
Jejak Orang Muda, Integritas, dan Kerja Anti Korupsi HAPSARI
Catatan arsip ini mendokumentasikan kerja HAPSARI bersama Transparency International Indonesia (TII) dalam memperkuat pendidikan warga, integritas publik, dan partisipasi orang muda melalui Youth Integrity Center (YIC) Sumatera Utara.
Youth Integrity Center (YIC) Sumatera Utara merupakan salah satu jejak penting kerja HAPSARI dalam memperkuat pendidikan warga, integritas publik, dan gerakan anti korupsi berbasis komunitas. YIC menjadi ruang belajar dan aksi bagi orang muda untuk memahami transparansi, akuntabilitas, pengadaan barang dan jasa, serta hak warga atas informasi publik.
Bagi HAPSARI, kerja anti korupsi tidak hanya berbicara tentang penindakan hukum atau penyalahgunaan kewenangan di ruang kekuasaan. Korupsi juga berdampak langsung pada kehidupan warga, terutama perempuan, anak, keluarga miskin, penyintas kekerasan, dan komunitas rentan yang bergantung pada layanan publik. Ketika anggaran tidak transparan, pengadaan tidak mudah diawasi, dan layanan dasar tidak sampai kepada warga, kelompok yang paling rentan sering menanggung akibat paling berat.

Karena itu, keterlibatan orang muda dalam kerja anti korupsi menjadi penting. Orang muda tidak cukup ditempatkan sebagai penerima pesan kampanye, tetapi perlu diberi ruang untuk belajar, bertanya, memantau, mendokumentasikan, dan menyampaikan suara warga. Dalam konteks inilah HAPSARI bersama TII mengembangkan YIC Sumatera Utara sebagai wadah inisiatif orang muda untuk memperkuat transparansi dan akuntabilitas publik.
Kunjungan Duta Besar Amerika Serikat ke HAPSARI/YIC

Pada 25 September 2024, HAPSARI bersama YIC Sumatera Utara menerima kunjungan Kamala Shirin Lakhdhir, Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia, bersama Konsulat Jenderal Amerika Serikat di Medan, Mission Director USAID Indonesia, dan rombongan. Kunjungan ini menjadi salah satu momen penting dalam perjalanan YIC Sumatera Utara, karena membuka ruang dialog langsung tentang kerja orang muda dalam mendorong integritas dan pengawasan publik di tingkat komunitas. Terlebih, karena Duta Besar tersebut adalah seorang perempuan, ada semangat ‘solidaritas sesama perempuan’ yang terasa tumbuh.

Sebelumnya, tanggal 23 September 2024, Ketua Dewan Ahli HAPSARI, Laili Zailani, turut hadir dalam jamuan makan malam dan dialog bersama Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia di Medan. Pertemuan itu dilakukan dalam rangka perkenalan Duta Besar Kamala Shirin Lakhdhir, dengan sejumlah aktivis perempuan di Sumatera Utara. Dua hari setelah pertemuan tersebut, Duta Besar Amerika Serikat bersama rombongan berkunjung ke HAPSARI dan berdialog dengan YIC Sumatera Utara (Sumut).

Dalam dialog tersebut, YIC berkesempatan menyampaikan berbagai upaya yang telah dilakukan untuk memperkuat integritas publik, meningkatkan kesadaran warga tentang transparansi dan akuntabilitas, serta mendorong keterlibatan orang muda dalam pemantauan pengadaan barang dan jasa. YIC juga membagikan pengalaman tentang tantangan yang dihadapi dalam membangun gerakan anti korupsi di tingkat komunitas, termasuk pentingnya dukungan lintas pihak agar pendidikan warga dan pemantauan publik dapat berjalan lebih kuat.
YIC sebagai Ruang Orang Muda untuk Integritas Publik

YIC Sumut dibentuk melalui kerja sama HAPSARI dengan Transparency International Indonesia, dengan dukungan USAID Indonesia dan Kemitraan Indonesia. Wadah ini dikembangkan untuk mempertemukan orang muda dengan isu yang sering dianggap teknis dan jauh dari kehidupan sehari-hari: pengadaan barang dan jasa, anggaran publik, audit sosial, layanan dasar, dan transparansi pemerintahan. Melalui proses belajar dan pendampingan, orang muda diajak memahami bahwa pengadaan publik bukan sekadar urusan dokumen pemerintah.

Di balik pengadaan barang dan jasa terdapat hak warga atas layanan yang layak: fasilitas kesehatan, pendidikan, infrastruktur, pangan, program stunting, perlindungan sosial, dan berbagai layanan lain yang langsung memengaruhi kehidupan masyarakat. Dalam kerja YIC, orang muda belajar membaca informasi publik, mengenali risiko korupsi, melakukan pemantauan, menyusun temuan, dan membangun dialog dengan pihak terkait. Proses ini memperkuat kemampuan warga muda untuk tidak hanya marah pada korupsi, tetapi juga memahami cara mengawasi, bertanya, dan menyampaikan masukan secara bertanggung jawab.
Panggung Anti Korupsi dan Hakordia 2024

