Beranda Kisah Kami

Jangan Sakit

181
BERBAGI

New Picture (5)“Hanya satu yang harus dipertahankan sekarang : tetap sehat dan kerja keras”.

Begitu kata sahabatku suatu hari tentang masa-masa kehidupannya menjelang menapouse. Ternyata apa yang ia katakan suatu hari itu benar dan kini kualami. Memasuki masa-masa menapouse, aku mulai merasa kondisi kesehatanku melemah. Aku mulai sering flu, sering demam dan yang terakhir, persendian kaki kananku hampir tiap hanya nyeri, mendenyut. Ya ampun…aku kena asam urat.

Tengah malam ini nyeri sendi di kakiku kambuh, suakiiitt…sekali! Mana badanku panas dingin dan mulai bersin-bersin. Ah, aku menarik nafas panjang, menghembuskannya perlahan-lahan dan bangkit dari tempat tidur. Kucoba menerapkan meditasi yang baru saja kupelajari. Aku mulai mengatur nafasku dengan tenang…duduk dengan posisi teratai.

Ups! Suamiku terbangun. Ia gesek-gesekkan kakinya di atas pahaku. “Tolong pijitin, pegal semua badanku…” katanya mesra dengaan desahan lembut. Ya Tuhan…padahal ia tau kalau aku tidak cukup sehat. Tapi begitulah. Kubatalkan meditasiku untuk memijiti kaki suamiku. Biasanya ia akan tertidur lagi setelah 10 menit aku pijet. Dan betul saja.

Begitu suamiku terlelap, aku melanjutkan meditasi. Mulai kurasakan aliran darah bergerak di sekujur tubuh dan bagian persendianku. Bagian yang nyeri terasa makin nyeri…lalu menghangat. Aduh, memang di situ letak sakitku. Biasanya, kalau sudah melakukan meditasi sekitar 45 menit, besok pagi sakitku akan berkurang. Alhamdulillah, setelah meditasi aku mulai dapat memejamkan mata.

Pagi ini aku harus bangun lebih awal. Aku ingin mempraktekkan yoga yang juga baru kupelajari beberapa minggu ini. “Alamak….kau ini. Meditasi, senam, kemaruk kali”. Tiba-tiba kudengar suara suamiku mengejek. Ia masih berbaring di tempat tidur. “Tenanglah, kalau aku sehat, papa kan bisa kupijetin tiap malam,” jawabku tulus.

“Ini nih, pinggangku sakit. Udah, tolong innjek-injek dulu-lah….” Ia mulai merengek manja. Ah, aku menarik nafas panjang. Dia memang harus kulayani lebih dulu. Setelah itu baru aman untuk meneruskan yogaku.***

Tapi kali ini upayaku dengan meditasi, yoga dan terapi jus yang kulakukan secara rutin tidak berpengaruh bagi kesehatanku. Aku terkena tipus! Aku tidak berdaya…tergeletak lemah di tempat tidur.

“Lo, mana itu meditasi, yoga, jus dan sebagainya? Nyatanya sakit juga…” Suamiku menyentuh keningku yang panas. “Aku pengen dipijetin…” pintaku berusaha manja. “Aduh, masih pegang rokok, bentar ya. Udahlah, sarapan dulu biar kuat. Masih bisa kan masak mie ?” sambungnya. “Atau, bikin teh manis la, biar perutnya hangat,” sambungnya lagi.

“Yang…aku sakit sungguhan nih…nggak kuat…” keluhku benar-benar nggak kuat lagi. Aku berharap suamiku melakukan sesuatu untukku. “Sabarlah, nanti juga sembuh. Makanya sana bikin teh manis panas atau bikin susu. Kamu ini kurang gizi aja…..” dan aku tak mendengar lagi suaranya. Ketika tersadar kudapatkan tubuhku terbaring lemah di salah satu kamar rumah dengan dinding berwarna putih.  Ini bukan kamarku. Tipusku ini menyebabkan aku diopname di rumah sakit. Anak bungsuku ditelpon suamiku, dia yang membawaku ke sini.***

Komentar Via Facebook

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here