Beranda Kisah Kami

Setelah Menikah 3 Kali

71
BERBAGI

Ini kisah tentang Nenek Suminem. Perempuan 72 tahun yang biasa dipanggil Nenek Bolot, karena menyandang difabel, “Tuna Rungu”. Suminem sudah menikah 3 kali. Sebagai gadis cantik tuna rungu, ternyata Suminem tidak mempunyai pilihan, dengan siapa harus menikah. Ia hamil pada umur 14 tahun dan terpaksa harus menikah. Setelah melahirkan seorang anak perempuan, ia ditinggal pergi oleh suaminya dan anaknya dibawa pergi. Suminem tidak berdaya… 

Setelah tiga tahun menjanda, Suminem menikah lagi dengan suami kedua yang juga memberinya 1 orang anak perempuan. Seperti pernikahan pertamanya, ia merasa hanya dibutuhkan untuk memenuhi hasrat seksual dan kemudian hamil, lalu melahirkan. Setelah anak pertamanya lahir, ia kembali ditinggal pergi suaminya.

Suminem sudah menikah untuk yang ketiga kalinya. Ia belum bercerai, namun tidak tinggal bersama dengan suaminya. Ia baru menyadari, bahwa sejak awal pernikahannya, suaminya tidak pernah memberinya uang belanja sama-sekali. Ia hanya dibutuhkan untuk memenuhi hasrat seksual dan mengurus semua kebutuhan suaminya. Baginya, itu tidak adil. Ia harus mencari nafkah lahir dan bathin, untuk suaminya, sedangkan suaminya hanya bermalas-malasan. “Aku sudah terlalu lelah, hidupku sudah terlalu pahit,” katanya. Itu sebabnya, ia memilih hidup terpisah dari suaminya.

Kini, Suminem tinggal bersama dua cucu laki-laki yang sudah besar-besar, tidak sekolah dan tidak begitu peduli padanya. Untuk memenuhi kebutuhan hidup bersama 2 cucunya, Nek Suminem bekerja mencari lidi dari daun kelapa sawit, yang ia jual setelah dibersihkan. Setiap 3 (tiga) hari, rata-rata Nek Suminem menghasilkan 20 Kg Sapu Lidi yang telah dibersihkan, dengan harga jual 1.200 rupiah per kilogram. Sehingga dalam sebulan, ia dapat menghasilkan sekitar 240 – 250 ribu rupiah.

Ia berangkat dari sekitar jam 09.00 pagi dari rumah dan pulang pada jam 14.00 wib. Di rumah, ia sendirian membersihkan daun-daun kelapa sawit itu, untuk dijadikan lidi dan kemudian di jual. Begitulah keseharian perempuan lansia ini, yang sehari-hari dipanggil “Nek Bolot”. Ia menjalani hidupnya dengan ikhlas, dengan apa adanya. Nyaris tidak pernah mengeluh. Baginya, lebih baik sendiri, daripada sepenuhnya “hanya mengabdi untuk laki-laki”. Toh, pada akhirnya kita sendiri-sendiri….katanya lagi.

Apa yang kami lakukan untuk perempuan seperti Nek Suminem adalah, menghubungkannya dengan program-program layanan social di tingkat desa, atau orang-orang yang peduli untuk memberi santunan.***

Komentar Via Facebook

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here