Kongres Keempat

Zulfa Suja, Ketua Pelaksana Harian membacakan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) dalam Kongres IV HAPSARI
Zulfa Suja, Ketua Pelaksana Harian membacakan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) dalam Kongres IV HAPSARI
Kongres Nasional di Jogyakarta: Menggerakkan Kepemimpinan Perempuan Lokal

Kongres Keempat HAPSARI, yang juga disebut Kongres Nasional HAPSARI, menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah organisasi. Jika Kongres Pertama menegaskan bentuk federasi, Kongres Kedua memperkuat akar gerakan, dan Kongres Ketiga memperluas keberanian perempuan untuk memimpin perubahan, maka Kongres Keempat membawa HAPSARI memasuki babak baru: menegaskan diri sebagai federasi serikat perempuan tingkat nasional.

Zulfa Suja, KPH HAPSARI membacakan Tatib Kongres IV HAPSARI di Puncak Suroloyo DIY (02/12/2011)
Zulfa Suja, KPH HAPSARI membacakan Tatib Kongres IV HAPSARI di Puncak Suroloyo DIY (02/12/2011)

Rangkaian Kongres ini berlangsung pada 2–5 Desember 2011 di Yogyakarta dan Bandung dengan tema “Menggerakkan Kepemimpinan Perempuan Lokal Sebagai Bagian dari Gerakan Rakyat Nasional”. Kongres Nasional dilaksanakan pada 2–4 Desember 2011 di Yogyakarta, lalu dilanjutkan dengan Konferensi Nasional Perempuan Pemimpin Lokal pada 5 Desember 2011 di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung.

Bagi HAPSARI, keputusan menuju federasi nasional bukan sekadar perluasan wilayah organisasi. Ia adalah pernyataan bahwa pengalaman perempuan akar rumput di desa, serikat, komunitas, perkebunan, pesisir, dan wilayah adat merupakan bagian dari gerakan rakyat yang lebih luas. Kepemimpinan perempuan lokal tidak ditempatkan sebagai pelengkap, tetapi sebagai kekuatan yang dapat menggerakkan perubahan sosial, budaya, ekonomi, dan politik.

Dari Basis Lokal ke Federasi Nasional

Penerimaan Anggota Baru: SPI Kulon Progo pada Kongres IV HAPSARI di Jogyakarta (02/12/2011)
Penerimaan Anggota Baru: SPI Kulon Progo pada Kongres IV HAPSARI di Jogyakarta (02/12/2011)

Sejak awal, HAPSARI dibangun dari dan oleh perempuan akar rumput. Organisasi ini bertumpu pada aktivitas diri anggota, komitmen sukarela perempuan lokal, dan jaringan serikat-serikat perempuan yang otonom. Kepemimpinan organisasi lahir dari perempuan yang hidup bersama persoalan komunitasnya sendiri.

Perjalanan menuju federasi nasional tidak muncul tiba-tiba. Pada Februari 2010, HAPSARI mengadakan Rapat Tahunan Anggota di Medan yang menetapkan agenda menuju federasi serikat perempuan tingkat nasional. Mandat ini dilanjutkan melalui Rapat Kerja Nasional HAPSARI pada 29 November–3 Desember 2010 dengan tema “Menuju Kepemimpinan dan Organisasi Gerakan Perempuan Nasional”.

Menjelang Kongres Nasional 2011, beberapa serikat perempuan dari luar Sumatera Utara mulai bergabung dalam proses HAPSARI. Serikat Perempuan Bantul di Daerah Istimewa Yogyakarta mendaftar pada 28 Januari 2010; SPI Kulon Progo mendaftar pada 7 Oktober 2010; SPI Pekalongan mendaftar pada 10 Oktober 2010; dan Serikat Perempuan Dayak Kalimantan Timur mendaftar pada 31 Januari 2011.

Masuknya serikat-serikat dari luar Sumatera Utara menunjukkan bahwa pengalaman HAPSARI tidak berhenti di satu wilayah. Namun, perluasan itu juga membawa konsekuensi besar: organisasi harus menata ulang struktur, keanggotaan, kewilayahan, program, kaderisasi, dan mekanisme pertanggungjawaban agar tetap demokratis dan tidak menjauh dari anggota.

