Kongres VI HAPSARI

13
Sebagian Peserta Kongres foto bersama dengan Forum Jurnalis Perempuan Indonesia Sumut (Foto: Dok HAPSARI)
Sebagian Peserta Kongres foto bersama dengan Forum Jurnalis Perempuan Indonesia Sumut (Foto: Dok HAPSARI)

Kaderisasi yang Berbuah Kepemimpinan

Kongres VI HAPSARI dilaksanakan pada 24–26 Agustus 2023 di Pantai Cermin, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara. Kongres ini menjadi ruang penting bagi HAPSARI untuk melakukan refleksi organisasi, menegaskan kembali mandat gerakan perempuan akar rumput, serta menetapkan arah kerja organisasi untuk periode 2023–2028.

Pimpinan Sidang dalam Kongres VI HAPSARI (dari kiri ke kanan: Rubini, Sartini, Rusmawati)
Pimpinan Sidang dalam Kongres VI HAPSARI (dari kiri ke kanan: Rubini, Sartini, Rusmawati)

Bagi HAPSARI, kongres bukan sekadar forum pergantian kepengurusan. Kongres adalah ruang pertanggungjawaban, evaluasi, pembelajaran, dan penegasan arah gerakan. Dari kongres ke kongres, HAPSARI menjaga agar organisasi tetap berakar pada pengalaman perempuan akar rumput, sekaligus terus menyesuaikan diri dengan perubahan sosial, ekonomi, politik, dan ekologis yang dihadapi komunitas.

Kongres VI menjadi penting karena memperlihatkan dua hal sekaligus: kesinambungan dan regenerasi. Kesinambungan tampak dari tetap kuatnya komitmen HAPSARI pada kepemimpinan perempuan akar rumput, perlindungan perempuan dan anak, pengorganisasian komunitas, serta advokasi keadilan sosial. Regenerasi tampak dari munculnya kader-kader muda yang telah melewati proses belajar panjang di dalam organisasi dan kemudian dipercaya memegang mandat kepemimpinan.

Florida Susan, salah satu peserta Kongres dari SPI Deli Serdang menyampaikan pandangan, atas pencalonannya sebagai Dewan Pengurus.
Florida Susan, salah satu peserta Kongres dari SPI Deli Serdang menyampaikan pandangan, atas pencalonannya sebagai Dewan Pengurus.

Pada Kongres VI, HAPSARI menetapkan kepengurusan periode 2023–2028. Asriyanti dipercaya sebagai Ketua Dewan Pengurus, Sri Rahayu sebagai Ketua Pelaksana Harian, dan Erwita Poetri Annisa sebagai Sekretaris Pelaksana Harian. Komposisi kepengurusan ini menunjukkan bahwa kaderisasi HAPSARI bukan hanya agenda pelatihan, tetapi proses panjang membangun keberanian, keterampilan, tanggung jawab, dan kepercayaan.

Salah satu makna penting Kongres VI adalah tampilnya kader-kader muda generasi kedua HAPSARI. Mereka tidak tiba-tiba hadir sebagai pemimpin. Mereka tumbuh melalui serikat anggota, pelatihan, penugasan, pendampingan, pengalaman komunitas, dan pembelajaran lintas generasi. Bahkan sejak mereka dituntun tangan ibunya dalam berbagai kegiatan organisasi baik di serikat maupun di secretariat HAPSARI. Dari proses panjang itulah kaderisasi berbuah menjadi kepemimpinan.

Foto Bersama Kepengurusan HAPSARI yang sudah demisioner (Laili Zailani sebagai Ketua Dewan Pengurus dan Riani sebagai Ketua Pelaksana Harian)
Foto Bersama Kepengurusan HAPSARI yang sudah demisioner (Laili Zailani sebagai Ketua Dewan Pengurus dan Riani sebagai Ketua Pelaksana Harian)

Kongres VI juga menegaskan bahwa regenerasi tidak berarti memutus sejarah. Sebaliknya, regenerasi adalah cara HAPSARI merawat nilai, pengalaman, dan pengetahuan gerakan agar terus hidup. Generasi yang lebih muda memperoleh ruang memimpin, sementara generasi sebelumnya tetap hadir sebagai sumber pengalaman, arah, dan dukungan strategis.

Melalui Kongres VI, HAPSARI menegaskan kembali bahwa gerakan perempuan akar rumput tidak hanya bertahan karena program. Gerakan bertahan karena organisasi mampu merawat anggota, menumbuhkan kader, membagi kepemimpinan, dan terus menghubungkan pengalaman komunitas dengan agenda perubahan sosial yang lebih luas.

Baca selengkapnya dalam Sejarah Organisasi: Kongres VI HAPSARI.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here