Beranda Kisah Kami

Ibunda

179
BERBAGI

Ibundaku meninggal dunia bulan Oktober tahun 1986, ketika itu aku kelas 3 SMP. Namanya Misnah. Tidak ada satu lembarpun photo peninggalan Bunda untuk kenang-kenangan. Tapi aku sangat ingat dengan jelas wajah Bunda, ingat sekali! Sayangnya aku tak mampu membuat lukisannya. Banyak kenangan yang tersimpan bersama wajah Bunda yang masih dapat kukenang itu.

Aku ingat sekali hangatnya pelukan Bunda, ini kurasakan ketika aku sakit. Dan aku ingat bahwa sewaktu kecil, aku sering kali sakit perut, seriiing…..kali. Biasanya, kalau aku sakit perut, maka Bunda menggendongku pake kain, lalu dibawa ke mendiang Nek Sadikem, untuk dipijet. Biasanya memang baik. Kadang-kadang malah sewaktu didalam gendongan Bunda saja sakitnya udah baik, tapi biar digendong berlama-lama, ya aku nggak bilang kalau perutku sudah nggak sakit. Rumah Nek Sadikem nggak terlalu jauh dari rumahku, sekitar 1 kilo meter saja. Sekarang baru aku sadar, betapa merepotkan Bunda aku waktu itu.

Kenangan lain yang tersimpan dalam benakku adalah tentang hari-hari Ibunda yang seluruhnya habis untuk mengurus sembilan orang anaknya dan mengurus keluarga, termasuk Ayahandaku, seorang Ustadz yang cukup di hormati, tetapi bekerjanya merantau meninggalkan rumah.

Ibundaku meninggal tanpa terlebih dulu tergeletak sakit. Akulah anak satu-satunya yang mengetahui persis saat-saat Ibunda menghadap ke pangkuan Tuhan. Tapi sesungguhnya Ibunda punya penyakit yang mengharuskan beliau secara rutin berobat ke seorang Bidan di Desa kami, mendiang Ibu Alispan. Biasanya Bunda berobat pada hari Senin, karena hanya pada hari itulah Puskesdes buka. Meski tidak selalu punya uang, Bunda tetap dilayani, karena Bu Alispan orangnya sungguh baik hati. Kata Bu Alispan, Bunda lemah jantung. Katanya lagi, itu disebabkan pengaruh KB (alat kontrasepsi) yang dipakai Bunda, suntik, yang sebetulnya tidak cocok untuk Bunda. Tapi waktu itu tidak ada pilihan lain barangkali dan masalah penangangan untuk gagal KB tidak semudah sekarang. Ya, seingatku, Bunda mengandung anak ke-sembilan atau adik adik bungsuku, pada saat Bunda sedang ber-KB.

Sepanjang hidupnya, Bunda tak pernah keluar rumah, kecuali : kalau lebaran, sesekali kami rombongan sekeluarga menjenguk nenek. Kalau hari Senin pergi ke pekan (Pasar Desa) untuk belanja dan sekalian berobat di Puskesdes. Atau, pergi undangan di sekitar Desa, kalau ada pesta kawinan atau sunatan. Cuma untuk itulah Bunda keluar rumah. Selebihnya hanya di rumah saja.

Keadaan ekonomi keluarga kami pas-pasan. Aku ingat sekali, hafal sekali bahwa baju yang dipakai Bunda sehari-hari tidak lebih dari lima buah dan satu diantaranya terbilang bagus, kebaya panjang warna abu-abu. Itulah baju kebanggaan Bunda yang selalu dipakainya kalau lebaran, atau pergi ke pesta kawinan atau sunatan di desa. Bawahannya Bunda pakai sarung.

Kalau Ayahanda pulang dari rantau (biasanya sebulan sekali), aku sering mengetahui Bunda membuatkan teh, mengaduknya dengan sendok, padahal tidak ada gulanya. Nanti, kalau teh itu sudah diminum Ayahanda, barulah Ayahanda taau bahwa di rumah tidak ada gula, barulah beliau memberi uang pada Bunda dan salah satu dari anaknya yang di rumah pergi ke kedai (warung). Bunda tak pernah mau minta uang dari Ayahanda, ia menunggu diberi.

Yang kuingat lagi, kalau Bunda dan Ayahanda bertengkar, Bunda selalu hanya menangis. Ayahanda selalu menutup pembicaraan dengan kalimat : “kalau kamu minta dipulangkan ke rumah orangtuamu, aku akan antarkan,” dan Bunda tak dapat berbuat apa-apa. Biasanya, kalau bertengkar mereka menggunakan “bahasa ibu”, tapi aku tau maksudnya. Sedangkan dengan kami anak-anaknya, mereka berbahasa indonesia.

Seandainya ada orang yang berhak menagih semua yang kumiliki saat ini ; maka orang itu adalah Ibundaku. Kebahagiaan yang kumiliki sekarang, adalah karena jasa besar Ibunda.

Ya Allah…lapangkanlah kuburan Bundaku, terimalah ia dengan nyaman dan bahagia di sisiMu. Ampunilah semua dosa-dosa dan kesalahannya. Amin.***

Komentar Via Facebook

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here