Mimpi Nasional dan Keberanian Membesar

Suasana Kongres IV HAPSARI di Puncak Suroloyo, Peserta serius mengikuti proses.
Suasana Kongres IV HAPSARI di Puncak Suroloyo, Peserta serius mengikuti proses.

Kongres Keempat memperlihatkan mimpi besar HAPSARI. Dari organisasi yang berakar di Desa Sukasari, tumbuh menjadi yayasan, melahirkan serikat perempuan, lalu menjadi federasi serikat perempuan di Sumatera Utara, HAPSARI berani membayangkan dirinya sebagai federasi serikat perempuan tingkat nasional.

Mimpi ini bukan ambisi kosong. Ia lahir dari pengalaman panjang perempuan akar rumput membangun kelompok, mengurus serikat, memimpin organisasi, menghadapi stigma, menyuarakan ketidakadilan, dan membangun solidaritas lintas wilayah. HAPSARI melihat bahwa persoalan perempuan akar rumput tidak berhenti di batas desa, kabupaten, atau provinsi. Karena itu, suara dan kepemimpinan perempuan lokal perlu dihubungkan dengan gerakan rakyat yang lebih luas.

Namun, keputusan menjadi federasi nasional juga membawa konsekuensi besar. HAPSARI harus menyiapkan sistem organisasi, kaderisasi, komunikasi lintas wilayah, sumber daya, mekanisme pertanggungjawaban, dan kemampuan merawat anggota yang tersebar di berbagai daerah. Dengan demikian, Kongres Keempat bukan hanya mencatat keberanian HAPSARI membesar, tetapi juga membuka babak baru tentang bagaimana mimpi besar itu harus dipertanggungjawabkan.

Tiga Lokasi yang Dipilih dengan Kesadaran Sejarah

Suasana di halaman Padepokan Puncak Suroloyo, Kulon Progo (DIY) tempat Kongres IV HAPSARI dilaksanakan (02/12/2011)
Suasana di halaman Padepokan Puncak Suroloyo, Kulon Progo (DIY) tempat Kongres IV HAPSARI dilaksanakan (02/12/2011)

Kongres Nasional HAPSARI dan Konferensi Nasional Perempuan Pemimpin Lokal dilaksanakan di tiga lokasi yang memiliki makna penting. Pertama, Pondok Wisata Puncak Suroloyo di Dusun Keceme, Desa Gerbosari, Kecamatan Samigaluh, Kulon Progo, Yogyakarta. Lokasi ini dipilih karena SPI Kulon Progo menjadi nyonya rumah Kongres. Peserta Kongres menginap di rumah-rumah anggota SPI Keceme yang selama ini mereka kelola sebagai homestay. Pilihan ini menjadi praktik nyata solidaritas antarserikat perempuan anggota HAPSARI. Semangat saling mendukung ini ikut memperkuat semngat berorganisasi, bagi perempuan akar rumput.

nDalem Joyodipuran, tempat dilaksanakannya Kongres Perempoean Indonesia 1928 di Jogyakarta
nDalem Joyodipuran, tempat dilaksanakannya Kongres Perempoean Indonesia 1928 di Jogyakarta

Kedua, Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta atau nDalem Joyodipuran, di Jalan Brigjen Katamso 139, Yogyakarta. Bangunan ini memiliki sejarah penting dalam pergerakan nasional dan gerakan perempuan Indonesia. Di tempat ini pernah berlangsung Kongres Jong Java I pada 29 Mei–3 Juni 1919, Kongres Jong Java II pada 23–27 Mei 1923, dan Kongres Perempoean Indonesia I pada 22–25 Desember 1928. Bagi HAPSARI, hadir di tempat ini adalah napak tilas terhadap sejarah panjang gerakan perempuan Indonesia. Menghayati, memberi makna dan menyerap energi positif untuk memperkuat gerakan perempuan akar rumput yang sedang dibangun oleh HAPSARI.

