Beranda Dinamika Gerakan

Representasi Gerakan Perempuan Basis

166
BERBAGI

Fase demi FaseFederasiHapsari: Kita sudah selesai membahas konsep membangun gerakan perempuan basis yang kita lakukan bertahun-tahun ini. Tiga fase kita bangun, kita lalui ; “perempuan berbicara”, “perempuan berorganisasi” dan “perempuan berpolitik”. Kini kita sampai pada fase berikutnya : “membangun representasi” gerakan perempuan basis.

Ini adalah konsep lanjutan yang harus kita maknai sendiri dan secara konsisten kita hayati dalam pikiran dan tindakan. Selama ini, representasi didefenisikan sebagai konsep politik dalam sistim demokrasi : keterwakilan atau mewakili dari seseorang terhadap sesuatu gagasan. Misalnya;  “dewan perwakilan rakyat” adalah konsep yang mewakili gagasan sebuah sistim politik yang demokratis. Atau, “perempuan basis dan perempuan akar rumput” adalah konsep yang mewakili gagasan tentang keberadaan perempuan desa, perempuan biasa yang terpinggirkan dalam berbagai aspek kehidupan sosial, budaya, ekonomi dan politik.

Representasi seperti apa yang kita maksud ?

Kita bisa mempelajari defenisi, arti kata atau bahkan konsep tentang representasi ini. Tapi yang kita maksud dengan representasi, bukan sekedar keterwakilan atau mewakili. Representasi adalah ; konsep dan strategi, ketika kita menyatakan komitmen menjalankan visi, misi dan tujuan didirikannya HAPSARI.

Baca Pasal 2 dan 3 Anggaran Dasar HAPSARI berikut ini :

 

Pasal 2 Visi dan Misi
  1. Visi[1] HAPSARI adalah : Terwujudnya masyarakat yang adil dan sejahtera tanpa ada penindasan antara perempuan dan laki-laki dengan memberikan penghargaan yang sama terhadap hak-hak yang dimiliki oleh perempuan dan laki-laki.
  2. Misi[2] HAPSARI adalah :

2.1. Melakukan penumbuhan dan penguatan gerakan perempuan, sebagai bagian dari gerakan rakyat untuk melakukan perubahan sosial budaya dan politik yang berkeadilan di Indonesia.

2.2. Menumbuhkan dan menguatkan kepemimpinan politik perempuan lokal, sebagai bagian dari kekuatan politik perempuan nasional.

2.3. Melakukan berbagai upaya untuk menghapuskan kekerasan dan ketidak adilan terhadap perempuan baik yang dialami oleh anggota khususnya dan perempuan umumnya.

Pasal 3 Tujuan
Tujuan didirikannya HAPSARI adalah ;Memperkuat dan memperluas gerakan perempuan basis di Indonesia sehingga dapat menyadari dan memperjuangkan hak-haknya di bidang sosial, budaya, politik dan ekonomi.

Dalam ruang lingkup mandat visi, misi dan tujuan itulah, kita semua “merepresentasikan” HAPSARI sebagai organisasi gerakan perempuan basis (tujuan didirikannya HAPSARI). Membangun dan memperkuat representasi adalah fase selanjutnya yang tidak bisa ditolak.

Memaknai Representasi dalam Pengetahuan dan Penghayatan

Representasi yang kita maksud adalah :

  • sebuah cara[3] kita memaknai dan menggambarkan sebuah gagasan, konsep dan ide-ide gerakan yang kita yakini harus diperjuangkan.

Sedangkan gagasan (konsep dan ide-ide) yang kita yakini untuk diperjuangkan adalah : gerakan perempuan basis untuk pembebasan dari ketertindasan dan ketidak adilan.

Maka, representasi adalah cara kita memaknai (mewujudkan makna) yang diberikan pada konsep dan ide “gerakan perempuan basis untuk pembebasan dari ketertindasan dan ketidak adilan” itu. Makna yang diwujudkan dalam cara berfikir dan bentuk tindakan yang membedakannya dengan orang atau kelompok lain yang tidak sedang merepresentasikan gerakan perempuan basis yang kita maksud.

Representasi yang kita bangun adalah bentuk peran aktif dan kreatif kita memaknai gerakan yang membedakan kita dengan orang atau kelompok lain:

  • tidak boleh ada gap antara konsep dan ide yang hendak dimaknai (direpresentasikan), dengan representasi dan arti pemikiran tindakan yang digambarkan!

Jika representasi yang kita bangun ini berhasil, maka gambaran situasinya adalah : tumbuhnya budaya organisasi yang merepresentasikan konsep dan ide kita. Ini menyangkut cara berfikir dan bertindak bersama, disebut budaya yang sama. Seseorang dikatakan berasal dari kebudayaan yang sama jika manusia-manusia yang ada disitu membagi pengalaman yang sama, membagi kode-kode kebudayaan yang sama, berbicara dalam ‘bahasa’ yang sama, dan saling berbagi konsep-konsep yang sama.

Bagaimana kita membangun Representasi ini?

Pertanyaan “bagaimana” ini membawa implikasi pada “strategi pelaksanaan konsep”. Representasi mengingatkan kita pada politik representasi. Perhatikan bagaimana  media misalnya, memberikan kita citraan tertentu pada dunia, tentang politik, politisi atau partai politik. Yaitu ;

  • suatu cara menggambarkan sebuah kelompok tertentu sehingga kita seakan sampai pada pengertian tentang  bagaimana kelompok tersebut  mengalami dunianya,  bagaimana kelompok tersebut bisa dipahami dan bahkan bagaimana mereka bisa diterima oleh kelompok lainnya.  

Maka kitapun harus seperti itu. Bagaimana itu ?

 Mari kita rumuskan bersama….***(lz)



[1] Cita-cita ideal yang diimpikan

[2] Tugas/kewajiban yang harus dilaksanakan organisasi (HAPSARI)

[3] Di sini berlaku strategi-strategi membangun representasi

Komentar Via Facebook

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here