuh melalui serikat anggota, pelatihan, penugasan, pendampingan, pengalaman komunitas, dan pembelajaran lintas generasi. Bahkan sejak mereka dituntun tangan ibunya dalam berbagai kegiatan organisasi baik di serikat maupun di secretariat HAPSARI. Dari proses panjang itulah kaderisasi berbuah menjadi kepemimpinan.

Kongres VI juga menegaskan bahwa regenerasi tidak berarti memutus sejarah. Sebaliknya, regenerasi adalah cara HAPSARI merawat nilai, pengalaman, dan pengetahuan gerakan agar terus hidup. Generasi yang lebih muda memperoleh ruang memimpin, sementara generasi sebelumnya tetap hadir sebagai sumber pengalaman, arah, dan dukungan strategis.
Melalui Kongres VI, HAPSARI menegaskan kembali bahwa gerakan perempuan akar rumput tidak hanya bertahan karena program. Gerakan bertahan karena organisasi mampu merawat anggota, menumbuhkan kader, membagi kepemimpinan, dan terus menghubungkan pengalaman komunitas dengan agenda perubahan sosial yang lebih luas.
Baca selengkapnya dalam Sejarah Organisasi: Kongres VI HAPSARI.