Konferensi Nasional HAPSARI di GIM Bandung (05/12/2011)
Konferensi Nasional HAPSARI di GIM Bandung (05/12/2011)

Ketiga, Gedung Indonesia Menggugat di Bandung. Di gedung inilah Soekarno pernah diadili oleh pemerintah kolonial Belanda karena menyuarakan tuntutan Indonesia merdeka. HAPSARI memilih tempat ini sebagai lokasi Konferensi Nasional untuk menegaskan bahwa kepemimpinan perempuan lokal adalah bagian dari gerakan rakyat yang lebih luas: siap memimpin dan siap pula dipimpin dalam perjuangan bersama. Akses untuk dapat menggunakan tempat ini dibantu oleh Sapei Rusin dan Muktimukti dari Sekretariat PERGERAKAN Bandung.

Proses dan Keputusan Penting Kongres

Pada 2 Desember 2011, Kongres dibuka di Pondok Wisata Puncak Suroloyo, Yogyakarta. Acara pembukaan dihadiri oleh Wakil Bupati Kulon Progo, Drs. H. Sutejo, dan Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan Kabupaten Kulon Progo, Dra. Sri Wahyu Widati.
Pada hari pertama, Kongres mengesahkan tiga serikat perempuan sebagai anggota baru HAPSARI, yaitu SPI Kulon Progo, SPI Pekalongan, dan Serikat Perempuan Dayak Kalimantan Timur. Prosesi pengesahan ditandai dengan penyematan ulos kepada utusan serikat yang hadir. Dalam tradisi HAPSARI, ulos bukan hanya simbol penyambutan, tetapi tanda penerimaan dalam rumah gerakan bersama.

Sapei Rusin (PERGERAKAN) Bandung, dalam sesi Berbagi Pengetahuan Membangun Gerakan Rakyat.
Sapei Rusin (PERGERAKAN) Bandung, dalam sesi Berbagi Pengetahuan Membangun Gerakan Rakyat.

Kongres juga membahas Laporan Pertanggungjawaban Dewan Perwakilan Anggota dan Pelaksana Harian HAPSARI periode 2008–2011. Laporan berjudul “Belajar Bersama Memimpin dan Menggerakkan Perubahan dari Desa” diterima oleh seluruh peserta Kongres. Dalam pembahasan tersebut, peserta mencatat bahwa salah satu keberhasilan penting HAPSARI adalah membangun serikat-serikat perempuan basis tingkat kabupaten dan memberi ruang kepemimpinan bagi perempuan basis di komunitasnya.

Pada 3 Desember 2011, Kongres membahas dan mengesahkan Anggaran Dasar HAPSARI 2011–2016 yang terdiri dari 9 bab, 29 pasal, dan 89 ayat. Salah satu substansi terpentingnya adalah perubahan bentuk organisasi dari federasi serikat perempuan tingkat Sumatera Utara menjadi federasi serikat perempuan tingkat nasional.

Kongres juga menetapkan tujuh Program Strategis HAPSARI 2011–2016, yaitu:

  • Kampanye nasional untuk isu-isu lokal.
  • Memperluas jumlah Serikat Perempuan Independen.
  • Memperkuat kemandirian ekonomi HAPSARI dan komunitas perempuan basis.
  • Membangun sistem kaderisasi dan kepemimpinan perempuan basis.
  • Merancang strategi dan menyelenggarakan pendidikan politik perspektif perempuan.
  • Mendorong perempuan basis untuk duduk di posisi politik formal.
  • Mensosialisasikan hak asasi perempuan sebagai bagian dari hak asasi manusia dan anti kekerasan berbasis gender.

Dewan Pengurus Nasional dan Ketua Pelaksana Harian

Pelantikan DPN HAPSARI di nDalem Joyodipuron DIY (04/12/2011)
Pelantikan DPN HAPSARI di nDalem Joyodipuron DIY (04/12/2011)

Kongres Keempat menetapkan struktur baru bernama Dewan Pengurus Nasional HAPSARI periode 2011–2016. DPN berasal dari utusan serikat perempuan anggota HAPSARI dan perwakilan wilayah. Struktur ini diberi kewenangan membagi peran dan fungsi sebagai legislatif, eksekutif, dan yudikatif.

