Menguatkan perempuan, keluarga, dan komunitas menghadapi krisis iklim dan pangan dari rumah, pekarangan, dan kampung sendiri.

Krisis iklim dan pangan semakin terasa dalam kehidupan komunitas akar rumput: musim tidak menentu, kekeringan, banjir, gagal panen, berkurangnya sumber pangan lokal, dan meningkatnya harga kebutuhan pokok. Bagi perempuan, situasi ini sering menjadi beban berlapis karena mereka berada di garis depan kerja perawatan keluarga, pengelolaan pangan, dan strategi bertahan hidup sehari-hari.
HAPSARI mengembangkan program Ketahanan Iklim dan Pangan untuk memperkuat kapasitas perempuan, keluarga, dan komunitas dalam menghadapi krisis tersebut. Program ini menempatkan perempuan akar rumput bukan hanya sebagai penerima manfaat, tetapi sebagai pemimpin perubahan yang memiliki pengetahuan, pengalaman, dan peran penting dalam menjaga pangan keluarga serta daya tahan komunitas.

Melalui program ini, HAPSARI mendorong pemanfaatan sumber daya lokal, penguatan pangan keluarga, pendidikan komunitas, pengorganisasian perempuan, serta advokasi kebijakan yang lebih peka terhadap pengalaman warga. Salah satu model yang dikembangkan adalah Rumah NUSA dan Kampung NUSA, yaitu pendekatan ketahanan pangan dan adaptasi iklim berbasis rumah tangga, pekarangan, rumah bibit, dan kerja kolektif komunitas.
Program ini diarahkan untuk memperkuat akses keluarga terhadap pangan sehat dan beragam, meningkatkan kepemimpinan perempuan, membangun praktik adaptasi iklim dari tingkat rumah tangga, serta mendorong kebijakan lokal yang mendukung ketahanan pangan berbasis komunitas.
HAPSARI membuka ruang kemitraan dengan pemerintah, kampus, organisasi masyarakat sipil, media, dan mitra pembangunan untuk memperluas pembelajaran, memperkuat model komunitas, dan mendorong kebijakan ketahanan iklim dan pangan yang berpihak pada perempuan akar rumput.
