Memperkuat pendidikan warga, transparansi, dan akuntabilitas publik dari perspektif perempuan akar rumput
Mengapa Anti Korupsi Penting bagi Perempuan Akar Rumput?
Bagi HAPSARI, korupsi bukan hanya persoalan hukum atau penyalahgunaan kewenangan di ruang-ruang kekuasaan. Korupsi juga berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari warga, terutama perempuan, anak, dan kelompok rentan.
Ketika anggaran publik tidak dikelola secara transparan, ketika pengadaan barang dan jasa tidak mudah diawasi, atau ketika layanan dasar tidak sampai kepada warga yang membutuhkan, perempuan akar rumput ikut menanggung akibatnya: layanan kesehatan terganggu, program perlindungan sosial tidak tepat sasaran, pemenuhan gizi keluarga melemah, dan hak warga atas layanan publik menjadi semakin sulit dipenuhi.
Karena itu, HAPSARI memandang pendidikan anti korupsi sebagai bagian dari kerja memperkuat demokrasi dari bawah. Warga, termasuk perempuan dan kaum muda, perlu memiliki pengetahuan, keberanian, dan ruang untuk bertanya: ke mana anggaran publik digunakan, siapa yang memperoleh manfaat, apakah prosesnya terbuka, dan apakah program benar-benar menjawab kebutuhan warga.
Pendekatan HAPSARI
Melalui Kelas Anti Korupsi, HAPSARI mengembangkan ruang belajar warga untuk memahami transparansi, pengadaan barang dan jasa, pengawasan sosial, dan akuntabilitas publik dengan cara yang dekat dengan kehidupan komunitas.
Pendekatan ini tidak menempatkan warga sebagai penonton kebijakan, tetapi sebagai pihak yang berhak memahami, memantau, dan memberi masukan terhadap program-program publik yang berdampak pada kehidupan mereka.
Dalam kerja bersama Transparency International Indonesia, HAPSARI pernah mengembangkan kelas dan workshop pemantauan Pengadaan Barang/Jasa (PBJ), termasuk dalam isu penanganan stunting di Sumatera Utara. Kerja ini melibatkan perempuan akar rumput, kaum muda, akademisi, organisasi masyarakat sipil, jurnalis, lembaga pengawas, pemerintah, dan penerima manfaat program.
Dari Pengawasan Anggaran ke Keadilan Layanan
HAPSARI melihat bahwa pengawasan publik tidak boleh berhenti pada dokumen anggaran atau prosedur pengadaan. Yang lebih penting adalah memastikan bahwa anggaran dan program publik benar-benar memberi manfaat bagi warga, terutama perempuan, anak, keluarga miskin, kelompok rentan, dan komunitas yang sering tidak terdengar dalam proses kebijakan.
Karena itu, isu anti korupsi bagi HAPSARI selalu terhubung dengan pertanyaan keadilan:
apakah warga memperoleh informasi yang cukup;
apakah perempuan dan kelompok rentan dilibatkan dalam proses pemantauan;
apakah layanan publik benar-benar sampai kepada penerima manfaat;
apakah program pemerintah menjawab kebutuhan nyata komunitas;
apakah ada ruang aman bagi warga untuk menyampaikan temuan dan pengalaman mereka.
Peran Perempuan dan Kaum Muda
Kelas Anti Korupsi juga membuka ruang bagi perempuan dan kaum muda untuk terlibat dalam pengawasan sosial. Mereka belajar membaca persoalan publik, memahami risiko korupsi dalam program layanan dasar, mendokumentasikan pengalaman warga, dan membangun dialog dengan pihak terkait.
Bagi HAPSARI, keterlibatan perempuan dan kaum muda penting karena mereka sering berada paling dekat dengan dampak kebijakan: di rumah tangga, sekolah, posyandu, layanan kesehatan, desa, dan komunitas. Dengan pengetahuan yang tepat, mereka dapat menjadi penggerak akuntabilitas publik yang berakar pada pengalaman warga.
Arah Pengembangan
Saat ini, Kelas Anti Korupsi merupakan arsip pembelajaran sekaligus rekam jejak HAPSARI dalam isu transparansi, pengawasan sosial, dan akuntabilitas publik.
Ke depan, HAPSARI terbuka untuk mengembangkan kembali kerja-kerja pendidikan warga dan pemantauan publik bersama mitra, jaringan masyarakat sipil, lembaga pendidikan, pemerintah, media, maupun organisasi yang memiliki perhatian pada tata kelola yang bersih, partisipatif, dan berpihak pada warga.
Bagi HAPSARI, anti korupsi bukan hanya soal menghukum pelaku. Anti korupsi juga berarti memastikan warga memiliki hak untuk tahu, hak untuk bertanya, hak untuk mengawasi, dan hak untuk menikmati layanan publik yang adil.