Dewan Pengurus Nasional HAPSARI periode 2011–2016 terdiri dari:
Ketua Umum: Lely Zailani, SPI Deli Serdang.
Sekretaris: Setyaningsih Darmastuti, SPI Pekalongan.
Bendahara: Mirah, Serikat Perempuan Bantul.
Anggota: Sumberini, SPI Kulon Progo.
Anggota: Ari Purjantati, SPI Kulon Progo.
Anggota: Shopia Buring, Serikat Perempuan Dayak.
Anggota: Rusmawati, SPPN Serdang Bedagai.
Anggota: Betseba Br. Barus, SPI Tanah Karo Simalem.
Anggota: Lusiana Kavung, Serikat Perempuan Dayak.
Anggota: Riani, SPI Serdang Bedagai.
Anggota: Istuti Laili Lubis, SPI Serdang Bedagai.
Anggota: Zulfa Suja, SPI Serdang Bedagai.
Anggota: Asriyanti, SPI Serdang Bedagai.

Melalui Rapat Pertama DPN HAPSARI, Riani dari SPI Serdang Bedagai ditetapkan sebagai Ketua Pelaksana Harian. Keputusan ini menjadi bagian penting dari proses kaderisasi HAPSARI, karena kerja harian organisasi nasional mulai dipercayakan kepada kader perempuan akar rumput yang tumbuh dari serikat anggota. Sekretariat Nasional HAPSARI untuk sementara tetap berada di Sumatera Utara, di Jl. Tamrin No. 53-A, Lubuk Pakam, Deli Serdang, karena seluruh unsur Dewan Eksekutif berada di sana.

Napak Tilas Gerakan Perempuan di nDalem Joyodipuran

Foto Bersama saat Pelantikan Dewan Pengurus Nasional HAPSARI di nDalem Joyodipuran (DIY)
Foto Bersama saat Pelantikan Dewan Pengurus Nasional HAPSARI di nDalem Joyodipuran (DIY)

Pada 4 Desember 2011, lokasi Kongres berpindah ke Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta atau nDalem Joyodipuran. Di tempat ini, Dewan Pengurus Nasional HAPSARI dilantik dalam suasana penuh keharuan. Seluruh peserta mengheningkan cipta dan melangitkan doa, untuk semua perempuan pejuang yang pernah berkongres di tempat ini dan telah lebih dulu berpulang keharibaanNya. Pelantikan diisi dengan prosesi pemasangan ulos oleh Lena Simanjuntak Mertes, salah seorang Dewan Penasehat HAPSARI yang baru diangkat melalui Rapat Pertama DPN HAPSARI di Suroloyo.

Empat Orang Narasumber dalam sesi Seminar & Pelantikan Pengurus HAPSARI (04/12/2011)
Empat Orang Narasumber dalam sesi Seminar & Pelantikan Pengurus HAPSARI (04/12/2011)

Setelah pelantikan, dilaksanakan seminar bertema “Tantangan dan Harapan Bagi Kemajuan Gerakan Perempuan Indonesia: Lokal, Nasional dan Internasional”. Seminar menghadirkan Yunianti Chuzaifah, Ketua Komnas Perempuan; Lena Simanjuntak Mertes dari Lembaga Persahabatan Indonesia Jerman; Franscicius Wahono, Direktur Yacitra Paritrana Yogyakarta; dan Sudarno, Dewan Pakar PERGERAKAN Bandung.

Seminar ini memperkuat kesadaran HAPSARI bahwa menjadi federasi nasional membawa tanggung jawab besar: menjaga tata kelola organisasi, membangun pendidikan dan kaderisasi, merespons kebijakan yang diskriminatif terhadap perempuan, serta menjaga wibawa organisasi di hadapan publik dan gerakan sosial yang lebih luas.

Konferensi Nasional di Bandung

Pada 4 Desember 2011 sekitar pukul 20.00 WIB, seluruh peserta Kongres berangkat menuju Bandung dengan menyewa bus. Mereka tiba di Bandung sekitar pukul 05.00 WIB pada 5 Desember 2011, lalu bersiap menyelenggarakan Konferensi Nasional sekitar pukul 11.00 WIB di Gedung Indonesia Menggugat.

