Beranda Kisah Kami

Karena Perempuan

178
BERBAGI
New Picture (14)

Aku dan Suamiku

Saat ini usiaku 42  tahun, sudah hampir 27  tahun aku menikah. Dimasa pernikahan kami,  delapan tahun aku tidak mempunyai anak, sampai akhirnya aku hamil dan saat ini aku memiliki 5 (lima) orang anak (2 orang laki-laki dan 3 orang perempuan). Pernikahanku dengan suamiku adalah pernikahan cinta, maksudnya, aku tidak dijodohkan. Setelah menikah, aku diboyongnya ke desa tempat tinggalku sekarang, jauh dari desa orangtuaku dimana sebelumnya aku tinggal.

Sejak awal menikah hingga sekarang, kehidupan ekonomi keluargaku pas-pasan. Suamiku tidak mempunyai pekerjaan tetap, hanya mocok-mocok saja.Itu bukan masalah bagiku, yang penting aku ingin hidup berbahagia dengannya.

Waktu berlalu, hari berganti, akhirnya akupun hamil dan mempunyai anak. Awalnya dia senang dengan kelahiran anak kami, karena sudah delapan tahun kami menikah, dan baru ini kami bisa memiliki seorang putra. Melihat kondisi ekonomi kami yang sangat pas-pasan, akupun harus bekerja. Setiap hari, mulai pagi hingga siang aku menyelesaikan pekerjaan rumah, siang hari aku kerja jadi Buruh Harian Lepas (BHL) di perkebunan kelapa sawit yang ada di sebelah desaku, sore harinya aku ngupah mencuci pakaian di tempat tetangga-tetanggaku yang ingin mencucikan bajunya, malam harinya aku mengupah menggosok (setrika) baju.

Dan seperti biasa, jika dikehendaki, akupun melayani kebutuhan suami untuk berhubungan badan denganku, kapan saja dia mau. Semua kujalani dengan ikhlas. Inilah pekerjaan rutin yang setiap hari aku lakukan. Jangankan untuk mengurus tubuhku, mencari waktu untuk istirahat saja aku susah. Tetapi ini ku jalani dengan pasrah, ikhlas, yang penting suamiku marah-marah kepadaku.

Kehidupan rumah tangga yang berbahagia ternyata hanya merupakan mimpi saja bagiku. Karena apa yang kualami sejak pernikahanku berbeda dengan apa yang kuharapkan. Dua bulan pertama pernikahanku berjalan baik-baik saja, suamiku cukup sayang padaku. Tapi setelah itu…perlahan-lahan semua berubah. Mulai timbul pertengkaran-pertengkaran kecil antara kami, tangannyapun tak segan-segan mulai melayang ke pipiku setiap kali kami bertengkar. Ini terus berlangsung berulang-ulang setiap kali aku membuatnya marah. Tetapi, berulang kali pula dia selalu minta maaf menyesali perbuatannya itu.

Aku tidak tahu setan apa yang merasuk dalam pikiran suamiku. Bukan hanya kebiasaan mabuk dan berjudi yang dilakukannya setiap hari, tetapi juga pemarahnya bukan main dan gampang sekali memukuli aku. Selalu saja ada yang salah dari diriku dan selalu saja suamiku marah-marah tidak jelas. Pekerjaan yang kulakukan selalu saja ada yang salah yang mengakibatkan tangannya melayang di sekujur tubuhku. Peristiwa seperti ini hampir terjadi setiap hari. Tapi, kalau nanti aku sudah babak-belur, maka dia minta maaf menyesali perbuatannya dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.

Sampai anak pertamaku berusia dua tahun dan aku melahirkan lagi anakku kedua,  belum ada perubahan yang kutemukan dari suamiku, malah semuanya bertambah buruk, semua yang menjadi keinginannya harus dipenuhi. Kalau tidak dia akan memukulku bahkan tidak segan-segan untuk memukul anakku. Tetanggakupun tidak heran lagi, kalau setiap aku belanja dengan muka memar akibat pukulan suamiku. Tapi aku yakin, dia pasti berubah, karena keesokan hari setelah dia memukulku dia selalu minta maaf padaku.

