Beranda Kisah Kami

Takut Masuk Kantor Camat….

178
BERBAGI

sarah

FederasiHapsari: Sarah, 41 tahun, Ibu Rumah Tangga dengan 3 Anak. Tinggal di Desa Pematang Kuala kecamatan Teluk Mengkudu Serdang Bedagai. Latar belakang pendidikan formalnya tamat SLTP. Sejak tahun 2008 bergabung menjadi anggota Serikat Perempuan Petani dan Nelayan (SPPN) yang merupakan salah satu serikat anggota HAPSARI di kabupaten Sergai, setelah sebelumnya selama 5 tahun ia menjadi TKW di Malaysia.

Tahun 2009 ia terpilih menjadi Ketua CU (Credit Union) HAPSARIsehati yang saat ini beranggotakan 410 orang, dengan beberapa produk pelayanan seperti Simpan-Pinjam, Catering dan Menyewakan Perlengkapan Rapat. Tahun 2013, ia menjadi Penanggungjawab program Basis Produksi di HAPSARI.

Sebagai Ibu Rumah Tangga biasa, Makcek Sarah (ia biasa dipanggil begitu) selama ini sangat terbatas berhubungan dengan kalangan pemerintahan. Bahkan untuk mengurus KTP saja (sebelum ini) biasanya ia minta tolong orang di Desa, karena tidak mengerti bagaimana mengurus KTP dan jarang datang ke Kantor Desa.

Setelah mengikuti beberapa kegiatan program[1][1]  ia merasa mendapat pengetahuan baru. Dan yang paling penting, “keberanian” untuk bertemu dan berbicara dengan kalangan pemerintahan dan dewan perwakilan.

Baginya, pengalaman (hanya) mengantarkan surat undangan kepada Wakil Bupati dan Dewan Perwakilan saja merupakan pengalaman yang sangat berharga dalam kehidupannya (sebagai perempuan biasa dan warga negara).

  • “Pernah mengantarkan surat undangan untuk Wakil Bupati. Kupikir diantarkan langsung sama Wakil Bupati, ternyata nggak…..ada orang khusus yang menerima, entah apa namanya. Trus kita dikasih surat sepotong ada tanda tangan tandanya surat kita sudah diterima. Oh….gitu rupanya…” Cerita Cek Sarah pada Tim Evaluasi HAPSARI.
  • Bagiku itu sudah hebat kali…..selama ini, selama ini jangankan masuk kantor Bupati, masuk kantor Camat saja awak takut,” katanya.
  • “Pernah juga mengantarkan surat undangan ke kantor Dewan di Deli Serdang dan Serge. Kalau gak karena kegiatan ini, mana pernah awak ada urusan ke kantor dewan. Awak masuk ke dalamnya…diajak makan pula kami waktu itu…..” sambungnya.
  • “Ternyata gak se-seram yang awak bayangkan, gaknya seram-seram kali…” sambungnya lagi sambil tertawa-tawa.
  • “Setelah mengantarkan surat, tugas kita adalah melakukan lobi, untuk memastikan supaya dewan bisa datang menghadiri acara kami. Alhamdulillah, semua yang awak lobi berhasil,” Makcek Sarah menutup ceritanya dengan bangga.***

[1] Pendidikan Advokasi dan Lobi, Pendidikan Hak Warga, Forum Dialog dan Audiensi

Komentar Via Facebook

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here