Pada 13 Desember 2024, HAPSARI mengorganisir YIC Sumatera Utara dalam kegiatan Panggung Anti Korupsi dalam rangka Hari Anti Korupsi Sedunia (Hakordia). Kegiatan ini menjadi ruang ekspresi dan pendidikan publik bagi orang muda untuk menyuarakan pentingnya integritas, transparansi, dan akuntabilitas dalam pengelolaan anggaran serta layanan publik.
Panggung Anti Korupsi bukan merupakan penyebab kunjungan Duta Besar Amerika Serikat ke HAPSARI/YIC. Kegiatan tersebut berlangsung setelah kunjungan, dan diselenggarakan karena TII melihat kapasitas HAPSARI dalam mengorganisir YIC dan menyelenggarakan kegiatan anti korupsi berbasis warga serta orang muda. Dengan demikian, kunjungan Duta Besar dan Panggung Anti Korupsi merupakan dua jejak penting dalam rangkaian kerja HAPSARI bersama TII, tetapi perlu dibaca dalam kronologi yang tepat.

Bagi HAPSARI, Panggung Anti Korupsi memperlihatkan bahwa pendidikan warga dapat dilakukan dengan cara yang dekat, kreatif, dan mudah diterima komunitas. Anti korupsi tidak harus berhenti pada bahasa hukum dan prosedur, tetapi dapat disampaikan melalui ruang dialog, ekspresi anak muda, kampanye publik, dan pembelajaran bersama tentang hak warga atas tata kelola yang bersih.
Mengapa Peristiwa Ini Penting bagi HAPSARI
Peristiwa ini penting bagi HAPSARI karena menunjukkan bahwa kerja organisasi dalam isu anti korupsi telah bergerak melampaui pelatihan atau kegiatan sesaat. HAPSARI mampu menghubungkan pendidikan kritis, pengalaman komunitas, partisipasi orang muda, dan isu tata kelola publik dalam satu kerja yang lebih luas: membangun akuntabilitas dari bawah.
Kunjungan Duta Besar Amerika Serikat ke HAPSARI/YIC menunjukkan adanya perhatian terhadap kerja-kerja integritas publik yang dilakukan masyarakat sipil di tingkat lokal. Sementara itu, Panggung Anti Korupsi menunjukkan kapasitas HAPSARI dalam mengorganisir orang muda, membangun ruang belajar publik, dan memperluas pesan anti korupsi ke komunitas dengan cara yang hidup dan partisipatif.
Bagi mitra pembangunan, pengalaman ini memperlihatkan bahwa HAPSARI memiliki kapasitas bekerja di isu yang kompleks: demokrasi lokal, pengawasan publik, partisipasi warga, transparansi anggaran, dan integritas. Isu-isu tersebut tetap dibaca dari perspektif yang dekat dengan kerja HAPSARI selama ini: kehidupan warga, perempuan akar rumput, anak, keluarga rentan, layanan publik, dan keadilan sosial.
Nilai Pembelajaran
- Anti korupsi perlu dibumikan dalam kehidupan warga, bukan hanya dibahas sebagai isu hukum atau elit politik.
- Orang muda dapat menjadi aktor penting dalam pemantauan publik jika diberi ruang belajar, pendampingan, dan kepercayaan.
- Pengawasan pengadaan barang dan jasa perlu dihubungkan dengan kualitas layanan publik yang dirasakan warga.
- Organisasi masyarakat sipil lokal seperti HAPSARI dapat menjadi jembatan antara komunitas, orang muda, jaringan nasional, dan mitra pembangunan.
- Kerja integritas publik akan lebih kuat jika dibangun melalui kolaborasi, pendidikan warga, dan dokumentasi pembelajaran yang baik.
Ringkasan Kronologi
- September 2024 – Ketua Dewan Ahli HAPSARI, Laili Zailani, hadir dalam jamuan makan malam dan dialog bersama Duta Besar AS untuk Indonesia di Medan, dalam konteks perkenalan dengan aktivis perempuan Sumatera Utara.
- 25 September 2024 – Duta Besar AS untuk Indonesia bersama Konsulat Jenderal AS Medan, Mission Director USAID Indonesia, dan rombongan berkunjung ke HAPSARI/YIC Sumatera Utara.
- 13 Desember 2024 – HAPSARI mengorganisir YIC Sumatera Utara dalam Panggung Anti Korupsi dalam rangka Hari Anti Korupsi Sedunia (Hakordia).
Penutup
YIC Sumatera Utara menjadi bagian dari jejak HAPSARI dalam memperluas pendidikan kritis ke ranah integritas publik dan anti korupsi. Melalui YIC, HAPSARI menunjukkan bahwa orang muda dapat belajar menjadi warga yang aktif, kritis, dan berani terlibat dalam pengawasan kebijakan publik.
Bagi HAPSARI, kerja anti korupsi adalah bagian dari upaya membangun demokrasi dari akar rumput. Ketika warga, perempuan, dan orang muda memiliki pengetahuan serta ruang untuk bertanya dan mengawasi, maka transparansi dan akuntabilitas tidak lagi menjadi istilah yang jauh. Ia menjadi praktik sehari-hari dalam memperjuangkan layanan publik yang adil dan pemerintahan yang lebih bersih.***