Lahir lagi anakku yang ketiga, juga belum membuat perubahan dalam kehidupan rumah tanggaku, suamiku masih belum juga sadar akan tanggungjawabnya. Tetap saja dia belum bekerja, malah dia sering pulang malam dan mabuk-mabukkan, marah-marah tidak jelas. Ini pertama kalinya dia menjambak rambutku, kepalaku dipukulkan kedinding berkali-kali, menamparku berkali-kali. Aku bagai sampah di depannya, sempat terlintas di dalam pikiranku, akan pergi saja dari rumahku, tapi…bagaimana dengan anak-anakku? Siapa yang akan menolong mereka kalau ayahnya memukul mereka? Akhirnya, niatkupun aku urungkan, apalagi tadi malam dia minta maaf padaku dan menyesali perbuatannya itu, dia berjanji tidak akan mengulanginya lagi, karena katanya dia khilaf ketika memukulku. Aku percaya, dan aku yakin kalau dia tidak akan mengulangi perbuatannya itu.

Begitulah, keadaanku semakin tidak menentu, kondisi ekonomiku semakin memburuk, karena anak-anakku semakin banyak dan semakin besar, sedangkan suamiku tidak bekerja, kalaupun dia memiliki uang, cuma untuk kebutuhan dia saja, beli rokok dan minuman. Maka aku harus bekerja lebih keras membanting tulang untuk menghidupi keluargaku, makan anak-anakku dan biaya sekolah anakku. Kondisi badanku semakin tak terurus, mataku cekung, badanku semakin kurus. Tapi bagiku…asalkan anak-anakku bahagia dan suamiku tidak memukulku aku sudah senang. Tapi sayang, suamiku semakin gila-gilaan, dia sering marah-marah memukul aku dan anak-anakku. Kali ini siksaan yang aku rasakan lebih parah lagi. Selain menampar, memukulkan kepalaku kedinding, dia juga mulai menendangku. Hal ini dilakukan berkali-kali, belum genggaman tangannya yang berulang kali menghujam wajahku.

Oh….Tuhan, kenapa nasibku seperti ini, kenapa ini harus kualami. Setiap aku tidak bisa membuatnya puas, aku selalu dipukul, dihajar, ditendangnya sampai aku susah untuk berjalan. Suamiku gemar melihat VCD porno, setiap kali selesai melihat VCD aku selalu diminta untuk melayani nafsunya sama seperti yang telah di tontonnya, aku dijadikan boneka permainannya, dengan apapun yang ia mau, seperti apa yang ada di VCD, kalau sampai ada yang menurutnya tidak sesuai dengan keinginannya, dia akan memukulku lagi. Aku tidak tahu kenapa hal ini harus aku alami.

Lalu lahir anak kelimaku, dengan semakin banyaknya anak-anakku, juga tidak membuatnya sadar, dia sering memukul anak-anakku, kalau belum sampai mengeluarkan darah dia akan tetap memukul tak henti. Tidak ada yang bisa menolong kami, karena setiap kali dia memukul semua pintu dan jendela selalu dikuncinya. Cacian dan makian, bagai bunga yang selalu menghujaniku setiap hari, ditambah lagi layangan tangannya di wajahku yang selalu dilakukannya.

Pernah suatu malam, dia marah sejadi-jadinya, kepalaku dimasukkan kedalam air hingga aku tidak mampu bernapas, anak-anak coba untuk membela tapi tetap saja tak kuasa menahannya. Malah dia mengancam akan membunuhku kalau sampai anakku mencoba menolongku, karena saat itu tangan kirinya mencekikku dan ditangan kanannya telah memegang sebuah pisau yang tajam, hampir saja mata pisau yang tajam itu menusuk ulu hatiku, tapi anakku coba untuk menolong dan mengakibatkan kaki anakku tertusuk pisau itu.

Kali ini aku tidak tahan lagi. Aku coba melaporkan perbuatannya itu pada Kepala Dusun, tapi sayang aku tidak menemukan solusi yang tepat untuk masalahku, karena menurut beliau, kalau aku memperbesar masalah ini dan mengadukan peristiwa ini, akan memerlukan biaya yang cukup besar, melihat kondisi ekonomi yang sudah tidak mampu lagi, akupun mengurungkan niatku untuk melaporkan perbuatan suamiku.Aku tidak tau sama sekali, kepada siapa sebaiknya aku mengadukan nasibku ini.

