Beranda Dinamika Gerakan

Semakin Besar, Semakin Belajar

159
BERBAGI

By : Bukik

Bukik Setiawan
Bukik Setiawan

Banyak yang tidak menyangka, organisasi perempuan HAPSARI, yang awalnya hanya ada di Sumatera Utara berkembang meluas. Beberapa waktu terakhir, HAPSARI meluas hingga ke Jogjakarta, Jawa Tengah bahkan Kalimantan Timur. Perkembangan ini bukan sekedar perluasan wilayah semata, perkembangan yang menuntut untuk terus belajar.

Dengan penuh keharuan karena tidak pernah membayangkan sebelumnya, aktivis Hapsari mengikuti kongres nasional pertama mereka di Jogjakarta, setelah tiga kali kongres sebelumnya di Sumatera Utara. Kongres nasional ini melahirkan beberapa perubahan peraturan termasuk strategi dan program strategisnya. Tapi yang lebih menarik adalah perubahan nyata yang dirasakan oleh para aktivisnya.

Bayangkan aktivis perempuan dari akar rumput yang selama ini bermain di lingkup lokal, sekarang harus siap bermain di lingkup nasional. Grogi adalah perasaan umum yang mereka rasakan. Tapi yang patut diacungi jempol adalah semangat belajar mereka, meski grogi tapi tetap berusaha percaya diri. Grogi tapi sama sekali tidak minder ketika berhadapan dengan tokoh nasional.

Perubahan mendasar yang terjadi adalah cara pandang dalam memperjuangkan tujuan. Semula aksi mereka lebih banyak didominasi dengan aksi massa dengan cara pandang “menekan lawan”. Sekarang mereka mengadopsi lobby dengan cara pandang “memperluas perkawanan”. Ini adalah perubahan besar karena mengangkut perubahan cara berpikir. Mereka berusaha keras menyingkirkan pikiran “negatif” tentang birokrasi dan perilaku pemerintah yang tak simpatik.

Perubahan cara pandang ini berdampak pada perubahan perilaku. “Kami harus berlatih bicara yang “sopan”, berpakaian yang “berwibawa” dan tentunya menambah pengetahuan seputar birokrasi kita yang repot itu,” kata Lely, Ketua HAPSARI.

Sementara untuk mengatasi grogi dan ketidakmampuan bicara di depan umum, mereka menggunakan media teater untuk bersuara. Sejak tahun 1999 sampai sekarang, teater menjadi media yang efektif untuk menyuarakan masalah-masalah yang dihadapi oleh perempuan seperti hambatan kebebasan berorganinasi, kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan yang dialami buruh perempuan di perkebunan, istri-istri nelayan yang suaminya meninggal ditabrak pukat harimau, kesulitan ekonomi, dll. Hapsari sudah lebih 50 kali mementaskan pertunjukan teater, mulai dari halaman rumah penduduk, balai desa, kantor perusahaan perkebunan, taman budaya, sampai ke gedung pertunjukan teater di Utan Kayu Jakarta.

Menariknya, karena tak ada satupun anggota Hapsari berjenis kelamin laki-laki, maka mereka memerankan sendiri menjadi laki-laki, menjadi suami, kepala desa, mandor perkebunan, camat, sampai menjadi dewan perwakilan, ketika melakukan aksi di halaman gedung DPR-D. Hanya untuk bersuara dan supaya suara mereka didengar.

HAPSARI juga menggunakan radio komunitas sebagai media kampanye untuk isu pemenuhan hak-hak perempuan, sejak tahun 1995. Tapi radio itu dibreidel tahun 1998 menjelang reformasi, karena tak memiliki izin siaran. Tak menyerah, tahun 1999 – 2007 pernah menggunakan 10 stasiun radio swasta di 10 kabupaten untuk mengkampanyekan hak-hak politik perempuan, dalam bentuk pemutaran jingle iklan dan talkshow yang memperoleh 500 lembar surat tanggapan dari pendengar dan telah didokumentasikan dalam tiga judul buku. Seperti mendapat hadiah ulang tahun (diusia ke-19) akhirnya mimpi HAPSARI memiliki stasiun radio sendiri terwujud. Radio Komunitas Perempuan HAPSARI_fm telah berdiri dengan izin resmi. Dari radio komunitas ini, semakin banyak kader-kader perempuan HAPSARI yang mempunyai kesempatan berlatih bicara untuk menyuarakan kepentingan kaum perempuan.

Semua program HAPSARI sekarang disosialisasikan melalui audiensi ke dinas/instansi terkait. Meski tanpa target tertulis, HAPSARI mengupayakan adanya semacam surat rekomendasi dari pemda/dinas instansi terkait untuk program-program kami. Rekomendasi ini memungkinkan HAPSARI untuk terus berkomunikasi dengan instansi tersebut dan keberadaan organisasi serta pengurus HAPSARI terus diingat dan dikenal pemda.

Tips menarik dalam melakukan lobi yang patut dipelajari adalah HAPSARI menugaskan orang yang khusus bertugas membuka jalan dan melakukan lobi. Setelah akses terbuka, barulah penguru lain yang masuk. Tips ini mereka lakukan karena tidak semua orang cukup sabar dan mau melakukan komunikasi dengan keruwetan birokrasi. Pengurus yang vokal justru ditempatkan sebagai “Tokoh yang disegani di HAPSARI” yang ketika disebut saja namanya sudah bisa memudahkan proses lobi.

Perubahan-perubahan yang dilakukan oleh Hapsari ini dikemudian hari bertemu dengan penjelasan yang pas dengan materi Workshop Advokasi Kreatif. Dalam workshop tersebut, pengurus Hapsari merasa perubahan selama ini memang sudah tepat. Lebih dari itu, pengayaan materi workshop semakin memperkaya pilihan aksi dan strategi dalam melakukan advokasi nasib para perempuan.

aksi massa di masa lalu
aksi massa yang biasa dilakukan HAPSARI

Saat ini HAPSARI terus berbenah, terus berkembang, terus belajar, agar predikat organisasi nasional tidak menjadi beban tapi justru menjadi sebuah alat perjuangan. Menjadi besar tidak membuat jumawa. Menjadi besar justru menjadi rendah hati untuk terus belajar memperjuangkan aspirasi perempuan.***

Komentar Via Facebook

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here