Beranda Kisah Kami

Dua Pernikahan

88
BERBAGI

Ini kisah tentang Mak Sugi. Namanya Sugiati, perempuan, ibu rumah tangga 33 tahun yang sudah dua kali menjanda. Dari pernikahan pertama Sugi memiliki 2 orang anak (1 perempuan dan 1 laki-laki)

Sugi menikah pada umur 21 tahun, dengan laki-laki pilihannya sendiri. Setelah menikah dan punya anak, Sugi pindah dan tinggal di Siak, Pekanbaru.  Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari Sugi ikut bekerja membantu suaminya menjadi buruh harian lepas.

Ternyata, perkawinan dan kehidupan berumah tangga, tidak seindah impian seorang Sugi.

Setelah menikah, suaminya berubah, suka berjudi dan narkoba, sehingga membuat Sugi merasa ngeri. Apalagi ketika suaminya sering melakukan kekerasan terhadap anak-anaknya. Bersikap kasar, kerap memaki, hingga memukul, seperti bukan anaknya sendiri.

Meski suaminya tetap sayang padanya, Sugi tidak mungkin membiarkan anaknya menjadi korban kekerasan ayahnya sendiri. Berkali-kali Sugi membicarakan hal ini, namun suaminya tidak peduli.

Sugi akhirnya memutuskan bercerai dan pulang ke rumah orang tuanya. Suaminya tetap tidak peduli…dan membiarkan ia pulang bersama anaknya, tanpa diberi uang.

Sugi hanya mampu membeli satu tiket untuk satu kursi tempat duduk dalam Bus dari Pekan Baru menuju Medan. Ia memangku kedua anaknya selama dalam perjalanan.

Setelah tinggal di rumah orang tuanya, Sugi bekerja apa saja membantu orangtuanya menafkahi kedua anaknya. Pelan-pelan, Sugi bangkit dari keterpurukan.

Hingga ia berkenalan dengan seorang laki-laki Duda beranak 2.

Laki-laki itu tampak begitu baik, rajin sholat, rajin bekerja serta menunjukkan rasa cinta dan sayang, baik kepada Sugi, maupun kedua anaknya.

Sugi pun jatuh cinta lagi.

Laki-laki itu, akhirnya melamar Sugi. Awalnya ditolak oleh orang tua Sugi. Namun Sugi memohon dan menyakinkan kedua orang tua nya, bahwa dia adalah laki-laki yang baik. Sugi ingin meneruskan kehidupan berumah tangga dengan teman hidup yang baru yang dipercayainya lebih baik dari suami sebelumnya.

Sugi bahkan membantu biaya pernikahan dengan menyerahkan uang 4 juta rupiah dan 4 goni beras pada calon suami barunya.

Begitulah, Sugi melalui hari-hari yang baru, bersama suami kedua dan 4 orang anaknya. 

Sayangnya, kebahagiaannya tidak berlangsung lama. Setelah menikah dan hidup bersama, sikap suaminya berubah. Suaminya pilih kasih dan tidak mau menerima kedua anaknya, sebagaimana janjinya semula.

Suaminya menginginkan kedua anaknya ke luar dari rumah, tinggal bersama orangtua Sugi, atau bersama Ayah kandungnya.

Suaminya bahkan jadi malas bekerja dan hanya mengharapkan uang dari Sugi yang sehari-hari bekerja sebagai Buruh Tani di ladang orang.

Hingga pada satu titik dimana semua Tabungan Sugi habis sudah… dan suaminya mulai marah-marah lalu mengusirnya dari rumah. Sugi tidak berdaya…

Dalam ketidak kesedihan yang mendalam, Sugi kembali tinggal dirumah orang tuanya dan memutuskan bercerai dari suami keduanya.

Sugi kembali membantu menggarap ladang milik orang tuanya, bertani, bertanam padi dan palawija. Ia juga menerima Jahitan baju, celana, gamis, dan lain-lain. Jahitannya cukup rapi dan pelanggannya cukup puas.

Walau upah nya tak seberapa, Sugi merasa hidupnya lebih tenang.

Kesendiriannya saat ini membuatnya lebih bahagia, dibanding hidup dalam dua kali perkawinan yang menyiksanya lahir dan bathin.

“Aku bahkan tidak bisa menangis lagi, air mataku sudah kering…” katanya.

Sugi tidak ingin lemah. Ia ikhlas membesarkan kedua anaknya sendirian. Ia bangkit lagi demi masa depan kedua anaknya dan orangtuanya.***

 

Komentar Via Facebook

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here