Pembukaan Konferensi Nasional HAPSARI di GIM Bandung (05/12/2011)
Pembukaan Konferensi Nasional HAPSARI di GIM Bandung (05/12/2011)

Konferensi Nasional Perempuan Pemimpin Lokal ini diselenggarakan HAPSARI bekerja sama dengan PERGERAKAN, jaringan organisasi rakyat nasional tempat HAPSARI menjadi anggota. Dalam konferensi ini, Dewan Pengurus Nasional HAPSARI menyampaikan hasil-hasil Kongres Nasional HAPSARI kepada publik. Kegiatan ini diliput oleh media massa lokal Bandung, media nasional, dan media internet.

Konferensi ini juga terhubung dengan Kongres III PERGERAKAN di Bandung. HAPSARI mengutus empat orang pimpinan nasional, yaitu Lely Zailani, Zulfa Suja, Istuti Laili Lubis, dan Rusmawati. Dalam Kongres III PERGERAKAN, organisasi tersebut berubah menjadi Konfederasi Pergerakan Rakyat Indonesia. Tiga dari empat utusan HAPSARI—Lely Zailani, Istuti Laili Lubis, dan Rusmawati—masuk dalam struktur Dewan Presidium Nasional, dan Lely Zailani terpilih sebagai Ketua DPN PERGERAKAN periode 2011–2014.

Makna Kongres Keempat bagi HAPSARI

Peserta Kongres dari SPI Pekalongan, foto bersama di halaman Padepokan Puncak Suroloyo (DIY)
Peserta Kongres dari SPI Pekalongan, foto bersama di halaman Padepokan Puncak Suroloyo (DIY)

Kongres Keempat HAPSARI adalah tonggak penting yang menandai keberanian organisasi perempuan akar rumput membawa pengalaman lokal ke gelanggang nasional. HAPSARI tidak hanya memperluas struktur, tetapi menegaskan bahwa kepemimpinan perempuan lokal adalah bagian sah dari gerakan rakyat nasional.

Melalui Kongres Keempat, HAPSARI belajar bahwa menjadi nasional tidak boleh berarti meninggalkan akar. Menjadi nasional justru berarti menghubungkan pengalaman-pengalaman lokal menjadi kekuatan bersama yang lebih luas: dari desa, komunitas, serikat, dapur, ladang, kebun, pesisir, dan wilayah adat.

Kongres ini juga menunjukkan kemampuan HAPSARI membangun organisasi yang sadar sejarah. Dengan memilih Suroloyo, nDalem Joyodipuran, dan Gedung Indonesia Menggugat, HAPSARI menempatkan dirinya dalam garis panjang gerakan rakyat dan gerakan perempuan Indonesia. Perempuan akar rumput hadir di ruang-ruang sejarah itu bukan sebagai tamu, tetapi sebagai subjek yang berbicara, mengambil keputusan, dan menyampaikan hasil perjuangannya sendiri.

Kongres Keempat juga penting dibaca sebagai momen ketika HAPSARI memasuki ujian baru. Menjadi nasional bukan hanya soal memperluas nama, menambah anggota, atau membentuk struktur baru. Menjadi nasional berarti menjaga agar perluasan organisasi tidak memutus HAPSARI dari sumber kekuatannya: perempuan akar rumput, serikat anggota, pengalaman komunitas, dan kepemimpinan yang tumbuh dari bawah.

Dalam perjalanan berikutnya, mimpi nasional ini akan diuji oleh kemampuan organisasi merawat anggota lintas wilayah, menjaga komunikasi, membangun sistem kaderisasi, mengelola sumber daya yang terbatas, dan memastikan bahwa struktur nasional tidak menjadi terlalu jauh dari kehidupan perempuan di komunitas.

Di sinilah Kongres Keempat menjadi sangat penting: ia memperlihatkan keberanian HAPSARI bermimpi besar, sekaligus menandai dimulainya tanggung jawab besar untuk menjaga agar mimpi itu tetap berakar.

Dengan demikian, Kongres Keempat HAPSARI bukan hanya kongres perubahan struktur. Ia adalah momen ketika perempuan akar rumput menyatakan bahwa pengalaman lokal mereka memiliki nilai nasional; bahwa kepemimpinan yang lahir dari komunitas dapat ikut membentuk arah gerakan; dan bahwa organisasi perempuan akar rumput mampu berdiri dalam pergaulan gerakan rakyat Indonesia tanpa kehilangan jati dirinya.***