Hari demi hari aku lalui, penyelesaian masalahku tak kunjung juga aku dapatkan, belum lagi kering luka-luka memar ditubuhku, sudah ditambah dan ditambah lagi dengan siksaan baru. Walau begitu, aku tetap bekerja menjadi buruh demi anak-anakku. Karena melihat kondisi orangtuanya, anakku memutuskan untuk tidak sekolah lagi, dia memilih bekerja. Saat ini tinggal dua orang anakku yang sekolah, dan masih duduk di kelas enam dan kelas empat SD. Suatu hari aku dilarang suamiku bekerja di perkebunan kelapa sawit. Dia ingin aku berjualan minuman Tuak, sejenis minuman memabukkan ari air nira. Kalau aku menolak, aku akan dipukulinya lagi.

Aku sudah bosan dan tidak kuat lagi dipukuli terus. Akhirnya jualan Tuakpun kulakukan, mulai siang hari sampai jam dua malam baru tutup. Ku kira dengan menuruti keinginannya untuk berjualan Tuak semuanya akan berjalan baik dan normal. Sayangnya, keghidupanku semakin menyedihkan, aku semakin tersiksa, karena hampir setiap hari warung tuakku dipenuhi oleh pembeli (semuanya laki-lak)i yang pada mabuk-mabukan setelah minum tuak tersebut. Aku harus bertahan dengan suasana yang memuakkan itu, aku sering di gangguin, dicolek, digoda dan diejek.

Sampai pada suatu malam aku dipeluk oleh salah seorang pembeli yang sudah mabuk, langsung kutampar laki-laki itu. Aku tidak tahu kalau suamiku melihat kejadian itu, seperti orang yang kesetanan aku malah disalahkan oleh suamiku. Aku dikunci di dalam kamar, tangan kirinya memegang rambutku dengan kasar, tangan kanannya memukulku bertubi-tubi, kepalaku dipukulkan kedinding berkali-kali, aku ditendang, dicekik, dicaci-maki bagai binatang dibuatnya, peristiwa ini berlangsung selama satu setengah jam. Setelah dia merasa puas, dia tidur dan menyuruhku naik di atas tempat tidur. Aku tidak bisa tidur…rasanya kepalaku terasa berat, tubuhku terasa lemas, aku hanya bisa menangis. Tak lama kemudian suamiku tertidur.

Tiba-tiba terdengar suara bisikan di telingaku “Mak, cepet lari…pergi…jangan sampai ayah bangun, nanti mamak dipukul lagi, ayo..cepat”, suara itu ternyata anakku. Dengan sisa tenaga yang ada aku merangkak perlahan keluar dari rumahku untuk mencari perlindungan di tempat tetanggaku, jatuh bangun aku berjalan, karena rasanya kakiku sudah terlalu lemas untuk digerakkan, sampai akhirnya aku tak ingat apa-apa lagi. Semua melayang dan semua terasa gelap, darah segar keluar dari mulutku, dadaku terasa sakit, leherku terasa pedih.

Pagi hari aku tercengang, sudah berada di dalam suatu ruangan, ternyata di rumah tetanggaku, dia mengusulkan untuk melaporkan kasusku ini ke kantor polisi, kepala desa sudah membuat surat keterangan bahwa aku korban penyiksaan suamiku. Aku dipertemukan dengan seorang pengurus sebuah organisasi perempuan, Serikat Perempuan Independen (SPI) namanya. Didampingi pengurus SPI, aku melaporkan kasusku, tekatku sudah bulat, aku memutuskan untuk berpisah dengannya, anak-anakkupun mendukung.

Berkat bantuan dari organisasi perempuan itu, kini status suamiku menjadi buronan polisi, katanya dia kena tuduhan sebagai pelaku Kekerasan Terhadap Istri dalam Rumah Tangga atau pelaku KDRT. Rupanya bisa ditangkap polisi juga dia.***

Pengalaman Ibu P

Komentar Via Facebook

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here